Tamu Asing

CERPEN IIN FARLIANI

CAHAYA lilin menerangi meja makan bertaplak putih berenda. Wanita itu duduk di kursi utama, di bagian paling ujung meja dan ketiga anaknya yang masih bocah duduk mengelilinginya.

Mereka bersama-sama menikmati keheningan. Malam itu adalah malam perayaan mereka di meja makan. Tak ada piring, gelas, pisau, garpu, dan setumpuk perabotan lainnya yang biasanya ada ketika jam makan pagi, siang, dan malam mereka.

Hanya ada cahaya. Cahaya dari lilin yang besarnya seukuran lengan, berwarna putih, diletakkan di tengah meja, berkali-kali bergoyang dihembus angin.

Wanita itu memasang sikap siaga lalu memandang bergilir ketiga anaknya. Dari kiri ke kanan ada Elia si sulung yang rambutnya berkucir kuda, Erkos bocah laki-laki yang selalu memasang raut wajah masam, dan Emmi si bungsu yang selalu nampak akan menangis.

“Dia ada di luar!” kata wanita itu.

Suara sepatu bot yang berat terdengar mengetuk-ngetuk halaman diiringi erangan lemah dan sedikit teriakan gusar membuat siapa saja yang mendengarnya mendadak merinding di kesunyian malam itu. Suara yang terdengar sangat jelas dari jendela ruang makan itu.

“Apa Ayah akan menangkap kita?” kata Emmi. Suaranya terdengar hampir menangis.

“Dia bukan ayah kita, bodoh!” Suara Erkos setengah membentak membuat si wanita kontan saja mendekatkan satu jari di depan mulutnya sambil berkata, “Diam, Erkos.”

“Dia pernah menjadi ayah kita,” sahut Elia setengah berbisik. Ia menunjukkan sikap tenang yang terlihat seperti mengayomi kedua adiknya dan merasa perlu melakukannya terus menerus karena mempercayai itulah tugas lazim yang diemban anak sulung.

“Ayah tiri. Ayah tiri kita. Begitu lebih tepat.” Erkos berkata sangat yakin seolah ia baru saja membeberkan sebuah rahasia yang kebenarannya tidak dapat disangkal.

Kini, Emmi benar-benar menangis. Menangis tanpa suara. Tangisannya seperti kedatangan sesuatu yang tidak didahului oleh pemberitahuan atau pun tanda-tanda, mengalir begitu saja.

“Mengapa dia pernah menjadi ayah kita, Mom?” tanya Emmi sambil mendongakkan kepalanya.

“Mengapa dulu Mom mau menikah dengannya. Begitu lebih tepat!” Erkos berkata ketus.

Wanita itu mengangkat alisnya sambil membungkuk sedikit ke arah Erkos. “Aku akan menyuruhnya membawamu pergi, Erkos, kalau kau tidak juga menghentikan omong kosongmu.”

“Omong kosong?” tanya Erkos. “Baiklah, omong kosong!” Erkos menyandar lemah pada bantalan kursi dan membiarkan tubuhnya sedikit merosot. Ia nampak tenggelam dari balik punggung kursi yang tinggi itu.

Tiba-tiba terdengar suara jendela diketuk-ketuk. Wanita itu mendekatkan lagi jari telunjuknya di depan bibir, memberi isyarat pada ketiga bocah itu untuk tetap tenang.

“Buka pintunya! Aku hanya ingin mengambil barang-barang.” Suara parau seorang lelaki terdengar dari luar. Setelah itu, hening. Tapi, beberapa saat kemudian, jendela ruang makan itu kembali bergetar, diketuk-ketuk dari luar.

“Dia benar-benar mabuk,” kata wanita itu. “Benar-benar mabuk.” Wanita itu menggelengkan kepalanya.

“Buka pintunya!” Kali ini sebuah botol kaca terdengar berbenturan dengan jendela ruang makan.

Ketiga bocah itu serempak menutup telinga sambil menyipitkan mata dan melihat ke arah jendela. Ternyata, tidak ada kaca yang pecah! Laki-laki itu hanya menggertak.

Tapi, Elia dan Emmi mulai panik dan melihat ke arah si wanita dengan pandang mata memohon perlindungan.

“Dia akan menangkap kita!”

“Dia akan membawa kita pergi!”

“Mom akan ditinggalkan sendiri!”

Emmi menjerit. “Buka saja pintunya, Mom. Biar Ayah tidak mengamuk,” katanya yang segera disambut tatapan tidak setuju dari Elia.

Wanita itu mendengar setiap langkah lelaki itu. Ia tahu, laki-laki itu kini sedang berjalan mengitari rumah mereka sambil membawa botol kosong dalam genggaman. Laki-laki itu akan mengetuk setiap jendela, berusaha menarik pinggiran jendela yang tidak tertutup rapat sehingga ia dapat melompat masuk ke dalam.

