Wantim MUI: Doa Solusi Masalah yang Bisa Menembus Langit

Editor: Makmun Hidayat

JAKARTA — Ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (Wantim MUI), Din Syamsuddin dalam tausiahnya mengatakan, kita menghadapi masalah kemanusiaan yang sejatinya adalah masalah moral, dan doa bersama ini adalah solusinya yang terus dipanjatkan kepada Allah SWT.

Din juga berharap doa yang dipanjatkan pada 10 hari terakhir bulan Ramadan 1441 Hijriyah ini dapat terkabul seiring pintu langit yang terbuka terhadap doa di bulan puasa yang penuh berkah ini.

“Doa adalah solusi masalah. Mudah-mudahan doa yang dipanjatkan menembus langit, terutama di bulan suci Ramadan, bulan penuh berkah dan kemuliaan. Kita memasuki 10 hari terakhir ini Ramadan 1441 Hijriyah, semoga Allah SWT mendengar doa-doa kita. Aamiin,” ucap Din saat menggelar doa bersama Wantim MUI bersama ulama Al Azhar Mesir yang digelar secara daring melalui aplikasi Zoom, pada Kamis (14/5/2020) sore.

Dalam tausiahnya, Din mengharapkan agar umat Islam tidak menjadikan berakhirnya ibadah pada bulan suci Ramadan ini sebagai akhir dari pergantian.

“Ibadah adalah jalan atau sarana bukan sebuah tujuan, termasuk berbagai amalan di bulan puasa yang penuh keberkahan. Maka, kami berharap umat Islam tidak menghentikan ketakwaan usai Ramadan ini berakhir,” imbuhnya.

Sehingga kembali Din mengajak umat Islam meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT. “Jangan sampai umat Islam jadi individu-individu yang gagal, karena tidak dapat mempertahankan kualitas ibadahnya selepas Ramadan ini. Tingkatkanlah ketakwaan pada Allah SWT,” tutupnya.

Harus Tetap Optimis

Wakil Ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (Watim MUI), Didin Hafidhuddin meminta agar umat Islam harus tetap optimis dan husnudzon saat menghadapi pandemi virus corona atau Covid-19.

Dalam tausyiah, Didin juga mengatakan,  dalam Alquran, Allah SWT menjelaskan bahwa musibah itu wujudnya ada dua hal. Pertama, bisa menjadi azab. Kedua, bisa menjadi rahmat. Disampaikan bahwa rahmat Allah lebih luas daripada azab-Nya.

“Ayat tersebut menggambarkan atau memberi petunjuk kepada kita semuanya, bahwa dalam menghadapi musibah seberat dan sekompleks apapun seperti pandemi Covid-19 ini tetap kita harus optimis dan yakin, serta husnudzon kepada Allah,” ucap Didin dalam tausyiahnya.

Guru Besar IPB ini mengingatkan, bahwa Allah SWT sedang memberikan pelajaran dan pendidikan kepada umat manusia di dunia. Peringatan itu yakni, supaya menjadi orang yang beriman, bertakwa dan rendah hati. Juga menjadi orang yang mengembalikan semua persoalan kepada ketentuan Allah SWT dan Rasul-Nya.

Didin mengharapkan doa bersama yang digelar pada hari ke-21 Ramadan atau hari pertama di sepuluh malam terakhir Ramadan 1441 hijriyah ini dikabulkan oleh Allah SWT.

“Semoga kita menjadi hamba-hamba yang bertakwa dan mendapatkan rahmat serta ridho Allah SWT dalam menjalani kehidupan di dunia ini. Aamiin,” tutupnya.

Doa bersama secara daring ini bertajuk ‘Selamat Indonesia Kita, Selamat Dunia Bersama’ menghadirkan Sekjen Komite Tinggi untuk Persaudaraan Kemanusiaan, Mohammad Abdul Al Salam, Duta Besar Mesir di Jakarta, Asyort Sulton, Wakil Wantim MUI, Didin Hafidhuddin, Imam Besar Masjid Istiqlal, Nasaruddin Umar, pimpinan MUI se-Indonesia, pimpinan pondok pasantren, dan tokoh agama lainnya.

Lihat juga...