‘New Normal’ di Lamsel Belum Berdampak Positif Bagi Pelaku Usaha

Editor: Koko Triarko

LAMPUNG – Masa tatanan kenormalan baru (new normal) belum berdampak positif bagi sektor usaha hiburan dan tata rias di Lampung Selatan. Sejumlah pelaku usaha hiburan dan penata rias pengantin, misalnya, masih belum ada order.

Deny Yusuf, pemilik usaha hiburan organ tunggal lengkap dengan jasa sewa tarup atau tenda yang telah berhenti operasi sejak tiga bulan silam, hingga kini masih sepi order. Pandemi Covid-19 yang melarang kegiatan mengundang kerumunan memukul usaha yang digelutinya.

Namun, usaha hiburan Sahabat Musik miliknya masih rutin melakukan latihan agar personel tetap solid. Sejak Covid-19, ia tidak mendapatkan order dari konsumen yang melangsungkan acara khitanan, pernikahan dan hiburan lain. Dalam sebulan, normalnya ia bisa mendapat tawaran untuk hiburan hingga empat kali. Kini, satu pun order tidak diperolehnya.

Linawati, pemilik usaha rias pengantin di Desa Wai Sidomukti, Kecamatan Ketapang, Lampung Selatan, Selasa (30/6/2020). -Foto: Henk Widi

Meski pernikahan mulai diperbolehkan digelar menerapkan protokol kesehatan, usaha hiburan belum normal. Sesuai aturan yang berlaku, pemilik usaha hiburan harus mendapat surat izin keramaian dari kepolisian.

Maklumat Kapolri selama Covid-19 bagi pemilik usaha hiburan yang telah dicabut, menurutnya belum memperbolehkan pemilik usaha hiburan beroperasi.

“Kegiatan hiburan musik live belum bisa dilakukan, namun untuk menghadirkan musik dari rekaman tetap bisa dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan dan acara hanya lingkup keluarga tanpa mengundang tamu dari luar,” terang Deny Yusuf, Selasa (30/6/2020).

Deny Yusuf mengaku masih tetap latihan bersama kru Sahabat Musik. Sebab, sebagian alat musik harus distel dan rutin dibunyikan agar tidak ada gangguan elektronik. Sejumlah peralatan panggung dan tenda menjalani proses perawatan dengan pengecatan ulang. Latihan dan sekaligus pemeliharaan alat tetap dilakukan, sembari menunggu hiburan kembali diizinkan.

Pada kondisi normal, Deny Yusuf menyebut sewa sound system dan hiburan dipatok seharga Rp7juta hingga Rp10juta. Namun selama pandemi Covid-19, usaha miliknya tidak mendapatkan omzet. Ia juga belum mendapat arahan dan ketentuan baru terkait usaha jasa hiburan. Meski adaptasi new normal, kegiatan mengundang keramaian masih belum diperbolehkan.

“Dampak langsungnya pemasukan berkurang, padahal kredit bank masih harus dibayar dan pengajuan relaksasi tidak diterima,” bebernya.

Dampak langsung selain bagi pemilik, menurutnya dialami oleh pemain musik dan penyanyi. Satu tim saat hiburan musik masih bisa mendapat hasil hingga Rp5juta sekali manggung. Namun sejak hiburan organ tunggal dilarang, kru tidak mendapat penghasilan. Sebagian kru bahkan memilih menekuni usaha lain, di antaranya beternak lele dan memelihara ayam.

Linawati, warga Desa Wai Sidomukti, Kecamatan Ketapang, menyebut usaha tata rias miliknya juga sepi order. Meski telah memasuki adaptasi new normal, resepsi pernikahan belum bisa digelar. Meski diperbolehkan, namun izin dari tim gugus tugas percepatan penanganan Covid-19 harus diperoleh.

“Saya masih mendapat permintaan tata rias pengantin dominan hanya untuk foto sebagai dokumen,” cetusnya.

Sebelumnya, satu paket jasa tata rias bisa diperoleh hasil Rp5juta, bahkan lebih. Sebab, selain sepasang pengantin ia kerap merias orang tua, pagar ayu dan panitia resepsi pernikahan. Saat new normal, acara pernikahan diperbolehkan untuk ijab kabul. Kalau pun digelar, resepsi tamu undangan tidak boleh lebih dari 30 orang. Kondisi tersebut ikut menurunkan omzetnya sebagai pengusaha tata rias.

Lihat juga...