Sepatu Pak Guru

CERPEN KAMALLUDIN AS

KUMIS dan janggutnya sudah gondrong. Tetapi ia malas mencukur. Karena ia memang sedang tidak bisa ke mana-mana dan tidak bisa ketemu siapa-siapa.

Sudah dua pekan ia di rumah saja dan sepertinya hari-harinya di rumah akan diperpanjang dua pekan lagi, sehingga genap satu bulan.

Bisa jadi setelah genap satu bulan, surat edaran dari dinas pendidikan dan pak gubernur turun lagi, isinya pemberitahuan agar tetap di rumah saja. Jadi, hari-hari di rumah seperti saat ini belum bisa diprediksi sampai kapan akan berakhir.

Ia tak menyangka, bahkan memimpikannya pun tidak, kalau makhluk kecil yang datang dari negeri jauh itu bisa sampai ke sini. Saat itu ia sedang sibuk mempersiapkan Ujian Negara bagi anak didiknya.

Sejak pagi, ia dan beberapa rekannya sibuk menata segala keperluan, seperti: menata ruang ujian, ruang transit pengawas, mengecek administrasi ujian, sampai perihal konsumsi selama masa Ujian Nasional.

Saat itu hari Sabtu. Lusa murid-muridnya akan mengikuti ujian negara. Minggu adalah hari tenang. Ia, rekan-rekan seprofesi, dan murid-muridnya bisa bersantai sejenak.

Ponsel bekas yang ia beli dari temannya sibuk berdering sejak sore. Ratusan pesan whastapp berjejalan. Terutama grup di tempatnya bekerja. Tapi, kepastian itu datang Minggu malam, selepas Isya.

Surat edaran dari Mas Menteri yang mengimbau agar ujian negara ditunda dan proses belajar mengajar diubah ke model daring atau pembelajaran online. Sejak saat itulah pak guru mulai jarang memakai sepatu ke sekolahan.

Sebelum datangnya makhluk kecil dari negeri jauh pun pak guru dan keluarganya sudah terbiasa hidup pas-pasan. Tapi, kini sudah genap sebulan pak guru tidak memakai sepatunya ke sekolahan, paling hanya sesekali ketika dapat jatah piket.

Pak guru tak tahu, apakah ia akan menerima gaji bulanan seperti biasa. Jika tidak ia harus mencari sumber penghasilan lain. Karena hanya dia dan seorang rekan lagi yang berstatus guru honorer di SD tempatnya mengabdi.

Sudah tiga kali pak guru ikut ujian CPNS, tapi selalu gagal. Bahkan tiga bulan silam ia juga baru saja mengikuti ujian yang serupa, ia berhasil melewati tes administrasi dan tes kompetensi dasar. Tapi, gagal dalam tes kompetensi lanjutan.

Oh! Ia tak berani membayangkan jika tahun ajaran baru nanti ada ASN yang ditugaskan di SD tempatnya mengabdi. Posisinya sebagai guru honorer tentu terancam.

Ketahanan pangan di tatanan keluarganya semakin tidak stabil. Kegiatan ekonomi terhenti di berbagai lini. Negara sedang dalam krisis ekomoni. Krisis itu juga menyapa pak guru.

Bahkan tidak hanya pak guru, semua orang terkena dampaknya. Tetangganya, yang sehari-hari sebagai tukang ojek online untuk sementara waktu juga harus rela gantung helm dan jaket kebanggaannya. Sepi orderan.

Menurut kabar yang beredar sudah sembilan ratus lebih pekerja yang dirumahkan oleh perusahan-perusahaan besar yang ada di kotanya. Jumlah itu mungkin akan masih terus bertambah jika makhluk kecil dari negeri yang jauh itu belum juga pergi.

Jalanan sepi. Seperti kota mati. Mal-mal memilih tutup karena lesu pengunjung, sebagian pekerjanya dirumahkan juga. Ruko-ruko dan gerai-gerai tak nampak ada geliat aktivitas. Hanya beberapa toko penjual kebutuhan pokok dan beberapa kedai makanan siap saji yang masih memberanikan diri buka.

