Sangga Buloh

CERPEN SARIFUDIN KOJEH

DI sebuah rumah sederhana beratap nipah. Berdinding nipah. Berlantai papan meranti. Menjelang petang. Duduk santai empat orang.

Di pojok rumah menjurus ke dapur. Duduk santai seorang perempuan tua. Asyik menganyam tikar dari daun pandan. Tangan perempuan tua itu telaten menjalin helai demi helai daun pandan. Jadi tikar. Tidak terpengaruh dengan tiga orang di ruang depan. Asyik bercengkerama.

Suaminya duduk bersila dengan santai. Berpakaian baju polos. Kenakan sarung. Menyeruput kopi dalam cawan. Sesekali mengunyah ubi jalar rebus. Diambil dari ladang di belakang rumah. Di samping suaminya, duduk Ghafur. Bersandar ke tiang dan dinding rumah. Di depan lelaki tua itu, Samin teman Ghafur.

Suami-istri ini hanya memiliki seorang anak. Saat ini tidak berada di rumah. Pergi merantau ke kota. Bertugas sebagai Akuntan. Pada waktu liburan saja anaknya pulang menjenguk mereka.

Kedatangan kami membuat mereka senang dan gembira. Apalagi Ghafur masih ada kaitan keluarga dengan orang tua itu. Mereka semakin tambah senang. Ghafur memanggil suami perempuan itu dengan sebutan Wak.

Karena, lelaki berumur lima puluh delapan tahun itu adalah abang tertua dari bapaknya. Kedatangan ke rumah Wak bertujuan untuk menginap. Selama bertugas sebagai penyuluh masyarakat.
***

“INI kampung orang, teman. Kita tidak boleh macam-macam. Jangan kau dekati dia! Bisa jadi dia adalah istri orang lain,” Ghafur mengingatkan Samin.

Samin membantah. “Tidak mungkin dia istri orang. Orang masih muda begitu. Jika dia istri orang, pasti sudah setengah umur. Ini masih kelihatan gadis remaja. Badannya masih segar.”

“Kau tidak tahu, teman. Di kampung, wanita muda banyak sudah menikah. Teman, jangan membuat suaminya marah!”

“Ah, kau ini mengganggu kesenanganku saja.”

“Aku tidak mengganggu kesenanganmu. Tetapi, sekadar mengingatkanmu agar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan. Ini kampung orang teman.”

“Sudahlah, Fur! Risiko yang terjadi nanti aku yang tanggung.”

“Jangan teman! Jangan kau mencari gara-gara di kampung orang!”

“Sudah, Fur!”

Samin tetap saja mendekati wanita itu. Nampak masih gadis. Si perempuan suka saja didekati olehnya. Mereka saling berkenalan. Akrab.

Saat mereka dalam senda gurau hangat. Tiba-tiba seorang lelaki menghampiri si wanita. Menyuruh pulang. Tetapi, perempuan yang terlihat masih gadis tidak mau.

Dia masih ingin menghabiskan malam bersama Samin. Si lelaki memaksa. Samin mencegah. Meminta kepada lelaki itu untuk tidak memaksa wanita yang didekatinya untuk pulang.

Dia mengira laki-laki tersebut adalah abang si gadis. Sehingga hampir terjadi perkelahian. Untung beberapa orang yang tidak jauh berada di situ, melerai.

Akhirnya, si wanita mengalah. Mengikuti kehendak orang yang menyuruhnya. Pulang. Samin kesal dalam hati. Karena, waktu untuk bersama si wanita terputus. Samin buta perasaan. Dia benar-benar jatuh cinta kepada wanita yang terlihat masih gadis tersebut. Walau sudah diperingatkan Ghafur dan orang-orang kampung.

Diam-diam mereka masih bertemu. Menjalin hubungan kasih terlarang. Sehingga menimbulkan sakit hati suami wanita cantik tersebut. Tidak memikir panjang. Sang suami menempuh jalan pintas. Dia kirim sangga buloh kepada Samin.

Waktu itu, Samin minum kopi di Warung Mak Uning Jelah. Tiba-tiba seekor lalat terbang menghampiri. Dia menepuk binatang terbang itu. Tapi tidak kena. Lalat pun terbang menjauh setelah menggigit tangan Samin.

