Guru PLK Cerdas Anak Bangsa di Sikka Jarang Mengajar

Editor: Koko Triarko

MAUMERE – Kondisi pendidikan di Kampung Wairbukan, Desa Wairterang, Kecamatan Waigete, Kabupaten Sikka, Provinsi Nusa Tenggara Timur, tidak hanya memprihatinkan karena kondisi gedung sekolahnya yang sangat tidak layak, namun juga para gurunya yang jarang mengajar.

Jauhnya jarak antara kampung ini dengan pusat desa sekitar satu kilometer lebih, dan hanya bisa ditempuh dengan jalan kaki melintasi hutan lindung, membuat parah guru juga sering tidak mengajar.

“Kalau mau lihat kepala sekolah dan guru sama saja. Aturannya satu minggu 4 hari belajar, sehingga hari Senin sampai Kamis selanjutnya anak-anak libur,” sebut Ketua Komite PLK Cerdas Anak Bangsa Kampung Wairbukan, Kasianus Hieng, Minggu (28/6/2020).

Ketua Komite SD Pendidikan Layanan Khusus (PLK) Cerdas Anak Bangsa Kampung Wairbukan, Desa Wairterang, Kecamatan Waigete, Kabupaten Sikka, NTT, Kasianus Hieng, saat ditemui, Minggu (28/6/2020). -Foto: Ebed de Rosary

Kasianus mengatakan, kadang guru-guru juga tidak mengajar sehingga dia meminta kalau tidak mengajar, mereka meneleponnya menyampaikan agar dia meminta anak-anak untuk tidak ke sekolah.

Sebelum merebak Covid-19, sebutnya, 2 bulan tidak ada aktivitas belajar-mengajar di sekolah. Hal ini sangat disesalkan olehnya, sehingga sering membuat anak-anak tidak masuk sekolah.

“Namun saya bangga, karena anak saya sudah melanjutkan ke jenjang berikutnya, di mana satu orang kelas 3 SMK dan kelas 2 SMA, meskipun mereka pernah sekolah di sini,” ujarnya.

Kasianus mengaku, sekitar 50 persen anak-anak tidak tamat sekolah karena orang tua murid juga tidak peduli terhadap anak mereka. Selain itu, guru-guru juga jarang mengajar dan gedung sekolah juga tidak layak.

Kursi di sekolah ini, kata dia, merupakan bantuan dari mantan anggota DPRD NTT, Oswaldus, yang menyumbang 20 buah. Sementara sisanya merupakan  bantuan dari dana desa.

“Pihak yayasan hanya menyumbang meja beberapa saja dan sangat jarang datang ke sekolah ini.Yang sekolah disini sekitar 60 orang siswa mulai dari kelas 1 sampai kelas 6,“ jelasnya.

Sementara itu, Ketua RT. 17A RW. 006, Dusun Wodon, Desa Wairterang, Bernadus Brebo, mengatakan sebelum mewabahnya Covid-19, guru-guru pun jarang masuk sekolah dan mengajar, bahkan saat masuk pun hanya satu dua jam dan pulang.

Hal ini membuat anak-anak pun jarang masuk sekolah, bahkan semua anak didik di PLK Cerdas Anak Bangsa naik kelas meskipun tidak mengikuti ujian sama sekali.

“Guru-guru jarang mengajar, sehingga kondisi pendidikan di sini sangat memprihatinkan. Kondisi bangunan sekolah yang rusak ini karena tidak ada kerja sama antara ketua yayasan dengan orang tua murid,” tuturnya.

Ketua yayasan, sebut Bernadus, bekerja sebagai pendamping PKH sehingga tidak sibuk mengurus sekolah PLK ini lagi. Dia menyesalkan pengurus yayasan yang berjanji seminggu dua kali hadir di sekolah, tetapi hanya janji belaka.

“Sekolah ini, dia tidak campur tangan lagi sejak pindah ke sini. Padahal, dia janji satu minggu dua kali dia harus hadir, ternyata sampai detik ini dia tidak pernah hadir sama sekali,” sesalnya.

Lihat juga...