Dolar AS Jatuh karena Minat Risiko Meningkat

Ilustrasi - Dolar Amerika Serikat (Ant)

New York — Dolar AS jatuh ke level terendah 11 minggu terhadap sekeranjang mata uang utama lainnya pada akhir perdagangan Rabu (Kamis pagi WIB) di tengah optimisme bahwa penurunan ekonomi terburuk akibat penyebaran global virus corona sudah berakhir.

Wall Street melonjak dalam reli yang luas pada Rabu (3/6/2020), mengakhiri titik tertinggi sepanjang masa karena tanda-tanda pemulihan dari penutupan ekonomi untuk menahan penyebaran virus membantu investor mengabaikan kerusuhan sosial yang sedang berlangsung dan kesengsaraan pandemi.

Minat terhadap aset-aset berisiko yang meningkat telah mengurangi permintaan untuk greenback, yang diuntungkan dari pembelian safe haven ketika pasar bergejolak dan investor enggan untuk mengambil risiko.

“Momentum sepertinya sedang membaik sekarang. Kami pikir kemunduran luas dalam dolar AS menyajikan peluang pembelian yang menarik, tetapi mengakui mungkin masih ada ruang untuk pelemahan tambahan dalam waktu dekat,” kata analis di Wells Fargo dalam sebuah laporan pada Rabu (3/6/2020).

Indeks dolar AS yang mengukur greenback terhadap sekeranjang mata uang utama lainnya turun 0,32 persen menjadi 97,26 dan sempat jatuh ke serendah 97,18, terlemah sejak 12 Maret.

Data AS pada Rabu (3/6/2020) menunjukkan bahwa penggajian (payroll) swasta AS turun lebih sedikit dari yang diperkirakan pada Mei, menunjukkan PHK mereda ketika bisnis dibuka kembali, meskipun pemulihan ekonomi secara keseluruhan akibat pandemi COVID-19 akan lambat.

Aktivitas industri jasa-jasa AS juga bertolak dari level terendah 11 tahun pada Mei, meskipun bisnis tidak terburu-buru untuk mempekerjakan kembali pekerja saat mereka dibuka kembali.

Greenback menguat 0,22 persen terhadap yen Jepang menjadi 108,90 yen, setelah sebelumnya mencapai 108,98 yen, tertinggi sejak 9 April.

Dolar Australia yang telah menjadi salah satu unit berkinerja terbaik dari peningkatan selera risiko, menguat 0,49 persen menjadi 0,6928 dolar, setelah sebelumnya mencapai 0,6983 dolar, tertinggi sejak 3 Januari.

Euro menguat 0,65 persen menjadi 1,1242 dolar, setelah mencapai setinggi 1,1251 dolar, tertinggi sejak 12 Maret.

Investor fokus pada apakah Bank Sentral Eropa akan meningkatkan ukuran Program Pembelian Darurat Pandemi (PEPP) dari 750 miliar euro (531,5 miliar pound) ketika bertemu pada Kamis.

Data pada Rabu (3/6/2020) juga menunjukkan bahwa bisnis zona euro mengalami kontraksi menghancurkan dalam aktivitas pada Mei dan sementara ada tanda-tanda terburuk telah berakhir, bisa jadi berbulan-bulan sebelum ada pertumbuhan kembali.

Sterling juga menguat ke level tertinggi satu bulan meskipun risiko Brexit adalah penghambat utama pada mata uang. (Ant)

Lihat juga...