Keganjilan pun terjadi. Samin kaget. Karena, darah menetes pelan-pelan dari pori-pori kulit. Tidak berhenti. Orang di situ maklum. Mereka pun mengantar pemuda itu pulang ke rumah Wak Dullah. Sampai di rumah tersebut, Ghafur menyambutnya. Kaget.

Ghafur bertanya kepada temannya, “Apa yang telah terjadi denganmu? Mengapa bisa terjadi seperti ini?”

Samin menuturkan. Mula-mula dia digigit semacam lalat terbang. Langsung digaruk bekas gigitan itu. Sehingga memunculkan darah meleleh. Ghafur memanggil Wak Perempuan yang berada di dapur. Wanita tua itu sangat kaget melihat darah mengalir di setiap pori-pori kulit teman Ghafur.

Muka Samin mulai pucat. Bergegas Wak Perempuan memanggil Wak Lelaki yang bekerja di ladang. Wak Perempuan melaporkan kejadian itu kepada suaminya. Orang tua itu pun menemui kami.

“Gawat…. Fur! Temanmu terkena sangga buloh,” kata Wak lirih.

Ghafur kaget mendengarkan Wak menyebutkan sangga buloh. Karena, sebelum ke kampung Wak, Ghafur sudah diingatkan bapaknya untuk hati-hati terutama dengan ilmu itu. Sangga buloh akan membunuh seseorang yang dikirim lewat binatang perantara atau angin. Tidak melalui makanan.

Karena, orang yang terkena ilmu tersebut darahnya terus keluar tiada henti dari seluruh pori-pori kulit yang ada. Sehingga orang tersebut kehabisan darah. Kalau sudah kehabisan darah, otomatis manusia akan kehabisan nyawa.

Hanya orang-orang kampung tersebut yang mengetahui penangkal sangga buloh. Itu pun sedikit nian orang-orang kampung memiliki ilmu penangkal sangga buloh.

“Jangan-jangan temanmu ada berbuat salah dengan orang di sini? Sehingga terjadi begini, Fur.”

“Bisa jadi, Wak. Aku sudah melarang tetapi dia bandel. Tidak mendengarkan nasihatku. Wak, tolonglah! Jangan sampai dia kehabisan darah! Lihat Wak! Dia sudah terlihat sangat pucat.”

Wak bekerja cekatan. Mulutnya komat-kamit. Suara menceracau. Orang tua itu membaca mantra penyembuh. Kemudian, dia menyuruh istrinya. Mengambilkan daun reribu. Wak Perempuan segera melakukan suruhan suaminya.

Tidak begitu lama di tangan Wak Lelaki sudah tergenggam erat segenggam daun reribu. Kemudian daun itu dilayur. Selanjutnya dilekatkan di setiap pori-pori darah mengalir. Sehingga darah-darah yang mengalir di setiap pori-pori kulit dihambat oleh daun reribu.

Hingga berhenti seketika. Tubuh Samin berangsur memerah, menyusutkan kebiruan. Berarti pengaruh racun sudah mulai berkurang.

“Wak hanya menolong sekali ini saja, Fur. Tetapi untuk kedua kali Wak tidak bisa melakukan lagi. Karena, itulah sumpah Wak kepada sang guru saat mendapatkan ilmu tersebut. Wak pesan kepada kalian: jangan sampai berurusan lagi dengan orang memiliki ilmu tersebut! Jangan berbuat yang tidak-tidak! Ikuti petuah orang tua, saat di kampung orang, bawalah sifat ayam betina, bukan ayam jantan.”

“Baiklah, Wak. Terima kasih sudah berikan pertolongan. Insya Allah, aku akan mengingatkan dia lebih sering lagi. Biar tidak berurusan dengan orang yang memiliki ilmu itu.”

Setelah mendapatkan pengobatan dari Wak Samin membaik. Darah yang memercik di pori-pori tubuhnya tidak keluar lagi. Muka pemuda itu sudah merah. Pertanda bahwa darah mengalir normal. Ghafur merasa lega.

Senang melihat keadaan temannya pulih seperti semula. Dia menyuruh Samin mengucapkan terima kasih kepada Wak. Telah menolongnya. Samin mengikuti.

