Menyusui di Masa Pandemi? Ini Protokol yang Harus Diperhatikan

Editor: Makmun Hidayat

SEMARANG — Undang-Undang Kesehatan No. 36 tahun 2009, mengamanatkan bahwa setiap bayi berhak mendapatkan air susu ibu (ASI) eksklusif, sejak dilahirkan hingga usia enam bulan.

Termasuk, UU No. 13/2013 tentang Ketenagakerjaan, menandaskan bahwa pekerja atau buruh perempuan, yang masih menyusui harus diberi kesempatan sepatutnya untuk menyusui anaknya, jika hal tersebut harus dilakukan selama waktu kerja.

“Lalu bagaimana aturan menyusuai di saat pandemi Covid-19, seperti sekarang ini? Ada banyak pertanyaan yang muncul dari masyarakat, mengenai hal ini. Persoalan ini tentu harus dijawab,” papar konselor sekaligus terapis pijat laktasi, Ns Nikmatul Khayati, MKep di Semarang, Jumat (19/6/2020).

Dosen Prodi Keperawatan Fakultas Ilmu Keperawatan dan Kesehatan (Fikkes) Unimus tersebut, memaparkan, dari data Badan Kesehatan Dunia (WHO), sejauh ini virus SARS-Cov-2 tidak terdeteksi dalam ASI dari ibu terduga atau terpapar covid-19. Selain itu, juga tidak ada bukti bahwa virus tersebut ditularkan melalui ASI.

“Harus dipahami, menyusui dan kontak kulit ke kulit, antara ibu dan bayi, secara signifikan mengurangi risiko kematian pada bayi yang baru lahir, sekaligus memberi manfaat bagi kesehatan dan tumbuh kembang bayi,” jelasnya lagi.

Tidak hanya itu, menyusui juga mengurangi risiko kanker payudara dan ovarium pada ibu. “Berbagai manfaat menyusuai secara substansial melebihi potensi risiko penularan dan penyakit, yang terkait dengan Covid-19,” tandasnya.

Dirinya pun menyarankan untuk ibu yang masuk dalam kategori orang dalam pemantauan (ODP), dan menjalani karantina di rumah bersama sang bayi, dapat menyusu langsung atau diberikan ASI perah. “Ibu harus mengenakan masker, saat menyusui dan memerah ASI. Kebersihan tangan, wadah dan pompa ASI harus diperhatikan,” terangnya.

Sementara, untuk pasien dalam pengawasan (PDP), tentu sudah ada protokol penanganan yang sudah ditetapkan dari pihak rumah sakit. “Khusus untuk PDP, pemberian ASI harus diperah, dengan mengikuti SOP tindakan pencegahan penularan. Termasuk menggunakan wadah dan pompa yang steril,” lanjut Nikmatul.

Nikmatul menandaskan, ibu dengan Covid-19 tetap dapat memberikan ASi kepada bayinya, namun dengan memperhatikan SOP dan protap keamanan serta kesehatan, sesuai dengan yang dianjurkan WHO atau pun Kemenkes RI.

Sementara, konselor laktasi Unimus, Ns Erna Sulistyowati MKep, menambahkan, dalam proses penyimpanan ASI perah, ada aturan yang harus ditaati. Diantaranya, ASI perah tersebut harus disimpan dalam lemari pendingin bersuhu 4-5 derajat celcius.

“Di lemari pendingin, bersuhu 4-5 derajat, ASI bisa bertahan 3-4 hari. Sementara dengan ice pack atau kantong es bersuhu sekitar 15 derajat celcius, bisa bertahan selama 24 jam,” terangnya.

Sedangkan, jika disimpan di dalam kamar atau suhu ruangan, ASI perah hanya bisa bertahan hingga 4 jam. “Paling bagus disimpan di freezer dengan suhu minus 18-20 derajat celcius, yang bisa bertahan hingga 4 bulan. Karena ASI akan membeku, pada saat akan digunakan bisa dihangatkan dengan merendamnya botol ASI ke dalam wadah berisi air hangat, dan diulang hingga mencair,” tegasnya.

Selain itu, ASI perah harus disimpan terpisah, dan diberi kode. “Selain itu, juga perlu dilapisi plastik khusus atau kantong spesimen sebagai identitas,” pungkasnya.

Lihat juga...