Fasilitas Sekolah di Siberut Selatan Jauh dari Harapan

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

MENTAWAI – Sejumlah sekolah di Kabupaten Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat,  masih terkendala dengan minimnya fasilitas yang dimiliki oleh sekolah, terutama untuk jaringan internet. Persoalan ini, juga seiring masih termasuknya Mentawai sebagai daerah tertinggal di Sumatera Barat.

Kepala SMAN 1 Siberut Selatan, Mentawai, Kristin Filiana Br. Maringga, mengatakan, melihat untuk aset komputer yang tersedia di SMAN 1 Siberut saat ini, masih terbilang cukup, hanya saja tidak dilengkapi jaringan internet.

Hal ini bukan persoalan tidak disambungkannya jaringan internet, melainkan sulitnya mendapatkan akses internet tersebut.

Dikatakannya, melihat pada kebijakan pemerintah untuk Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) maka di sekolahnya itu, selama ini belum bisa untuk menerapkan UNBK, dan masih melakukan Ujian Nasional Berbasis Kertas atau ujian pada biasanya.

Untuk itu, mengingat SMA merupakan wewenang Pemprov Sumatera Barat, diharapkan ada solusi yang dapat diberikan oleh Pemprov Sumatera Barat, untuk kondisi pendidikan di Mentawai. Setidaknya bisa memenuhi keinginan pihak sekolah untuk bisa memiliki akses internet.

“Saya berharap pemerintah dapat memperhatikan kebutuhan pendidikan di Mentawai ini, termasuk bantuan fasilitas sekolah,” katanya, Kamis (4/6/2020).

Sementara itu, dalam kondisi wabah Covid-19 ini, di SMAN 1 Siberut Selatan, telah meliburkan semua siswa, karena khawatir akan kondisi tersebut dapat mengancam para siswa. Apalagi telah ada arahan dari pemerintah bahwa belajar di rumah, hal ini membuat pihak sekolah semakin meyakini untuk meliburkan para siswa.

“Saat ini sudah ada ditemukan kasus positif Covid-19, nah hal inilah yang perlu diwaspadai juga, supaya tidak menyebar luas dan mengancam para siswa,” sebutnya.

Sementara melihat ke SMKN 2 Siberut Selatan, Kepala Sekolah, Amati Telaumbanua, menyatakan, kendala soal kelengkapan sarana dan prasarana, termasuk akses jalan menuju ke sekolah, turut menjadi persoalan yang dihadapi bagi sekolah tersebut. Selama ini, para guru dan siswa hanya bisa melalui menggunakan kendaraan roda dua.

“Kalau di sini tidak hanya fasilitas yang minim, akses menuju sekolah juga tergolong kurang memadai. Selain jalan yang sempit, kondisi jalan juga memiliki tanjakan. Semoga hal ini ada perhatian dari pemerintah,” harapnya.

Belum lagi dari sisi keterbatasan fasilitas internet, juga dirasakan belasan siswa di SMKN 2 Siberut Selatan.

Menurut dia, sulitnya mengakses internet, membuat para siswa di sana, berbondong-bondong untuk pulang kampung. Karena pada umumnya di daerah Siberut SMA dan SMK adalah pelajar yang datang dari pulau-pulau kecil yang tidak memiliki sekolah setara dengan SMA dan SMK.

“Bicara pendidikan di Mentawai, memang masih banyak perlu diperbaiki lagi terutama di sisi fasilitas. Kalau semangat, seluruh siswa di sini sangat bagus semangat belajarnya,” ungkap dia.

Menanggapi kondisi seperti ini, Wakil Gubernur Sumatera Barat, Nasrul Abit, mengaku telah melihat langsung SMA dan SMK di Kepulauan Siberut, Kabupaten Kepulauan Mentawai, tersebut. Ia tidak membantah kondisi dan persoalan yang diungkapkan oleh para kepala sekolah tersebut.

“Memang keadaan pendidikan di Siberut Selatan masih sangat jauh dari harapan yang ditargetkan oleh Pemprov Sumatera Barat. Daerah di Mentawai merupakan daerah tertinggal di Sumatera Barat, kita akan bicarakan ini di tingkat provinsi, supaya ada langkah cepat,” ungkapnya.

Mirisnya lagi, ketika ada kebijakan belajar di rumah,  akses internet belum begitu baik di daerah Siberut ini, yang ada mungkin di daerah ibu kota Mentawai yakni Tua Pejat. Jarak Tua Pejat ke Siberut Selatan ini cukup jauh, harus naik kapal atau boat.

“Semua siswa dianjurkan untuk belajar melalui sistem daring. Tentunya sangat miris bagi  daerah pedalaman dan kepulauan. Kita harus carikan solusinya segera agar cepat berkembang,” kata dia.

Nasrul Abit mengungkapkan, bahkan, tidak semua guru dan siswa memiliki ponsel pintar dan tersentuh jaringan internet, khususnya yang berada di desa terpencil kepulauan. Tentunya membuat kegiatan belajar mengajar dari rumah tak bisa dijalankan secara efektif.

Dia menjelaskan, setelah dilakukan evaluasi metode pembelajaran daring di Siberut tersebut, hanya ada 10 persen, dan berarti hal tersebut belum optimal serta tidak efisien.

Intinya, keterbatasan teknologi dan akses internet menjadi masalah utama, dan hal ini akan segera dilakukan upaya percepatan, ketika Covid-19 tidak mengganggu aktivitas lagi.

Lihat juga...