Pendidikan Butuh ‘Multy-Location Learning’ 

Editor: Koko Triarko

Dekan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Institut Pertanian Bogor (IPB), Luky Adrianto, saat Zoom Webinar Lokakarya Prodi Kelautan oleh Universitas Padjajaran, Kamis (18/6/2020). –Foto: Ranny Supusepa 

JAKARTA – Upaya meningkatkan kapasitas mahasiswa prodi Kelautan diharapkan dapat dicapai dengan lebih memberi peluang kepada mahasiswa, untuk melakukan pembelajaran tidak hanya dari kampus saja. Tapi, juga melibatkan pemerintah dan sektor industri. 

Dekan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Institut Pertanian Bogor (IPB), Luky Adrianto, menyatakan, bahwa pendidikan tidak hanya bisa di kampus. Tapi, membutuhkan multy-location learning.

“Karena itu, amanat Mendikbud untuk mengubah kurikulum prodi dalam program Kampus Merdeka, akan menjadi peluang bagi pihak kampus untuk mencari kurikulum yang paling sesuai dengan kebutuhan yang ada saat ini,” kata Luky, saat Zoom Webinar Lokakarya Prodi Kelautan yang digagas oleh FPIK Universitas Padjajaran, Kamis (18/6/2020).

Dari delapan program yang dicanangkan pemerintah, Luky menyatakan dua di antaranya sudah dilakukan oleh IPB.  “Yaitu, magang, proyek di desa, pertukaran pelajar, penelitian, wirausaha dan studi independen. Semuanya masuk dalam kelompok capstone, KKN-T,  magang yang diterapkan dalam beberapa semester, terutama di semester 7 dan 8. Yang belum proyek kemanusiaan dan mengajar di sekolah,” ujarnya.

Semua pembelajaran ini, tentunya merupakan upaya untuk mencapai tujuan dari pembelajaran itu sendiri. “Yaitu, suatu hasil yang bisa memberi masukan dalam pembuatan kebijakan dan bisa juga selaras dengan pihak industri. Sehingga penting sekali, pihak industri atau pemerintah hadir di kampus atau sebaliknya kampus hadir di industri,” tegasnya.

Ia mencontohkan, apa yang sudah dilakukan IPB dengan terlibat pada kerja sama dengan industri dalam, yaitu pada program marine biodiversity and tourism laboratory di Tanjung Lesung.

“Jadi, kami diundang oleh PT Banten West Java untuk melakukan research dan monitoring serta membentuk Business Laboratory dalam upaya menciptakan enterpreneurship development di area tersebut,” paparnya.

Ahli Oseanografi Pusat Riset Kelautan (Pusriskel), Widodo Setiyo Pranowo, menyebutkan variabel studi oseanografi tidak berubah dari dulu. Hanya sekarang dimanfaatkan untuk oseanografi terapan.

“Sepuluh variabelnya tetap, sekarang diaplikasikan dalam oseanografi terapan untuk digunakan mempelajari, antara lain ekologi laut, dinamika populasi ikan, trajectory polutan, arkeologi Maritim hingga kebutuhan SAR, Forensik hingga sektor pertahanan dan keamanan,” kata Widodo, dalam kesempatan yang sama.

Sehingga, Widodo menekankan kebutuhan akan mahasiswa kelautan bisa berasal dari banyak sektor.

“Contohnya, mahasiswa Kelautan bisa hadir memenuhi kebutuhan penyusunan dokumen Amdal/RKL-RPL, karena banyak analisa riset  awal oseanografi dan prakiraan dampak hipotetik penting yang masih kurang memadai,” ucapnya.

Atau bisa juga hadir untuk magang pada beberapa provinsi yang masih kesulitan dalam menyusun Album Peta dan Analisis RZWP3K.

“Di Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), para mahasiswa juga bisa mengajukan magang, yaitu satker BRSDM dan DJPRL,” ucapnya lebih lanjut.

Untuk lebih meningkatkan kompetensi, Widodo menyebutkan prodi Kelautan bisa menerapkan sertifikat kompetensi berdasarkan praktikum yang sudah ditempuh.

“Dan mungkin bisa dijajaki, agar lulusan prodi Kelautan bisa mendapatkan Sertifikat Kompetensi Marine Profesional dari IMAREST,” pungkasnya.

Lihat juga...