Siasati Pembatasan dengan Bersilaturahmi ‘Online’

Editor: Makmun Hidayat

JAKARTA — Berkembangnya teknologi komunikasi, dianggap menjadi solusi atas praktik Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) akibat merebaknya COVID 19, yang menyebabkan silaturahmi saat perayaan Lebaran tidak dapat dilakukan. 

Pengamat perhubungan, Okke Permadhi menyatakan bahwa aplikasi teknologi komunikasi tidak hanya berguna untuk urusan pekerjaan.

“Saat kondisi pembatasan seperti ini, teknologi sudah menjadi bagian dari hidup. Ya buat bekerja, ya buat pendidikan hingga silaturahmi, terutama saat Lebaran,” kata Okke saat dihubungi, Senin (25/5/2020).

Ia menyatakan bahwa dirinya juga termasuk salah satu yang tidak dapat kembali ke kota asal saat PSBB diberlakukan.

“Keluarga di Bandung, sementara saya tertahan di Jakarta. Hingga nanti pemerintah memutuskan untuk mengakhiri PSBB,” ujarnya lebih lanjut.

Pengamat perhubungan Okke Permadhi saat dihubungi, Senin (25/5/2020). Foto Ranny Supusepa

Saat Lebaran hari pertama, Okke menyatakan dirinya dan keluarga besarnya sepakat untuk menggunakan fasilitas Zoom untuk bersilahturahmi.

“Jadi di WAG keluarga, kita sebarkan link join meeting-nya. Alhamdulillah, semua bisa terhubung dan silaturahmi tetap terjaga,” tandasnya.

Selain aplikasi Zoom, lanjutnya, alternatif aplikasi yang pernah digunakan olehnya adalah Google Meet.

Hal senada juga disampaikan oleh seorang pengajar di SMA 5 Bandung, Gita Mangkoe.

“Alhamdulillah, dengan menggunakan Zoom, bisa bersilaturahmi dengan keluarga di Jakarta, Kuningan Jawa Barat dan Balikpapan. Karena biasanya, kalau Lebaran pasti ngumpul di Bandung, sekarang karena PSBB, akhirnya kita menggunakan zoom aja. Walaupun beberapa masih belum terbiasa, tapi tetap menyenangkan,” ujarnya saat dihubungi.

Pemerhati Islam M. Ramdlan Nurrohman memaparkan bahwa silaturahim berasal dari Bahasa Arab, yaitu dari kata shilah dan ar-rahim. 

“Kata shilah adalah bentuk mashdar dari kata washola-yashilu yang berarti ‘sampai, menyambung’. ar-Raghib al-Asfahani berkata, yaitu menyatunya beberapa hal, sebagian dengan yang lain (al-Mufradat fi Gharibil Qur-an, hal. 525). Adapun kata ar-rahim, Ibnu Manzhur rahimahullah berkata adalah hubungan kekerabatan, yang asalnya adalah tempat tumbuhnya janin di dalam perut (Lisanul ‘Arab). Jadi, silaturahim artinya adalah menyambung tali persaudaraan kepada kerabat yang memiliki hubungan nasab,” kata Ramdlan saat dihubungi terpisah.

Pemerhati Islam M. Ramdlan Nurrohman bersama istri, saat dihubungi Senin (25/5/2020). -Foto Ranny Supusepa

Adapun dengan penggunaan teknologi saat silaturahmi, lanjutnya, sebenarnya juga sudah dilakukan sebelum ada teknologi mutakhir yang bisa melakukan visual gambar dan suara secara real time. 

“Beberapa masa silam masyarakat sudah terbiasa dengan mengirimkan kartu pos, kartu lebaran, surat, atau saling berkirim makanan atau rantangan sebagai bagian dari upaya menjaga silaturahmi,” ujarnya.

Kemudian, muncul teknologi telepon dan perangkat yang bisa mengirim teks dalam format yang sederhana (SMS).

“Maka banyak orang memanfaatkan model ini untuk upaya yang niatnya sama seperti pada upaya awal,” ujarnya lagi.

Keunggulan penggunaan media berkirim kabar ini memiliki keunggulan dalam kapasitas kecepatan sampainya kabar dalam hitungan detik (real time). Karenanya, sangat disenangi oleh banyak kalangan.

“Seiring dengan perkembangan teknologi, maka saat ini orang-orang yang memiliki piranti terkini berupa gawai atau komputer dapat melakukan sambungan langsung dengan citra gambar dan suara secara multi user. Teleconfrence bukan menjadi hal yang sulit dilakukan,” paparnya.

Bahkan, lanjutnya, ada pengalaman baru yang dirasakan oleh penggunanya berupa kepuasan yang terwakili setelah melakukan komunikasi visual jarak jauh ini.

“Artinya, wujud dari keinginan untuk bisa mengunjungi dan ngobrol dapat diwakili walaupun terpisah jarak dan ruang. Upaya ini tentunya sebagai bagian baru dari cara untuk bisa bertemu dan menyebarkan salam di kalangan umat,” pungkasnya.

Lihat juga...