Sejumlah Sektor Usaha di Pelabuhan Belum Pulih Jelang New Normal

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

LAMPUNG — Sejumlah sektor usaha kuliner, jasa penyeberangan, jasa ojek dan pedagang di atas kapal belum beroperasi. Sejumlah kios tempat berjualan makanan dan minuman ringan, warung makan yang kerap ramai masih terlihat sepi. Meski transisi kenormalan baru atau new normal telah disosialisasikan, pedagang masih enggan kembali berdagang.

Dewi, salah satu pedagang saat ditemui menyebut beralih menyediakan pulsa, minuman ringan. Semula pemilik usaha warung tersebut berjualan di kantin Jatra yang berada di dekat gangway menuju dermaga tiga pelabuhan Bakauheni. Memasuki awal Maret semenjak pandemi Covid-19 muncul di Indonesia kantin miliknya sepi.

Kantin penyedia makanan dengan berbagai lauk miliknya terpaksa ditutup. Sehari dalam kondisi normal ia bisa mendapat omzet Rp3 juta dengan jumlah sekitar 100 porsi makanan yang dibungkus. Pelanggan dominan penumpang pejalan kaki yang akan naik kapal. Namun semenjak Covid-19 penumpang menyeberang dengan kapal berkurang bahkan saat mudik lebaran dilarang.

“Alternatif usaha selain kuliner hanya berjualan pulsa karena banyak karyawan pelabuhan, kapal yang tetap bertugas membutuhkan penunjang komunikasi, semua kantin atau warung makan di area terminal antarmoda tidak mampu bertahan karena penumpang sepi,” terang Dewi saat ditemui Cendana News di area pelabuhan Bakauheni,Sabtu (6/6/2020)

Sehari Dewi yang mewanti wanti agar tidak diambil gambarnya mengaku hanya mendapat omzet Rp1 juta. Padahal ia memperkerjakan tiga karyawan berimbas biaya modal, operasional tidak tertutupi hasil.

Berbeda dengan Dewi dan pemilik warung makan di area terminal antarmoda, pemilik warung makan di area dermaga lebih beruntung. Mimin, salah satu pemilik warung  mengaku masih tetap berjualan karena memiliki pelanggan tetap.

“Sejak awal meski sebagian kantin tutup saya tetap bertahan minimal bisa berjualan kopi dan nasi,” terangnya.

Usaha warung makan miliknya dikelola oleh keluarga. Biaya operasional bisa ditekan tanpa menggaji karyawan. Meski sebelum Covid-19 bisa mendapat omzet sekitar Rp4 juta sehari, kini hanya sekitar Rp2 juta.

Berkurangnya kendaraan travel, bus, minibus penumpang jadi penyebab omzet usaha kulinernya berkurang. Memasuki masa new normal ia juga belum yakin sektor usaha kuliner akan normal seperti sedia kala.

Warsa, ketua DPC Gabungan Pengusaha Angkutan Sungai Danau dan Penyeberangan (Gapasdap) menyebut semua sektor terdampak. Pada kondisi normal sehari kapal operasi 33 unit dengan trip rata rata 60 kali perjalanan.

“Penumpang tidak ada, kalaupun ada hanya sopir yang sudah membeli nasi bungkus di darat jadi kantin kapal tutup,” terangnya.

Sejumlah manajemen operator kapal memilih merumahkan karyawan. Efesiensi terpaksa dilakukan meski pekerja pokok mesin dan kru darat tetap dipertahankan. Masuk masa new normal ia berharap larangan menyeberang bisa direvisi. Sebab semua sektor sangat terdampak oleh adanya Covid-19. Sejumlah sektor usaha kuliner dan jasa dipastikan akan kembali pulih saat Covid-19 berkurang.

Lihat juga...