Pemanfaatan Teknologi dalam Mengembangkan Kesejahteraan Masyarakat

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

Kepala Pusat Rekayasa Fasilitas Nuklir BATAN, Kristedjo Kurnianto saat Zoom Webinar Alumnus TN-UGM, Sabtu (27/6/2020) - Foto Ranny Supusepa

JAKARTA — Efek domino dari pandemi COVID 19 merupakan salah satu hal yang harus dihadapi oleh seluruh masyarakat Indonesia. Perlu adanya sinergikan teknologi dengan kebutuhan masyarakat. Baik untuk kesehatan maupun dalam bidang ekonomi.

Salah seorang alumnus Teknik Nuklir Universitas Gadjah Mada yang saat ini menjadi Kepala Pusat Rekayasa Fasilitas Nuklir BATAN, Kristedjo Kurnianto menyebutkan, inovasi adalah suatu upaya melakukan penerjemahan ide atau penemuan menjadi barang atau jasa yang menciptakan nilai tambah atau perbaikan.

“Karena itu, saya mencoba mengefektifkan terkait gelombang, yang dipelajari selama belajar di teknik nuklir dan sekarang saat bekerja di BATAN, untuk bisa memberi nilai tambah. Saat ini, yang kami coba kembangkan yaitu pemanfaatan UV-C yang sudah ditemukan sejak 1800-an untuk membasmi bakteri, kapang, spora dan virus,” kata Kristedjo dalam Zoom Webinar TN-UGM, Sabtu (27/6/2020).

Ia menyebutkan UV -C memiliki daya tembus yang sangat rendah dan hampir diserap seluruhnya oleh lapisan kulit terluar tapi memiliki daya rusak yang sangat tinggi, seperti halnya sinar Alpha.

“Teknologi ini sudah banyak diaplikasikan di luar negeri. Sehingga ini menjadi peluang bagi pelaku usaha di Indonesia untuk mengembangkannya sebagai alat sterilisasi,” ujarnya.

Tapi karena daya rusaknya yang tinggi, maka sangat diperlukan kehati-hatian dalam menentukan dosis yang dibutuhkan untuk setiap kondisi.

“Seperti untuk influenza hanya membutuhkan 2,0 mWs per sentimeter kubik. Begitu pula untuk setiap bakteri memiliki dosis yang berbeda,” ujarnya.

Pengembangan UV -C di BATAN dibagi menjadi dua, yaitu dalam bentuk bilik dan Mobile UV-C Sterilisator yang bisa dikontrol menggunakan remote hingga jarak 40 meter.

“Keunggulannya peralatan ini tidak meninggalkan residu maupun bahan kimia berbahaya dan hanya membutuhkan waktu yang singkat untuk menghilangkan mikroba pada benda-benda sekitar. Dan penelitian lanjutan pada Far UV-C yang memiliki panjang gelombang 222 nM, menunjukkan adanya gelombang yang lebih pendek dengan kemampuan untuk menghilangkan mikroba yang sama,” ujarnya lebih lanjut.

Untuk penggunaan yang lebih massal, dalam artian bisa digunakan sebagai lampu atau penghilang mikroba, Kristedjo menyatakan memang masih harus menunggu sertifikasi terkait Far UV-C. Dan tantangan lainnya adalah sertifikasi dan izin edar, hilirisasi produk litbang dan kemitraan dengan dunia usaha.

“Hambatan ini bisa diatasi dengan networking. Tentunya, adalah selalu beradaptasi dengan kebutuhan yang ada saat ini, mau berubah dan pastinya mau berkolaborasi,” tandasnya.

Sementara, Pemilik Rumah Mikroba Positif di Mojokerto, Danang Widoyono Setyo Boedhi memanfaatkan mikroba untuk lebih meningkatkan efisiensi pangan dan juga peningkatan income dari masyarakat sekitar.

“Di Rumah Mikroba Positif ini, kita membuat mikroba untuk dicampurkan ke pakan unggas, ikan atau udang, ruminasia serta upaya pembuatan dekomposer dan pupuk cair,” kata Danang dalam kesempatan yang sama.

Ia memaparkan dari hasil perlakuan di lapangan, menunjukkan penggunaan mikroba bisa menghemat pakan dan juga mengurangi penggunaan vaksin maupun antibiotik.

“Kualitas telur yang dihasilkan unggas dan hasil panen perikanan menunjukkan peningkatan jumlah. Begitu pula pada ruminasia, terlihat peningkatan berat badan rata-rata 1-1,2 kg yang ekuivalen dengan sekitar Rp90 ribu per kilonya. Artinya ini memberikan aspek ekonomi yang lebih baik bagi petani maupun peternak,” ujarnya.

Selain itu, Danang yang juga mengembangkan pengolahan dekomposer, agar limbah dari ternak tidak menimbulkan bau, sehingga dapat mencegah protes dari warga sekitar lokasi peternakan.

“Limbah ini kemudian diolah menjadi pupuk cair dan pupuk granule. Yang bisa mereka pergunakan sendiri atau untuk dijual. Sehingga bisa menambah pemasukan bagi mereka,” ucap alumni TN-UGM ini.

Ia mengakui bahwa saat ini yang dikerjakannya masih dalam skala kecil, karena terhambat oleh peralatan dan biaya pengembangan. Tapi, menurutnya, untuk kepentingan masyarakat tetap harus dimulai.

“Mari kita bekerja di masyarakat. Karena teknologi setinggi apa pun tapi tidak bisa bermanfaat untuk masyarakat, ya tidak asyik buat saya,” pungkasnya.

Lihat juga...