Tak ada harapan lagi untuk masuk melalui pintu depan. Wanita itu telah memasang gerendel di pintu depan agar lelaki itu tidak bisa mendobrak masuk.

Lelaki itu tahu hal itu, jadi ia mengitari rumah itu sebanyak tiga putaran dan selalu mencoba menarik pinggiran jendela yang terkuak sedikit. Tapi, tak berhasil. Ia merasa pandangannya kabur.

Barangkali memang ada jendela yang terbuka sedikit, tapi luput dari pandangannya saat itu. Ia berputar lagi dan berhenti di depan jendela ruang makan. Ia menarik bagian tepi bawah jendela hingga menimbulkan derakan suara kayu yang khas.

Ketiga bocah itu terkejut setiap mendengarkan suara gesekan yang ditimbulkan dari tarikannya. Tapi, wanita itu tetap meminta mereka untuk tenang.

“Mengapa Mom pernah menikah dengannya!” gerutu Erkos yang seolah baru menyadari bahwa ibunya pernah menikah dengan laki-laki itu. Wajahnya kini menunjukkan sebuah kepedihan yang mendalam diikuti getaran bibir yang ditahan dan mata yang berkaca-kaca.

Erkos menyatakan semua kekacauan ini terjadi karena pilihan ibunya. Mereka tidak akan mengalami malam yang kacau ini jika dahulu ibunya tidak menikah dengan laki-laki itu.

“Tutup mulutmu, Erkos!” hardik Elia. Erkos seketika diam, tapi ia tidak menganggap hardikan itu sebagai peringatan yang mengancam. Tidak pula terdengar diucapkan demi melindungi perasaan ibunya. Ia tahu, kakaknya, Elia, mengucapkan itu semata-mata untuk membuat suasana menjadi lebih tenang sebab gadis itu juga memendam kepedihan yang sama.

Wanita itu menutup wajahnya. Ia membenamkan kedua telapak tangannya ke dalam rambutnya yang terjurai ke depan. Bahunya terguncang-guncang. Emmi mendekat ke arahnya dan berusaha memeluk pinggang wanita itu. Tapi, ia mendapati usahanya sia-sia. Tangannya yang mungil tidak cukup menjangkau lingkar pinggang ibunya yang lebar.

Ini semua di luar dugaan, pikir wanita itu. Laki-laki itu sudah beberapa bulan tidak pernah lagi pulang ke rumah dan si wanita mengira, laki-laki itu tidak akan pernah kembali lagi. Laki-laki itu pergi, di hari jumat malam.

Sejak saat itu, wanita itu memperoleh gagasan untuk merayakan kepergiannya di meja makan setiap jumat malam. Mengapa di meja makan? Karena, dahulu laki-laki itu selalu membuat keributan di meja makan. Mengapa tak ada makanan yang disajikan? Sebab, wanita itu berpikir merayakan kepergian seorang yang jahat tidak perlu dengan repot-repot menyajikan hidangan khusus.

Awalnya, ia merasa gagasan ini konyol. Ia hanya mendapatkan dukungan dari si sulung Elia untuk menjalankan rencananya. Erkos tidak tertarik, meski ia tidak pernah menolak secara tegas. Mungkin karena diam-diam ia masih menyimpan seperangkat robot mainan yang pernah diberikan laki-laki itu ketika ia berulang tahun yang kesembilan.

Ia hanya mengangkat bahu ketika didesak oleh Elia untuk menyatakan dukungannya. Tapi, pada akhirnya ia ikut duduk melingkari meja makan bersama ibunya, Elia, dan Emmi.

Wanita itu terkejut dari lamunannya. Sekonyong-konyong, pria itu kini berhasil masuk ke dalam rumah. Ketiga bocah itu berteriak melihat laki-laki itu berjalan dari belakang punggung ibu mereka. Ia masuk melalui jendela dapur!

“Awas, Mom!”

Wanita itu terkejut. Ia berbalik cepat karena berpikir laki-laki itu akan mencelakainya. Dalam keremangan cahaya lilin, ia menatap tajam ke arah sosok yang berdiri di sana. Oh, tidak. Bukan. Bukan dia. Bukan laki-laki itu.

Elia, Erkos, dan Emmi melompat dari kursi. Keterkejutan mereka belum habis, mengapa bukan ayah mereka yang datang? Apa yang ingin diperbuat laki-laki asing itu? Laki-laki itu menoleh sekilas ke arah si wanita dan berjalan menuju kamar.
Wanita itu terlihat tegang. Ia melihat laki-laki itu masuk ke dalam kamarnya.

