Ibu Tien Soeharto Rancang TMII Sarat Filosofi

Editor: Koko Triarko

JAKARTA – Mantan Manajer Tata Lingkungan Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Djoko Budiono, mengatakan, TMII tercipta dari ide dan gagasan visioner Ibu Negara Raden Ayu Fatimah Siti Hartinah atau Ibu Tien Soeharto.

“Ibu Tien Soeharto sebagai arsitek landscape otodidak, sangat luar biasa. Dengan ide visionernya, Ibu Tien Soeharto mampu memprakarsai cultural landscape atau lanskap budaya yang dituangkan dalam miniatur Indonesia bernama TMII,” ungkap Djoko kepada Cendana News, Rabu (24/6/2020).

Ia menjelaskan, Ibu Tien Soeharto membangun TMII, untuk menjaga persatuan dan kesatuan bangsa, dalam bingkai pelestarian khazanah budaya daerah yang beragam.

Kesemuaannya itu tertuang dalam tampilan setiap anjungan daerah yang menyajikan ragam budaya dan adat istiadat. Sejarah budaya bangsa juga disajikan di museum-museum TMII yang dibangun atas prakarsa ide cemerlang Ibu Tien Soeharto.

Seperti halnya Museum Komodo TMII, itu desainnya sangat unik menyerupai hewan Komodo, jenis reptil purba yang hidup di habitat aslinya di Nusa Tenggara Timur (NTT).

Mantan Manajer Tata Lingkungan Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Djoko Budiono, yang juga merupakan sesepuh TMII, saat ditemui di TMII, Jakarta, beberapa waktu lalu. -Foto: Sri Sugiarti

“Museum Komodo, ide Ibu Tien Soeharto, itu selalu spektakuler. Mana ada orang mikir Komodo gede, orang Indonesia dan di dunia juga nggak ada yang punya ide cemerlang seperti Beliau (Ibu Tien Soeharto), bangun museum yang desainnya persis Komodo,” ujar Djoko Budiono yang pernah menjabat Koordinator Museum TMII.

Bahkan, Djoko masih mengingat pesan Ibu Tien Soeharto kepada arsitek saat akan membangun museum tersebut.

Aku gaweake replika Komodo (aku buatkan replika Komodo), tapi segede umah (sebesar rumah) dalamnya bisa jadi museum,” ujar Djoko, menirukan ucapan Ibu Tien Soeharto, kala itu.

Museum Komodo ini bertema dunia satwa Indonesia dalam bentuk awetan. Museum yang dibangun di atas lahan seluas 10.120 meter persegi ini diresmikan oleh Presiden ke-2 RI, Jenderal Besar HM Soeharto pada 20 April 1978.

Contoh lainnya, Museum Asmat TMII yang berada di sudut tenggara Taman Bunga Keong Emas (TBKE) TMII berbatasan dengan danau  Dunia Air Tawar.

Museum Asmat ini dibangun atas gagasan Ibu Tien Soeharto untuk melestarikan karya anak bangsa, yakni keunikan seni ukir Asmat yang telah membius negara-negara laing.

Museum ini dibangun di lahan seluas 6.500 meter persegi dengan bentuk bangunan tradisional Irian atau Papua, yaitu Kariwari.

Kariwari adalah rumah adat orang Tobati Enggros di Teluk Jeotefa. Denah bangunan bersegi delapan, diberi model berkolong dan atas bangunan dari bahan GRC (Glass Reserfocis Cement) dicat berkesan daun rumbia.

Elemen bangunan diukirkan ragam hias khas Asmat dengan warna merah, putih, dan hitam. Perancang Museum Asmat TMII adalah Insinyur Franky Devule.

“Itu Museum Asmat, Ibu Tien Soeharto tarik pensil, lalu gambar desain. Sanggup ora telung wulan? (sanggup tidak tiga bulan?) Franky, telung wulan, yo!,” kata Djoko, menirukan ucapan Ibu Tien Soeharto, kala itu.

Dengan sigap, Franky menjalankan tugas tersebut membangun Museum Asmat TMII, dengan rancangan yang dituangkan sesuai ide cemerlang Ibu Tien Soeharto.

Pembangunan museum itu dilakukan dalam waktu 51 hari, terhitung dari tanggal 20 Februari 1986 hingga diresmikan pada 20 April 1986 oleh Presiden Soeharto.

Begitu pula dengan Taman Bunga Keong Emas (TBKE) TMII, adalah sarana rekreasi taman yang menampilkan pesona bunga dan tanaman hias yang indah, asri, dan nyaman sekaligus sebagai sumber ilmu pengetahuan dunia flora Indonesia.

Taman Bunga Keong Emas ini dibangun di atas lahan seluas 7 hektare yang terletak di belakang Teater Imax Keong Emas,  dan diresmikan oleh Presiden Soeharto pada 20 April 1986.

Filosofi dan konsep budi baik, ketabahan, kesetiaan, keberanian, serta cinta kasih yang tulus sebagaimana terkandung dalam legenda Keong Emas melandasi Taman Bunga Keong Emas.