Sejak peristiwa itu, tidak bosan-bosan Ghafur menasihati Samin. Temannya mau juga mengindahkan. Mulai mengurangi perjumpaan dengan perempuan itu. Apalagi menjalin hubungan tidak diinginkan dalam syariat masyarakat. Berlaku di kampung. Semoga kejadian fatal yang sudah dialami, tidak terulang lagi.
***

TIADA disangka Ghafur mesti pisah tugas dengan Samin. Sangat jauh jaraknya. Ibarat mata angin. Ghafur ke barat, Samin ke timur. Sebelum menuju ke tempat tugas, dinasihati temannya untuk baik-baik membawa diri. Jangan melakukan tindakan bodoh seperti dulu!

Samin pergi menuju Kampung Rambang Ulu. Tempat tugas barunya. Daerah terpencil. Pedalaman. Menurut informasi dari Wak jumlah penduduknya sedikit nian. Tujuh belas kepala keluarga.

Memang penduduknya membutuhkan pencerahan keagamaan. Saat memberikan pencerahan mesti berhati-hati. Walaupun itu dinilai baik. Mesti pandai gunakan bahasa.

Jangan sampai mereka tersinggung atau salah tafsir! Ujung-ujung jiwa melayang. Karena, di sana sangga buloh lebih hebat dari Kampung Ramin Ulu. Kiriman ilmu tersebut hanya melalui angin.
***

MESKIPUN  sesibuk apa pun, Ghafur masih mengontak Wak-nya. Menanyakan kabar Samin. Wak memberi tahu. Sudah tiga bulan menjelang dia tidak dapat kabar dari pemuda itu.

Ghafur gelisah. Tetapi berusaha menepis prasangka negatif. Munculkan pikiran positif. Semoga temannya dalam lindungan Allah. Kemudian setiap salat, dia tidak lupa selalu berdoa untuk keselamatan Samin, temannya.

Tujuh bulan berlalu tiada terasa. Ghafur pun dapat keluangan waktu dari pekerjaan. Mesti dimanfaatkannya semaksimal mungkin. Dia akan jenguk wak-nya dulu. Seterusnya dia akan berkunjung ke tempat Samin bertugas. Lepaskan rasa rindu persahabatan.

Pemuda bersahaja itu pun meluncur menuju kampung Wak. Setiba di sana, disambut dengan baik dan hangat oleh mereka. Dijamu masakan ala kampung. Memang kesenangannya. Lalap pucuk buas-buas, mayang mandi, ikan asin goreng, dan sambal tanpa terasi. Lahap nian makannya saat itu.
***

SETELAH tiga hari menginap di rumah Wak, Ghafur minta temani Wak mengunjungi Samin di Kampung Rambang Ulu. Wak bersedia.

Pagi-pagi mereka berangkat. Menggunakan motor kelotok milik Pak Randu. Kebetulan menuju ke kampung yang didiami Samin.

Pak Randu adalah orang yang sering membeli sembako untuk dijual di Kampung Rambang Ulu. Transit perjalanan di Kampung Ramin Ulu. Menggunakan mobil pick up membeli sembako ke kota.

Kemudian kembali lagi Kampung Ramin Ulu. Selanjutnya menggunakan motor kelotok, sembako dibawa dari Kampung Ramin Ulu ke Kampung Rambang Ulu.

Angin sejuk membelai tubuh. Ghafur duduk tenang di depan motor kelotok. Air tersibak digilas luan-nya. Membuat dia termenung. Pikiran melayang-layang. Membayangkan pertemuan dengan Samin. Gembira menyambut kedatangannya.

Mereka pun bisa bercerita tentang pengalaman masing-masing ketika dipisahkan tugas sebagai penyuluh masyarakat. Bekerja di tempat tugas yang berbeda.

Seketika Ghafur tersentak dari lamunan. Karena, motor kelotok berhenti. Rupanya, sudah sampai di tambatan motor kelotok atau dermaga Kampung Rambang Ulu.

Dia pun mengambil tas perbekalan. Wak juga sama. Telah menangking tas. Lalu mengucapkan terima kasih kepada Pak Randu. Pak Randu menjawab sama-sama.