Itu pun harus dibungkus dan dimakan di rumah. Peristiwa itu adalah imbas dari kebijakan negara yang mengharuskan rakyatnya untuk di rumah saja. Mengisolasi diri. Guna memutus penyebaran makhluk kecil yang datang dari negeri jauh itu.

Korban semakin banyak. Sampai ribuan. Pasien yang terpapar membludak. Penyebaran makhluk kecil itu sangat cepat. Rumah sakit-rumah sakit penuh. Para petugas medis kerepotan.

Bahkan sudah banyak yang tumbang. Negara membangun rumah sakit darurat. Rumah sakit khusus penyakit menular. Wisma atlet, asrama haji disulap jadi Rumah Sakit darurat dalam sekejap. Menampung pasien-pasien yang terlunta di rumah sakit induk.

Sejumlah bantuan mengalir datang. Tapi, masih saja belum cukup. Media-media cetak maupun elektronik menayangkan iklan layanan masyarakat, mengimbau. Negara membuat slogan: kami bekerja untuk kalian, kalian tetap di rumah untuk kami.

Pak guru ingin mentaati anjuran pemerintah, di rumah saja. Tapi, jika melihat anak dan istrinya ia seperti merasa miris. Keluarganya harus tetap makan. Selain itu, ada listrik yang harus dibayar, cicilan kontrakan yang juga harus tetap dilunasi.

Belum lagi, anaknya yang duduk di Sekolah Menengah Pertama butuh kuota lebih untuk menggarap tugas-tugas online dari gurunya dan biaya yang cukup banyak untuk melanjutkan SMA.
****
BERSAMA tetangga dekatnya, pak guru pergi memancing di rawa dekat rumahnya. Kegiatan itu ia lakukan hampir setiap pagi, sejak tiga pekan silam. Berangkat selepas Subuh, pulang saat matahari mulai tinggi.

Hasilnya tak tentu. Jika sedang beruntung bisa membawa sekeranjang ikan gabus. Tapi, tak jarang juga hanya berhasil membawa satu-dua ekor saja. Terkadang juga pulang dengan tangan kosong.

Sudah sebulan keluarganya makan lauk daun, ikan dan sambal seadanya. Di tengah lamunannya memancing, tetangga dekatnya itu membisikkan sebuah ide gelap.

“Kalau Pak Guru mau, nanti malam kita beraksi.”

Pak guru terdiam lama. Ia membatin. Ia malu nanti kalau tertangkap saat melakukan aksi gelapnya. Ia seorang guru. Apa kata orang-orang nanti.

“Tenang saja, tak akan ketahuan. Kita lakukan dengan rapi,” kawannya seperti tahu isi hati pak guru.

Tiba-tiba bayangan anak dan istrinya berkelebat. Pak guru ingin menolak rencana gelap itu. Tapi, bahasa tubuhnya malah seperti memberi jawaban “ok” pada orang itu. Pak guru berjanji pada dirinya sendiri, hanya sekali ini saja. Itu pun karena terpaksa. Ia tidak akan mengulanginya lagi.

Pak guru hanya memiliki sepasang sepatu pantofel yang lusuh. Warna hitamnya sudah agak pudar di bagian ujung jari-jari kakinya. Berkeriput. Bercak-bercak memutih. Tali sepatunya sudah rantas.

Sepasang sepatu itulah yang selalu ia kenakan untuk mengabdi, mengajar di Sekolah Dasar. Bahkan ketika harus merangkap mengajar mata pelajaran olah raga pak guru juga mengenakan sepatu yang sama. Pak guru sering merasa kerepotan saat harus memberi contoh cara berlari yang benar pada murid-muridnya.

Sepatu pantofelnya yang usang tentu terasa berat dipakai untuk berlari. Juga saat memberi contoh pada murid-muridnya lompat jauh. Kaki pak guru pasti terasa sakit dan lecet-lecet oleh sepatu bututnya itu.

Hingga pada suatu hari. Saat peringatan hari guru. Seorang murid yang perhatian memberikan sebuah kado kepada pak guru.

“Ini bisa Pak Guru pakai saat mengajar olah raga.” Bersama seorang kawannya, murid itu menyerahkan kado kepada pak guru di halaman sekolahan. Selepas upacara peringatan hari guru.

