Investasi Budi Daya Udang di Sulteng Menjanjikan

Editor: Koko Triarko

Menteri KP, Edhy Prabowo, melakukan penebaran benur di kawasan budi daya udang modern milik PT. Esaputli Prakarsa Utama, di Desa Tomoli Selatan, Kecamatan Toribulu, Parigimoutong, (10/6/2020). Foto: M Amin

PARIGIMOUTONG – Menteri Kelautan Perikanan, Edhy Prabowo, optimis dalam lima tahun ke depan peningkatan ekspor udang vaname di wilayah Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, mencapai 250 persen. Hal tersebut terlihat dari perkembangan industri budi daya udang vaname  di wilayah setempat, dan sinergitas pemerintah pusat, daerah serta keterlibatan swasta.

“KKP selalu berupaya untuk mendorong investasi di bidang budi daya vaname dan serius melakukan percepatan optimalisasi lahan budi daya”, kata Menteri Edhy, usai melakukan penebaran benur di kawasan budi daya udang modern milik PT. Esaputli Prakarsa Utama, di Desa Tomoli Selatan, Kecamatan Toribulu, Parigimoutong, Rabu (10/6/2020).

Dikatakan, bahwa dukungan dari pihak swasta yang mulai melirik bisnis perudangan nasional menandakan adanya perbaikan iklim investasi di bidang ini. Imbasnya pun akan berdampak positif untuk mendongkrak pertumbuhan ekonomi. Karenanya, dia berharap momentum ini menjadi pemicu bagi masuknya investasi lainnya.

“Saya berharap ini juga jadi titik awal sebagai pemicu bagi masuknya investasi sejenis”, sambungnya.

Kendati mengapresiasi, Menteri Edhy mengingatkan agar pemerintah daerah dan swasta memfasilitasi masyarakat setempat untuk mendapatkan pelatihan budi daya udang. Ada pun pemerintah pusat, menyediakan akses pemodalan melalui kredit usaha rakyat (KUR) yang memiliki bunga 6 persen dan BLU-LPMKP dengan bunga 3 persen.

“Investasi juga harus ada dampak bagi pemberdayaan ekonomi masyarakat. Saya minta nanti ada pelatihan-pelatihan untuk mereka,” urainya.

Dalam kesempatan yang sama, Direktur Jenderal Perikanan Budi Daya, Slamet Soebjakto, memastikan investasi pada bisnis budi daya udang akan mulai terbuka, seiring dengan prospek perudangan nasional yang kian menjanjikan.

Menurutnya, budi daya udang sudah bukan lagi tergolong investasi high risk business (jenis usaha berisiko tinggi), karena semua risiko telah mampu diperhitungkan. Terlebih, teknologi budi daya sudah dikuasai sepenuhnya, infrastruktur juga sudah membaik, dan peluang yang pasar tinggi, keberpihakan regulasi serta adanya kemudahan akses yang lebih terjamin.

“Udang ini andalan ekspor, kita berharap menggeser India dan negara lain agar bisa mendominasi pangsa pasar udang dunia, dengan demikian devisa ekspor akan naik signifikan”, tegas Slamet.

Slamet juga membeberkan sejumlah upaya untuk mempercepat pengembangan kawasan budi daya udang berkelanjutan di tahun ini, antara lain pengembangan model tambak udang berkelanjutan di lima Kabupaten/Kota yakni Aceh Timur, Sukabumi, Sukamara, Buol, dan Lampung Selatan; pengembangan model tambak millenial dengan memberdayakan anak muda; pengembangan model tambak perhutanan sosial dengan melibatkan lintas sektoral; dan mendorong investor untuk mengembangkan usaha budidaya udang dengan pola kemitraan inti plasma.

“Tahun ini upaya-upaya tersebut akan mulai kita dorong, sehingga dalam lima tahun ke depan target peningkatan nilai ekspor 250 persen bisa tercapai”, terang Slamet.

Sebagai informasi, Sulawesi Tengah menjadi salah satu penghasil udang nasional. Data Kementerian Kelautan dan Perikanan mencatat selama kurun waktu lima tahun (2015 – 2019) produksi udang Sulawesi Tengah tumbuh signifikan, yakni rata-rata 71,69 persen per tahun. Pada 2019, tercatat angka sementara volume produksi udang di provinsi tersebut mencapai 16.574 ton.

Direktur Utama, PT. Esaputli Prakarsa Utama, Ahmad Bhakty Baramuli, menilai Kabupaten Parigimoutong memiliki potensi lahan yang besar untuk pengembangan budi daya udang. Saat ini, perusahaan mengelola total lahan seluas 15,5 ha terdiri 60 persen untuk kolam pembesaran, dan 40 persen untuk infrastruktur seperti IPAL dan lainnya.

Penerapan teknologi modern, yakni padat tebar tinggi dan efektivitas penggunaan IPAL menghasilkan produksi 36 ton per hektare.

Selain itu, penerapan teknologi modern membuat perusahaan menjadi lebih mudah dalam melakukan kontrol pada setiap proses produksi. Menurutnya, teknologi ini juga aplikabel dan bisa diadopsi di lahan yang tidak terlalu luas.

“Tenaga teknisi kami 60 persen masyarakat lokal. Jadi, kami ingin keberadaan perusahaan juga bisa meningkatkan kesejahteraannya,” jelas Ahmad.

Lihat juga...