Laki-laki itu mengeluarkan koper tua yang buruk rupa, bermotif bunga-bunga yang berwarna suram. Motif bunga yang tak dapat diterka jenisnya. Bau kapur barus menguar dari dalam koper ketika laki-laki itu membuka paksa ritsletingnya. Laki-laki itu sibuk menjejalkan barang-barang yang ia anggap dapat dibawa, seperti celana katun, beberapa potong kemeja, parfum gatsby, alat cukur, sabun mandi, dan jaket parasut.

Ia terburu-buru mengerjakan semuanya dan seolah tidak sabar menyelesaikannya pada saat itu juga. Semua barang yang ia masukkan berjejalan dengan amat kacau sehingga koper itu seperti sarat muatan dan ritsletingnya tidak dapat ditutup rapat. Laki-laki itu mendengar suara makian si wanita.

“Dengar! Besok aku akan kembali untuk mengambil barang-barang yang tak bisa kubawa malam ini. Sori. Tapi, sebenarnya aku tidak tahu apakah aku akan kembali besok. Kumohon jangan lagi mengunci pintunya.”

Laki-laki itu menoleh ke arah Erkos. Erkos membalas dengan tatapan tajam. “Tolonglah, Erkos. Kau tak perlu memandangiku seperti itu. Kalau aku kembali lagi, itulah kunjungan terakhirku. Aku datang karena ayahmu yang memintaku untuk membawa barang-barangnya ke markas kami.”

“Keluar kau, pemabuk!” kata wanita itu dingin.

Laki-laki itu tercengang. Jadi, inilah masalahnya, pikirnya. Ia mengangkat botol minumannya dan mengedarkan dengan satu tangan di hadapan si wanita, Elia, Erkos, dan Emmi. Ketiga bocah itu mengikuti gerakan tangan si laki-laki yang mengedarkan botol minumannya.

“Apakah botol ini menyakiti kalian?” Laki-laki itu menahan napas. Sesaat hening. Elia berpikir mungkin sebentar lagi botol itu akan melayang ke arah mereka. Mereka semua akan terluka. Terluka! Ya, Tuhan!

“Jangan bicara lagi! Bawa koper itu dan cepat pergi,” kata wanita itu.

“Mengapa kalian begitu percaya pada ibu kalian? Apakah ayah kalian pernah menyakiti? Maksudku, apakah ayah kalian pernah menyakiti kalian?” Laki-laki itu melihat ke arah Erkos. “Erkos, kata ayahmu kau yang paling cerdas. Katakan padaku apa yang kau maksud ‘tersakiti’? Apa yang kau pikirkan ketika mendengar kata itu?”

Erkos memandang takjub. Ia melihat ke arah ibunya. Sejenak terbayang sorot keraguan di matanya.

“Baiklah. Aku tidak akan macam-macam. Tapi, apa yang membuatmu tiba-tiba berubah, Erkos? Aku penasaran. Tapi, aku tidak akan berusaha mencari jawabannya. Jadi, selamat tinggal.”

Laki-laki itu menghilang dari balik pintu. Kemudian yang terdengar hanya suara sepatu botnya yang mengetuk-ngetuk di halaman rumah yang sepi itu.

Erkos tercenung. Ia mengingat pengalaman berlibur dengan ayahnya. Mereka pernah pergi ke kebun binatang. Melihat jerapah, badak, gajah, dan memberi makan burung kakaktua. Di kepalanya, ia mengulang-ulang kata itu. Tersakiti, ya tersakiti.

“Tersakiti” apa artinya? Ia melihat Elia dan Emmi yang kini merangkul ibunya. Wanita itu menangis. Tangisannya sama seperti Emmi, tanpa suara. Erkos terdiam sebentar memandangi mereka. Kemudian, ia bangkit dari tempatnya, bergabung bersama mereka. Dan melingkarkan pelukannya erat-erat. ***

Iin Farliani, penulis kelahiran Mataram, Lombok, 4 Mei 1997. Selain menekuni cerita pendek dan puisi, juga menulis sejumlah esai di sela-sela studi formalnya di bidang budidaya perairan Universitas Mataram. Karya-karyanya telah disiarkan di pelbagai surat kabar, jurnal dan situs online, serta termaktub dalam beberapa buku bunga rampai terpilih. Bergiat di Komunitas Akarpohon, Mataram, Lombok. Kumpulan cerita pendeknya berjudul Taman Itu Menghadap ke Laut (Akarpohon, 2019).

Redaksi menerima cerpen. Tema bebas tidak SARA. Cerpen yang dikirim orisinal, hanya dikirim ke Cendana News, belum pernah tayang di media lain baik cetak, online atau buku. Kirim karya ke editorcendana@gmail.com. Karya yang akan ditayangkan dikonfirmasi terlebih dahulu. Jika lebih dari sebulan sejak pengiriman tak ada kabar, dipersilakan dikirim ke media lain. Disediakan honorarium bagi karya yang ditayangkan.

Lihat juga...