Pemda Sikka Siap Bangun Tanggul Cegah Banjir Rob

Editor: Koko Triarko

MAUMERE – Pemerintah Daerah Sikka, Provinsi Nusa Tenggara Timur, siap melakukan pembangunan tanggul penahan gelombang di Kampung Bebeng, Kelurahan Wolomarang, Kecamatan Alom Barat, untuk mencegah banjir rob.

Pembangunan tanggul tersebut dilakukan, sebab banjir rob sudah sering terjadi setiap tahun dan menggenangi perkampungan warga tersebut, yang setiap tahun keadaannya makin parah.

“Kita akan segera bangun tanggul dan menunjuk pihak ke tiga untuk melakukan pekerjaan pembangunan tanggul ini,” kata Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sikka, Muhammad Daeng Bakir, Kamis (11/6/2020).

Daeng Bakir menyebutkan, pihaknya telah menyediakan dana sebesar Rp450 juta yang diambil dari dana tanggap darurat terkait adanya bencana, sehingga pembangunan bisa segera dilaksanakan.

Kajian sudah dilakukan, sehingga tanggul penahan gelombang untuk mencegah masuknya air laut ke perkampungan akan dibangun sepanjang 304 meter, agar air laut tidak masuk ke perkampungan warga.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sikka, NTT, Muhammad Daeng Bakir, saat ditemui di Posko BPBD, Kamis (11/6/2020). -Foto: Ebed de Rosary

“Kita segera tunjuk kontraktor untuk segera membangun tanggul tersebut, agar tidak ada lagi banjir rob saat musim gelombang tinggi dan angin kencang terjadi. Kalau tidak ada tanggul, banjir rob akan terus terjadi,” sebutnya.

Dosen Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan Universitas Nusa Nipa, Maumere Yohanes Don Bosco R. Minggo, mengatakan permasalahan utama terjadinya banjir rob akibat rusaknya hutan mangrove di pesisir pantai utara Flores.

Rikson, sapaannya, menyebutkan selama ini pesisir pantai utara sekitar kota Maumere, seperti di Kelurahan Kota Uneng dan Wolomarang, sebelumnya dipenuhi oleh hutan bakau dengan ketebalan minimal 100 meter.

“Banyaknya hutan bakau yang ditebang membuat beberapa perkampungan di pesisir pantai terancam abrasi dan tergenang banjir rob. Memang solusi jangka pendeknya dengan membangun tanggul penahan gelombang,” ungkapnya.

Rikson berharap, agar masyarakat di pesisir pantai jangan menebang bakau dan terus melakukan penanaman, sebab bakau berfungsi untuk menahan gelombang, termasuk saat terjadi tsunami.

Petrus Kanisius, warga Kampung Garam, Kelurahan Kota Uneng, mengaku pembangunan tanggul yang dilaksanakan pemerintah di wilayahnya sudah sekitar 3 tahun, namun hanya sekitar perkampungan saja.

Saat air laut pasang dan gelombang tinggi, kata Petrus, pasti air akan masuk melalui wilayah sebelah timur dan barat perkampungan, serta di saluran air yang dibuat di ujung barat kampung.

“Kalau air laut pasang, maka air laut akan masuk melewati saluran air sepanjang 100 meter yang telah dibangun. Banjir rob terjadi kalau voleme air laut meningkat, sehingga meluap melalui saluran dan menggenangi pemukiman warga,” terangnya.

Petrus berharap, agar ada solusi terkait banjir rob di wilayahnya, mengingat perkampungan tersebut berada lebih rendah dari permukaan jalan, sehingga tidak tergenang saat adanya gelombang tinggi dan angin kencang.

Lihat juga...