Budi Daya Sayuran Organik, Ketahanan Pangan di Tengah Pandemi Corona

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

SEMARANG – Bagi Yohanes Jehamu, keterbatasan lahan di wilayah perkotaan, tidak menjadi masalah untuk memulai budidaya sayur mayur organik. Warga kampung Berlian RT3/RW 5 Mangunharjo Tembalang Semarang tersebut, mampu menyulap lahan beton menjadi pertanian organik dengan polybag.

“Saat tinggal di Flores dahulu, saya seorang petani. Dulu juga pernah punya pengalaman bekerja di pertanian sayuran organik di Bandung. Jadi ketika ada lahan kosong, meski sudah di beton, bisa saya manfaatkan untuk menanam sayuran organik, dengan menggunakan polybag,” paparnya, saat ditemui di Semarang, Senin (29/6/2020).

Petani organik, Yohanes Jehamu dibantu istri, tengah menyiram beragam sayur mayur dan tanaman di lahan pertanian organik miliknya di kampung Berlian RT3/RW 5 Mangunharjo, Tembalang, Semarang, Senin (29/6/2020). Foto: Arixc Ardana

Ada beragam sayuran organik yang berhasil ditanamnya, mulai terong, kangkung, daun bawang, cabai hingga tomat. Selain itu, beragam tanaman empon-empon seperti temulawak, jahe, sertai serai, juga berhasil ditanam dengan sistem polybag.

“Budi daya tanaman sayuran organik ini, juga menjadi salah satu upaya mendukung ketahanan pangan dan program jogo tonggo di tengah pandemi Covid-19,” terangnya.

Diterangkan, sebagai pertanian organik, dirinya pun menggunakan pupuk dan pestisida alami, dalam merawat sayuran serta tanaman lainnya.

“Untuk media tanam, saya gunakan kotoran kambing, dedak atau bekatul, tanah serta sekam padi. Seluruhnya dicampur hingga rata, dengan perbandingan 1 banding 1, kemudian diisi dalam polybag,” jelasnya.

Sementara untuk pupuk, pria kelahiran Flores tahun 1959 ini, menggunakan sampah organik rumah tangga. Mulai dari sisa sayur, kulit buah, nasi basi serta sampah organik lainnya, dengan syarat tidak bercampur dengan minyak goreng.

Selain itu juga,  ada pupuk cair dengan campuran berupa batang pisang , lidah buaya, sabut kelapa, daun lamtoro, dan daun kaliandra. Semuanya dicacah hingga kecil-kecil, setelah itu direndam dengan ari bekas cucian beras.

“Baik pupuk kompos atau pun pupuk cair, semuanya diperam dulu selama 21 hari. Setelah proses pembusukkan sempurna, ditandai dengan bau yang menyengat, baru kemudian digunakan. Penggunaan pupuk organik ini, cocok untuk beragam sayur mayur atau tanaman lainnya, agar tumbuh subur,” jelasnya lagi.

Hasil pertanian organik tersebut itu juga disambut antusias oleh masyarakat sekitar. Banyak dari warga, yang membeli hasil panen sayur mayur dari pertanian organik milik Yohanes Jehamu.

“Saya jual hasil sayuran ini dengan harga terjangkau, di bawah harga pasar. Apalagi ini sayuran organik, sangat sehat untuk tubuh, sebab tanpa bahan kimia apa pun. Di satu sisi, saya juga ingin mengajak kepada para warga, untuk bisa memanfaatkan lahan di rumah dengan bertani organik. Untuk mencukupi sendiri kebutuhan pangan di tengah pandemi Covid-19 ini,” terangnya lagi.

Sementara, salah satu tetangga, Paulus Pangka mengaku hasil pertanian organik dengan menggunakan sistem polybag tersebut, tidak kalah dengan sayuran yang dijual di berbagai supermarket.

“Kualitasnya sama, bahkan bisa dibilang lebih bagus, karena ini organik. Harganya juga lebih terjangkau, selain itu lebih segar karena dipetik langsung dari kebun,” paparnya.

Sependapat dengan Yohanes, dirinya pun berharap pertanian organik dengan sistem polybag tersebut, dapat diajarkan kepada warga sehingga mampu mandiri dalam meningkatkan ketahanan pangan.

Lihat juga...