Banyak Sekolah Swasta di Sikka Kesulitan Biaya Operasional

Editor: Koko Triarko

MAUMERE – Sejumlah sekolah swasta, baik jenjang Sekolah Dasar (SD) maupun Sekolah Manengah Pertama (SMP) di Kabupaten Sikka, Provinsi Nusa Tenggara Timur, mengalami kesulitan biaya operasional.

Kondisi ini membuat pihak yayasan selaku pemilik sekolah-sekolah tersebut, berkeinginan untuk menegerikan sekolahnya, agar bisa tetap hidup dan memiliki biaya operasional untuk membayar gaji guru dan memperbaiki fasilitas sekolah.

“Untuk sementara dua sekolah swasta yang meminta untuk statusnya menjadi sekolah negeri,” kata Mayella da Cunha, Kepala Dinas Pendidikan, Kepemudahaan dan Olah Raga Kabupaten Sikka, Kamis (18/6/2020).

Yell, sapaannya, mengatakan dua sekolah tersebut, yakni SMP Pemana dan SD Katolik Wolowajo di Kecamatan Tanawawo. Permintaan itu datang dari pengelola yang ingin menyerahkannya kepada pemerintah.

Kepala Dinas Pendidikan, Kepemudaan dan Olah Raga (PKO) Kabupaten Sikka, NTT, Mayella da Cunha, ditemui di kantornya, Kamis (18/6/2020). -Foto: Ebed de Rosary

Untuk itu, saat ini sedang diproses, di mana syaratnya harus menyerahkan seluruh asetnya, sehingga sudah mendapatkan persetujuan dari pemilik sekolah tersebut.

“Sedang dibuat pengalihan aset dari milik yayasan dan perorangan dialihkan menjadi aset pemerintah. Banyak sekolah swasta yang pengelolaannya tidak maksimal,” terangnya.

Saat ini, kata Yell, banyak sekolah swasta kekurangan guru dan masih mengharapkan guru negeri, sementara guru negeri terbatas. Selain itu, penerimaan Aparatur Sipil Negara (ASN) guru negeri juga terbatas.

Menurutnya, banyaknya sekolah swasta jenjang SD dan SMP di Kabupaten Sikka yang menegerikan, diharapkan bisa meningkatkan kualitas dan yang terpenting sekolah tidak tutup.

“Sudah ada komunikasi sejak dahulu dengan Yayasan Sanpukat sebagai pengelola sekolah Katolik dan baru satu SD saja yang diserahkan untuk dinegerikan. Kita juga lakukan evaluasi yayasan terkait kemampuannya,” terangnya.

Jumlah SMP swasta di Sikka, beber Yell, sebanyak 41 sekolah dari total 91 sekolah. Sedangkan jumlah SD sebanyak 334 sekolah, jelasnya, sementara 192 sekolah berstatus sekolah swasta.

Mudahnya pendirian sekolah, lanjutnya, disebabkan dahulunya belum ada sekolah negeri, terutama di desa-desa. Ini yang membuat yayasan Katolik banyak mendirikan sekolah di semua wilayah di Kabupaten Sikka.

“Regulasi pada zaman itu belum ketat dengan jumlah sekolah negeri juga, kurang dan penempatan guru negeri juga banyak di sekolah swasta. Saat ini sekolah negeri banyak, sehingga guru negeri yang mengajar di sekolah swasta harus ditarik,” sebutnya.

Mantan anggota DPRD Sikka, Yani Making, yang juga penguru komite SD Napunglangir di Kota Maumere, mengatakan penegerian sekolah swasta memang diperlukan agar sekolah tersebut bisa terus hidup melayani anak-anak di wilayah tersebut.

Yani berpesan, agar pemerintah lebih selektif dalam memberikan izin pendirian sekolah saat ini, untuk menghindari sekolah tersebut kesulitan operasional. Untuk itu, sarannya, perlu ada survei terkait jumlah siswa dan keuangan pengelolanya.

“Banyak sekolah swasta di desa kesulitan operasional, karena mengandalkan uang komite atau iuran dari orang tua murid. Ini yang membuat banyak sekolah terpaksa tidak beroperasional maksimal dan ada yang kekurangan murid,” tuturnya.

Lihat juga...