Rombongan Terakhir Korban PHK Menyeberang ke Merak

Editor: Koko Triarko

LAMPUNG – Sebanyak 78 orang penumpang pejalan kaki, empat di antaranya wanita, menjadi rombongan terakhir yang menyeberang ke Merak.

Ghalib, salah satu petugas dari balai pengelola transportasi darat (BPTD) wilayah VI Bengkulu-Lampung, mengatakan rombongan tersebut merupakan pekerja terkena pemutusan hubungan kerja (PHK) di Sumatra.

Berdasarkan catatan, sejumlah pekerja berasal dari wilayah Merangin, Jambi, Riau dan Muara Enim, Sumatra Selatan. Sebagian pekerja berasal dari sejumlah proyek pembuatan jalan tol Sumatra dan proyek pembangkit listrik tenaga air (PLTA), serta pembangunan jaringan saluran udara tegangan ekstra tinggi (SUTET) milik PLN. Surat jalan, surat terkena PHK dan bukti proyek selesai menjadi alasan untuk menyeberang.

Ghalib yang enggan diambil gambar menyebut semua dokumen telah diverifikasi. Dokumen paling penting, menurutnya adalah surat kesehatan yang telah dilakukan oleh perusahaan asal. Selain itu, dokumen telah diperiksa oleh tim gugus tugas di cek poin terakhir yang ada di pelabuhan Bakauheni. Rombongan terakhir calon penumpang hanya menjalani pemindaian suhu tubuh sebelum membeli tiket.

Captain Solikin, General Manager PT ASDP Indonesia Ferry cabang Bakauheni, saat ditemui Cendana News di gangway dermaga satu pelabuhan Bakauheni, Lampung Selatan, Sabtu (23/5/2020). -Foto: Henk Widi

“Petugas kesehatan dari Dinas Kesehatan terakhir bertugas hari ini usai rombongan terakhir calon penumpang asal Sumatra tidak ada lagi, pelayanan akan dihentikan untuk pejalan kaki karena pembelian tiket hanya untuk kendaraan angkutan barang,” terang Ghalib, saat ditemui Cendana News di loket pembelian tiket pelabuhan Bakauheni, Sabtu (24/5/2020).

Ghalib menyebut, 78 penumpang pejalan kaki tersebut merupakan penumpang dengan bus ALS, Handoyo. Selanjutnya usai proses verifikasi berkas, pemindaian suhu tubuh, penyemprotan disinfektan dan cuci tangan, ketua rombongan diperkenankan membeli tiket. Pembelian tiket menggunakan uang elektronik memakai sistem offline, dilayani oleh petugas setelah ada izin (clearance) dari kepolisian dan dinas kesehatan. Sesudah pembelian tiket, seluruh penumpang diarahkan naik ke kapal Mufidah.

Anto, salah satu calon penumpang asal Muara Enim, mengatakan proyek SUTET dikerjakan oleh sekitar 30 orang asal Sukabumi. Sebagian rombongan calon penumpang kapal yang menunggu KMP Mufidah, berasal dari proyek yang berbeda. Rombongan mengaku harus membayar ratusan ribu untuk tiba di Bakauheni.

“Kami harus mengeluarkan biaya yang banyak agar kendaraan bus bisa lolos pemeriksaan, belum termasuk cek kesehatan,” terang Anto.

Prosedur pemeriksaan yang ketat selama masa pandemi Coronavirus Disease (Covid-19), membuat sejumlah akses masuk Lampung diperiksa.

Ia menyebut, kendaraan bus antar kota antar provinsi (AKAP) melintas melalui jalan tol trans Sumatra. Berangkat sejak Kamis (21/5/2020), rombongan tiba di Bakauheni pada Sabtu (22/5/2020) pagi. Berangkat malam hari menjadi cara untuk lolos dari sejumlah cek poin.

Sesampainya di Bakauheni, Anto harus menyerahkan surat keterangan sehat. Dalam surat keterangan sehat tersebut, tercantum belum ada rapid test, swab sebagai tanda bebas Covid-19. Protokol kesehatan diterapkan dengan memakai masker, cuci tangan dan memakai hand sanitizer. Sesampainya di tempat tujuan, ia tetap harus melapor ke aparat desa.

“Perjalanan menuju kampung halaman nanti akan dijemput bus dan dipastikan malam takbiran di jalan,” terangnya.

Ia mengaku lebih beruntung dari rekan lainnya sesama pekerja asal Sumatra. Sebab, sebelumnya sesama pekerja yang telah pulang saat akan melintas menuju Merak harus menjalani rapid test untuk mendapat surat bebas Covid-19.

Rapid test dikenai biaya Rp250.000 hingga Rp300.000 harus dikeluarkan oleh sejumlah pekerja yang akan menyeberang. Namun sebagai rombongan terakhir, ia hanya diminta surat kesehatan dan cek suhu tubuh.

General Manager PT ASDP Indonesia Ferry cabang Bakauheni, Captain Solikin, menyebut pelayanan kapal tetap normal. Sebanyak 17 kapal disiagakan untuk melayani rute pelabuhan Bakauheni menuju Merak. Normalnya sebanyak 33 kapal dioperaikan saat angkutan lebaran, namun imbas Covid-19 pelayanan hanya diperuntukkan bagi kendaraan logistik. Penjualan tiket dilayani secara online hanya untuk kendaraan angkutan barang.

“Penumpang pejalan kaki dominan merupakan pekerja terkena PHK dan datang rombongan, dan telah mendapat clearance dari posko gugus tugas Covid-19 dan telah diperiksa pada cek poin terakhir di Bakauheni,” bebernya.

Sesuai Surat Edaran Nomor 4 Tahun 2020 Tentang Kriteria Pembatasan Perjalanan Orang dalam Rangka Percepatan Penanganan Covid-19, penumpang harus memenuhi syarat. Sejumlah kriteria yang diwajibkan di antaranya surat izin dari perjalanan dinas, surat sehat bebas Covid-19. Sejumlah kriteria pengecualian atau orang yang boleh menyeberang harus memenuhi syarat yang ditentukan.

Lihat juga...