Sepasang sepatu kets berwarna biru kombinasi putih. Bermerek. Pak guru tersenyum haru saat membuka kado itu. Ia berucap terima kasih pada muridnya yang perhatian itu, juga kepada orang tuanya, pak guru nitip salam.

Murid yang perhatian itu membeli dengan uang tabungannya. Murid itu dari keluarga cukup mampu. Ia sering bercerita pada ibunya perihal pak guru yang kakinya lecet-lecet setelah mengajar mata pelajaran olah raga. Lantas ibunya memberi saran untuk mengirimi kado saat peringatan hari guru, sepasang sepatu kets.

“Berapa uang tabunganmu yang sudah terkumpul? Nanti ibu ikut nambahi.” Begitulah ibunya. Ia mengajarkan anaknya untuk berbagi. Ibunya juga menyarankan agar mengajak teman-teman satu kelasnya ikut berdonasi. Semampunya saja, yang penting bisa membantu. Dan akhirnya terbelilah sepatu kets berwarna biru kombinasi putih itu.
***
PAK guru sudah bersiap mengenakan sepatu itu. Sepatu kets warna biru kombinasi putih. Ia terkenang-kenang sejarah sepatu itu, pemberian dari muridnya yang perhatian.

Setelah lama tak bersepatu, malam ini pak guru kembali memakai sepatunya. Tapi bukan untuk mengajar di sekolahan. Sekolahan masih libur panjang. Apalagi di malam selarut ini. Lantas mau ke mana pak guru memakai sepatu di malam selarut ini?

Sepatu itu sudah dipakainya dengan sempurna. Tali sepatunya diikat kencang-kecang. Langkahnya sangat ringan. Tidak seperti ketika memakai pantofel tuanya. Tapi, ia masih mengenakan pantofel tua itu saat mengajar mapel Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti di dalam kelas.

Kini, pak guru sudah keluar lewat pintu belakang. Saat anak dan istrinya terlelap. Ia mengenakan pakaian serba hitam, juga penutup wajah berwarna hitam. Yang tampak hanya mulut dan kedua matanya. Ia menerobos belukar dalam kegelapan malam.

Menemui Somad, tetangga dekatnya yang membisikkan rencana gelap saat memancing bersama pada suatu pagi.  Mereka bertemu di kebun bambu. Dekat kuburan. Di bawah remang cahaya rembulan Somad menunjukkan selembar kertas pada pak guru.

“Begini rencananya.” Somad mengatur strategi penuh teliti.

“Kios Sembako Haji Kodir.” Somad mengacungkan jari telunjuk pada selembar kertas itu, mungkin maksudnya menunjukkan target lokasi untuk rencana gelapnya.

Dipimpin oleh Somad, dengan sigap mereka beraksi. Somad sudah lihai untuk urusan gelap semacam ini. Ia cukup berpengalaman. Terakhir masuk lapas karena menggelapkan sepeda motor. Kini, ia bebas sebelum waktunya karena negara sedang bingung mengurusi makhluk kecil yang datang dari negeri jauh.

Para napi dibebaskan sebelum waktunya. Untuk menekan penularan makhluk kecil itu. Sekarang, jika aksi somad gagal dan tertangkap warga, apakah ia akan kembali dijebloskan ke penjara. Pak guru bingung, hanya melongo, gemetar, dan berkeringat dingin melihat Somad dengan mudah membobol kios sembako Haji Kodir.

“Hei, Pak guru, ayo!” Somad menahan suara agar tidak terdengar oleh warga.

Hitungan menit, mereka berhasil mengemasi beberapa bahan pokok, barang-barang yang laku dijual kembali juga mereka ringkus. Di laci meja kasir masih tersisa beberapa lembar uang dan recehan, mereka sikat! Mungkin Haji Kodir lupa memberesinya sebelum menutup kios. Setelah merasa cukup, mereka mengendap keluar. Somad memberi aba-aba.

“Tahan dulu!” Tangan Somad menahan badan pak guru, kepalanya melongok keluar, celinguk kanan-kiri.

“Aman,” Somad memberi aba-aba kembali.

