Sopir Logistik di Sikka Keluhkan Mahalnya Surat ‘Rapid Test’

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

MAUMERE – Puluhan sopir truk pengangkut logistik dari Kabupaten Sikka, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) melakukan protes dan mendatangi posko Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 mempertanyakan kasus yang dialami mereka.

Saat hendak mengantar barang ke Kabupaten Ende dan logistik yang akan dibawa ke pelabuhan untuk dibawa menggunakan ferry ke Surabaya, mereka tertahan di pintu perbatasan Kabupaten Ende di Kecamatan Watuneso.

“Hari ini kami mau antar barang ke Surabaya dan harus naik kapal ferry di Ende. Kami sudah urus surat jalan di Dinas Perhubungan dan Posko Covid Sikka,” sebut Agustinus, salah seorang sopir truk logistik saat ditemui di Posko Covid-19 Sikka, NTT, Jumat (22/5/2020).

Agustinus mengatakan, para sopir pun diberitahu oleh Tim Gugus Tugas Covid-19 Sikka diminta melampirkan surat rapid test  yang disyaratkan oleh Satgas Covid-19 Kabupaten Ende.

Beberapa sopir sudah tiba di perbatasan dan oleh petugas di Posko Covid perbatasan antara Kabupaten Sikka dan Ende di Kecamatan Watuneso diminta menunjukkan surat rapid test.

“Tadi pagi kita urus ambil darah di laboratorium Mahardhika dan bayar Rp75 ribu tapi tidak berlaku. Harus minta surat rapid test sehingga kami merasa keberatan,” jelasnya.

Untuk rapid test tutur Agustinus, setiap orang harus membayar lagi Rp450 ribu di laboratorium swasta sehingga para sopir mengaku keberatan karena tidak mempunyai uang.

Para sopir yang mau ambil barang di Ende dan ada yang antar barang ke Surabaya pun akhirnya datang mengadu ke Posko Covid dan meminta dilakukan rapid test namun Posko Covid-19 Sikka menolak.

“Surat rapid test juga hanya berlaku 14 hari. Sebulan kami dua kali bawa barang dari Surabaya pulang-pergi,” jelasnya.

Pemilik perusahaan pengangkut logistik, kata Agustinus, tidak mau membayar uang untuk biaya rapid test karena di Surabaya yang diberlakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), angkutan logistik tidak dibatasi.

Sementara itu, Juru Bicara Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Kabupaten Sikka, Petrus Herlemus, mengakui, pihaknya tidak bisa melakukan rapid test terhadap para sopir yang akan ke luar daerah membawa logistik.

Juru Bicara Gugus Tugas Covid-19 Kabupaten Sikka, NTT, Petrus Herlemus saat ditemui di Posko Covid-19 Sikka, Jumat (22/5/2020). Foto: Ebed de Rosary

Petrus menyebutkan, pihaknya hanya melakukan rapid test terhadap pelaku perjalanan dari luar daerah sementara sopir logistik hanya mengantongi surat keterangan sehat saja dari Gugus Tugas Covid-19.

“Apa yang dilakukan Gugus Tugas mengikuti petunjuk dan juknis dari atas. Saya tidak bisa mengambil keputusan di luar kewenangan saya, dan saya hanya mengurus pelaku perjalanan yang masuk ke wilayah kabupaten Sikka,” terangnya.

Petrus menambahkan, keluhan para sopir sudah disampaikan kepada Bupati Sikka dan keputusan tersebut ada di bupati, bila diminta untuk melakukan tes maka pihaknya melaksanakan.

Lihat juga...