Legenda ini mengisahkan cinta sejati antara Raden Panji Asmara Bangun dengan Dewi Sekartaji. Karena itu, di taman ini dibangun patung Keong Emas penjelmaan Dewi Sekartaji sebagai perlambang cinta sejati.

Taman ini dilengkapi berbagai informasi tentang arsitektur lanskap dalam bentuk percontohan susunan tanaman hias, khususnya tanaman berbunga yang berfungsi sebagai bagian dari taman perkotaan.

Di samping itu, taman bunga ini juga dilengkapi sarana prasarana yang menunjang pendidikan dan penelitian tumbuh-tumbuhan.

“Saking pengen terawatnya Taman Bunga Keong Emas, sampai Ibu Tien Soeharto meminta Ibu Sujatmiko (almarhumah) istri mantan Dubes Singapura, Pak Sujatmiko (almarhum), untuk merawat bunga-bunga khas Indonesia yang ada di taman itu,” ungkap Djoko Budiono, mantan Kepala Bagian Umum Taman Bunga Keong Emas TMII.

Kini, Taman Bunga Keong Emas itu sudah berubah nama menjadi Taman Legenda Keong Emas. Yakni, sebuah taman yang terhampar ragam wahana rekreasi bermain dan belajar. Dan, yang cukup terkenal adalah wahana petualangan dinosaurus.

“Taman Bunga Keong Emas itu sebentar lagi jadi heritage, tapi dirombak total. Taman itu imajiner Ibu Tien Soeharto, sekarang jadi Taman Legenda Keong Emas yang semata-mata untuk mencari provit. Padahal, untuk mencari provit itu barangnya jangan diutik-utik. Ibu Tien Soeharto saking pengen terawat itu bunga-bunganya sampai manggil Ibu Sujatmiko ahli tanaman,” ujar Djoko Budiono, sesepuh TMII  yang juga pernah menjabat Manajer Taman Bunga Keong Emas TMII.

Lebih lanjut dia menjelaskan, ide cemerlang Ibu Tien Soeharto lainnya adalah Monumen Persahabatan Negara  Non Blok.

Monumen ini diresmikan oleh Presiden Soeharto pada 1 September 1992, untuk mengenang semangat yang terkandung dalam Konferensi Tingkat Tinggi X Gerakan Non Blok.

Monumen ini berbentuk bola dunia yang disangga air mancur, dengan lima ekor burung merpati di tengahnya, melambangkan kebersamaan, perdamaian dan semangat negara-negara nonblok melaksanakan prinsip-prinsip dasar visi dan misi gerakan.

Keinginan untuk memelihara perdamaian dunia dilambangkan dengan taman yang menyerupai mata, mengacu pada semangat kehidupan, karena mata dianggap sebagai refleksi cita-cita dan pandangan gerakan nonblok melihat jauh ke depan.

Dalam monumen ini ditanam 108 pohon persahabatan dari berbagai jenis pohon yang dikenal di Negara asal penanamannya.

“Desain makronya, masterplannya mata. Dari mata kita berbicara dan mencerminkan apa yang ada di hati nurani kita. Itu filosofinya Ibu Tien Soeharto membuat monumen KTT Non Blok atau Monumen Persahabatan Negara Non Blok,” ujar Budi.

Arsitek Monumen Persahabatan Negara Non Blok ini adalah Franky Devule. “Monumen ini dibikin dalam waktu enam bulan, siang jadi malam, dan malam jadi malam, kerja shif,” ungkap Djoko Budiono, mantan staf ahli Direktur Utama TMII.

Terkait 108 pohon yang ditanam di area monumen itu, Djoko menjelaskan, adalah pohon-pohon yang hidup di negara-negara anggota nonblok, namun juga  bisa tumbuh di Indonesia.

“Mulai cari data tanaman yang hidup di negara-negara nonblok. Apakah tanaman itu juga tumbuh bagus di Indonesia. Jadi, nggak boleh bawa dari negaranya,” imbuhnya.

Karena, kata Djoko, Ibu Tien Soeharto meminta untuk mendata dan melaporkan jenis tanaman tersebut sebelum ditanam di area Monumen Persahabatan Negara nonblok.

“Kan Ibu Tien Soeharto berpesan cari pohon yang urip (hidup) di negara itu dan juga bisa urip di TMII. Kita kumpulin data dan laporkan pada Ibu Tien Soeharto, pohon ini bisa hidup di negara itu dan juga di Indonesia,” kata Djoko Budiono, mantan Manajer Tekhnik TMII.

Setelah ragam jenis pohon itu didapat, kemudian siap untuk ditanam di area monumen oleh masing-masing kepala negara anggota nonblok.

Penanaman pohon itu dilakukan saat  negara-negara nonblok meresmikan monumen itu. Saat itu pula, para kepala negara nonblok melihat keindahan pelestarian khazanah budaya Indonesia.

Dalam pengembangan TMII ke depan, Djoko berharap manajemen TMII dapat mengikuti manajemen modern dengan  bersifat transparan, egaliter, dan inklusif.

Lihat juga...