Mereka keluar dari kios. Berjalan cepat, langkahnya lebar-lebar, bahkan sedikit berlari. Melintasi jalan kampung. Mereka tak menyadari ternyata ada sepasang mata yang mengintai dari balik jendela. Sepasang mata kecil yang penuh perhatian.

Sepasang mata itu mungkin terjaga karena mimpi buruk atau terbangun karena hendak buang air kecil ke toilet. Sepasang mata itu menajamkan pandangan. Merasa mengenali sepasang sepatu berwarna biru kombinasi putih yang melintasi jalan kampung.

Warna birunya nampak bersinar di bawah temaram lampu penerang jalan. Sepasang sepatu biru itu. Ia penasaran. Ia juga seperti mengenal caranya berlari. Seperti ketika pak guru mencontohkan cara berlari yang benar. Anak itu benar-benar penasaran. Tapi, dua sosok gelap itu telah menghilang menerobos malam.

Anak yang penuh perhatian itu ingin sekali menceritakan yang ia lihat semalam kepada teman-teman sekelasnya. Tapi, ia bingung. Dan setelah berhasil mengumpulkan cukup keberanian, akhirnya ia hanya bercerita kepada ibunya.

“Husss… ngawur kamu, masak pak guru mencuri!” Sang ibu malah tidak percaya dengan cerita anaknya.

“Mungkin kamu mengigau atau bermimpi. Jangan menuduh jika tak ada bukti,” lanjut sang ibu.

“Kamu pernah cerita pada ibu kan, Nak. Soal pelajaran agama yang diajarkan pak guru. Apa kamu lupa?” Ibunya malah mengingatkan pelajaran Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti, tentang materi huznudzon —berbaik sangka yang diajarkan oleh pak guru.

Negara memang sedang kacau dan belum ada tanda-tanda kondisi akan membaik. Beberapa hari setelah peristiwa gelap itu pak guru mengalami susah tidur. Gelisah. Aksi gelapnya memang tidak tercium oleh warga.

Tapi, pak guru merasa selalu gelisah. Hingga pada suatu pagi pak guru memutuskan untuk mencukur kumis dan janggutnya. Setelah mandi ia mengenakan setelan celana dan kaus berkerah lengkap dengan sepatu biru kombinasi putih. Juga bertopi dan memakai masker.

“Mau ke mana, Pak?” tanya istrinya ketika pak guru berpamitan.

“Ikhtiar Bu, jadi juru parkir di mini market yang lokasinya lima ratus meter dari gang rumah kita.”

“Hati-hati, Pak,” istrinya melepas kepergian pak guru dengan sumringah karena telah mendapat pekerjaan baru di tengah pagebluk yang melanda negaranya.

Di minimarket anak yang penuh perhatian itu bertemu dengan pak guru ketika hendak membeli es krim. Pandangannya fokus pada sepasang sepatu pak guru. Ia teringat pesan ibunya, ‘berbaik sangka.’

Setelah mendapatkan es krim kesukaannya, ia memberi koin seribu rupiah pada pak guru atas jasa parkirnya, lalu berpamitan. Petang hari pak guru pulang ke rumah.

Selepas Magrib pak guru duduk di balai-balai teras rumahnya. Termenung. Negara sedang menghadapi ujian yang berat. Begitu juga dengan pak guru.

Pak guru kini memiliki beban moral yang teramat berat. Yang tak bisa ia ungkapkan kepada siapa pun. Meskipun kepada istrinya.  ***

Kamalludin AS, penyuka sastra. Beberapa puisi dan artikelnya pernah muncul di Radar Pekalongan dan Suara Merdeka.

Redaksi menerima cerpen. Tema bebas tidak SARA. Cerpen yang dikirim orisinal, hanya dikirim ke Cendana News, belum pernah tayang di media lain baik cetak, online atau buku. Kirim karya ke editorcendana@gmail.com. Karya yang akan ditayangkan dikonfirmasi terlebih dahulu. Jika lebih dari sebulan sejak pengiriman tak ada kabar, dipersilakan dikirim ke media lain. Disediakan honorarium bagi karya yang ditayangkan.

Lihat juga...