Edhy Sulap Lahan Singkong jadi Kebun Lombok

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

MAUMERE — Setengah hektare lahan miring di desa Koting B kecamatan Koting kabupaten Sikka provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) dipenuhi bedeng-bedeng lombok. Beraneka lombok dari yang sedang berbunga hingga berbuah memenuhi 52 bedeng yang ada, termasuk sayur kol bungkus yang sedang siap panen.

Petani holtikultura di Desa Koting B Kecamatan Koting Kabupaten Sikka, NTT, Edhy Hoere saat ditemui di kebunnya, Senin (2/6/2020). Foto : Ebed de Rosary

“Kalau bedeng pendek bisa tanam 30 pohon lombok, sementara yang panjang bisa 80 pohon. Panjang bedeng bisa 10 sampai 12 meter,” tutur Edhy Hoere, petani lombok desa Koting B ,kecamatan Koting, kabupaten Sikka, NTT, Senin (2/6/2020).

Edhy mengenang, awalnya tanah kosong ini dibersihkan lalu ditanami singkong dan jagung. Namun jagung hasilnya kurang, tetapi singkong hasilnya sangat bagus dan dipergunakan untuk makanan babi.

Saat menonton di televisi dirinya melihat harga lombok bisa mencapai Rp100 ribu per kilogram. Dirinya semakin tertarik ketika di desanya ada Sekolah lapang yang diadakan bagi petani di dekat rumahnya dimana tanaman tomatnya bagus.

“Saya akhirnya bertemu petugas PPL disana hampir setiap hari dan mengobrol. Saya semakin tertarik tetapi saya tidak mengatakan akan menanam lombok,” jelasnya.

Saat bertandang ke kantor desa kata Edhy, kepala desa mengatakan ada proyek bantuan bagi petani seluas 2 hektare.Kesempatan ini tidak disia-siakan dan menawari lahannya untuk dipergunakan.

Setelah dibajak, mantan pegawai dealer mobil ini pun membayar petani yang mengikuti sekolah lapang di desanya ntuk membuat bedeng. Setelah itu baru dilakukan penanaman lombok.

“Saya membuat lubang terus masukan pupuk organik dahulu. Setelah disemai baru ditanam di bedeng. Tanam awalnya bulan Desember 2019,” terangnya.

Dinas Pertanian provinsi membantu plastik musa dan pupuk organik serta bibit cabai sementara sisanya dibiayai Edhy sendiri seperti menyewa tenaga untuk membuat bedeng.

Untuk menarik air PDAM dari depan jalan ke kabunnya, dirinya merogoh kocek Rp5 juta sementara ongkos pembuatan bedeng Rp.7 juta. Setelah tanam 3 bulan sudah bisa panen hingga sampai setahun lebih kalau perawatan dan pemupukan bagus.

“Seminggu sekali dipanen dan sudah tiga kali saya panen. Kalau kapal dari Sulawesi masuk maka harga lombok turun tetapi harga stabil Rp.30 ribu sekilogramnya,” ucapnya.

Pedagang penampung biasanya datang membeli sendiri lombok di kebun Edhy sedangkan untuk memetiknya dia membayar orang dengan upah 10 persen.Kalau sudah bagus seminggu bisa 250 kilogram dan sebulan bisa dua kali panen.

Selama 8 bulan menurut perhitungannya, bisa menghasilkan Rp.80 juta bersih.Ada cabe hijau besar dan cabe keriting selain itu juga menanam kol bungkus dengan sistim tumpang sari.

“Harga bibitnya juga murah paling Rp.40 ribu sebungkusnya dan butuh 2 sampai 3 bungkus untuk lahan sekitar sehektar.Pekerja sebanyak 10 orang untuk tanam dan perawatan 2 orang,” jelasnya.

Lulusan D3 koperasi ini setelah berhenti bekerja sempat berdagang membeli hasil perkebunan tetapi itu pun tidak berhasil. Dirinya mulai refleksi, saat menanam mahoni ternyata hasilnya bagus sehingga ia memutuskan menjadi petani.

Ada petugas PPL juga ragu awalnya karena tanahnya tidak subur, lahan batu apung tetapi setelah berhasil mereka juga kaget. Edhy menggunakan alat perangkap lalat buah sebab sekeliling kebun lombok merupakan kebun mente, dan kakao milik petani lainnya.

“Sehari saja meninggalkan kebun lombok saya stres karena sudah menyatu.Saat awal mau mulai isteri tidak setuju karena tidak yakin saya bisa jadi petani,” jelasnya.

Edhy pun memberi tahu isteri tercinta, kalau tidak tanam lombok tiap hari ia kerjanya hanya nongkrong dan mabuk-mabukanAkhirnya isteri mengalah dan dia pun mulai tanam lombok.

Pas mau rawat dirinya meminta agar ada pekerja yang bantu tetapi isteri katakan masa mau siram saja harus pake karyawan.Dia mengajak isiteri ikut siram lombok.

Tapi baru beberapa bedeng sang isteri sudah mengeluh sakit pinggang sehingga akhirnya menyetujui Edhy untuk menggaji karyawan.Lomboknya harus disiran setiap pagi dan sore.

“Lagi diserang penyakit, daunnya keriting sehingga harus disemprot 3 sampai 4 kali sehari agar buahnya bagus. Saya sudah 3 kali panen dan hasilnya bagus,” ungkapnya.

Kepala desa Koting B Fransiskus Yamance M.Wolo mengatakan, Edhy tidak mengikuti sekolah lapang tetapi sangat bersemnagat untuk menanam lombok setelah melihat hasil dari sekolah lapang.

Fransiskus mengapresiasi semangat Edhy sebab menurutnya, apa yang dilakukan tersebut bisa memberikan contoh kepada anak-anak muda di desanya agar menggeluti pertanian.

“Tanah di wilayah kami ini subur tetapi hanya ditanam jagung dan singkong saja setahun sekali saat musim hujan lalu dibiarkan terlantar.Semoga dengan banyaknya warga yang mulai menanam lombok dan tomat masyarakat ikut menanam holtikultura,” harapnya.

Lihat juga...