Saat kami memasuki Kampung Rambang Ulu. Semua penduduk menyapa ramah kepada Wak. Berarti Wak sudah dikenal oleh mereka.

Wak berbicara dengan salah satu orang tua yang berpapasan dengan kami. Menanyakan tentang Samin. Si orang tua sedikit ragu mengutarakan hal itu. Tetapi secara berbisik-bisik dia menyampaikan kepada Wak untuk menemui Pak RT. Kemudian, dia mohon pamit dan berlalu dari hadapan kami. Ghafur sedikit menangkap keganjilan itu.

“Ada apa, Wak? Di mana Samin tinggal dan bagaimana keadaannya?” tanya pemuda bersahaja itu penasaran.

“Fur, kamu ikuti Wak!Jangan banyak bicara! Mari kita ke rumah Pak RT!” jawab Wak sembari melangkah menuju rumah Pak RT.

Membawa kegelisahan bersarang di pikirannya. Ghafur pun mengikuti langkah Wak-nya menuju rumah Pak RT. Tidak sampai sepuluh menit, kami sampai di rumah bertangga tiga. Paman Ghafur itu pun mendekat ke pintu sembari mengucapkan salam.

Suara pintu berderit. Terbuka. Seorang bapak bermuka lonjong. Berperawakan sedang. Berkumis tipis. Membuka pintu. Mempersilakan Wak masuk. Sepertinya mereka sudah saling kenal.

Pemuda bersahaja juga mengikuti Wak-nya dari belakang. Duduk santai tidak jauh dari mereka. Wak pun berbasa-basi dan beramah tamah dengan tuan rumah. Kemudian Wak menanyakan keberadaan Samin.

Saat mendengar pertanyaan itu ada sedikit perubahan di wajah si Bapak. Sebentar dia tersenyum. Menjawab pertanyaan.

“Samin sudah meninggal dunia karena sangga buloh.”

Mendengar itu, pemuda bersahaja pun tidak mampu membendung tetes bening matanya. Karena, merasa kehilangan seorang teman seperjuangan dalam tugas sebagai penyuluh masyarakat. ***

Bumi Lelabi Putih, April 2020

Catatan:

1. Sangga buloh nama lain dari racun angin. Sangga buloh adalah ilmu kiriman yang dilancarkan seseorang kepada orang lain dengan tujuan membunuh melalui perantaraan binatang atau angin. Orang yang terkena racun angin itu akan mengeluarkan darah dari setiap pori-pori tubuhnya sehingga kering dan mengakibatkan kematian.
2. Daun reribu dalam bahasa Indonesia dinamakan daun seribu. Daun seribu adalah salah satu tanaman yang sering digunakan untuk bahan obat beberapa penyakit.
3. Dilayur: sesuatu bisa berupa daun dan sejenisnya yang dihangatkan pada api tetapi tidak sampai matang, masak atau hangus.
4. Pucuk buas-buas adalah nama lain dari daun singkil. Daun singkil adalah tanaman yang berdaun lonjong, ujungnya runcing, dan berbau khas yang biasa digunakan masyarakat Melayu untuk memelihara kesehatan, sekaligus mengobati pusing dan sakit kepala.
5. Mayang mandi adalah umbut batang muda yang baru muncul sebelum menjadi batang dewasa dari tanaman nipah.
6. Luan: haluan, bagian perahu (kapal atau motor kelotok) yang sebelah muka atau depan.

Sarifudin Kojeh, guru Bahasa Indonesia yang mengajar di SMA 2 Seponti, Kabupaten Kayong Utara, Kalimantan Barat. Karya sastranya pernah dimuat di berbagai media massa seperti Pontianak Post dan lain-lain.

Redaksi menerima cerpen. Tema bebas tidak SARA. Cerpen yang dikirim orisinal, hanya dikirim ke Cendana News, belum pernah tayang di media lain baik cetak, online atau buku. Kirim karya ke editorcendana@gmail.com. Karya yang akan ditayangkan dikonfirmasi terlebih dahulu. Jika lebih dari sebulan sejak pengiriman tak ada kabar, dipersilakan dikirim ke media lain. Disediakan honorarium bagi karya yang ditayangkan.

Lihat juga...