Peran Media Ubah Perilaku Masyarakat Menyikapi Pandemi

Editor: Makmun Hidayat

JAKARTA — Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 mengedepankan kolaborasi dan sinergi pentaheliks dalam percepatan penanganan Covid-19. Salah satunya adalah media massa yang berperan dalam penyampaian informasi dan edukasi masyarakat. Peran media massa tersebut diharapkan berujung pada perubahan perilaku masyarakat dalam menyikapi pandemi. 

Menurut Gunawan Permadi, persoalan saat ini tidak hanya pada kesadaran terhadap konteks kesehatan, tetapi mengubah perilaku. Pihaknya lebih berfokus untuk membangun persepsi masyarakat dari sisi kultur atau bidaya dan sosial.

“Kami di media, selalu mendorong untuk melakukan pencerahan secara kultural dengan menggunakan narasumber atau pakar yang membahas tidak hanya kesehatan tetapi juga kultural. Ini diharapkan bisa dimaknai dan dimengerti oleh masyarakat,” kata Gunawan Permadi, pemimpin redaksi salah satu media di Jawa Tengah, melalui ruang digital di Gedung BNPB, Jakarta, Selasa (2/6/2020).

Pihaknya melakukan framing dan agenda yang berbasis pada konteks kultural. Gunawan mencontohkan pada tradisi mudik dan lebaran ketupat di Jawa Tengah. Tradisi mudik ini sangat luar biasa, ada juga ungkapan meskipun tidak makan tetapi berkumpul bersama orang-orang sekitar. Situasi ini tentu berpengaruh pada upaya pencegahan penularan virus SARS-CoV-2 secara lebih luas. Sedangkan pada momen lebaran ketupat, ini lebih ramai pada saat lebaran.

“Festival atau perayaan di masyarakat lebih meriah, ini faktor kultural. Ini digenjot supaya persoalan kultural ini tidak menjadi kendala bagi masyarakat Jawa Tengah sehingga tetap terselenggara meskipun ada penyesuaian,” ujarnya.

Gunawan selaku representasi media mainstream di Jawa Tengah melibatkan pakar arkeolog, sosiolog dan psikolog untuk ikut membahas konteks kultural yang menjadi fenomena di tengah masyarakat.

“Kegiatan semacam budaya seperti itu lebih penting, sifatnya kolosal. Salat Idul Fitri, di masyarakat Jawa Tengah lebih banyak dimaknai dari aspek budaya bukan sekadar syariat dan sebagainya. Muatan kultural ini yang besar,” ungkapnya.

Sementara itu, menyikapi konten media yang terkadang keliru, Gunawan menyampaikan hal itu bisa mungkin terjadi sehingga berdampak hoaks. Namun, masyarakat dapat merujuk pada media mainstream, kebanyakan media mainstream lebih ketat dalam memfilter pemberitaan. Diakuinya, media yang baru muncul kadang terkendala pada sumber daya manusia untuk peningkatan kapasitasnya.

“Media mainstream masih kuat dalam memegang kode etik, cek dan ricek, dan untuk mengantisipasi berita yang keliru dengan memberikan informasi yang sebanyak mungkin. Harapannya informasi yang sifatnya kurang tepat bisa ‘ditenggelamkan’,” sebutnya.

Gunawan juga berpendapat bahwa Gugus Tugas dan media-media mainstream yang bertugas untuk membentuk pool media dalam upaya membombardir informasi sesuai dengan fakta. Di samping itu, Gugus Tugas dapat mengajak Dewan Pers untuk melakukan pengawasan terhadap pemberitaan media.

“Media memperoleh penghasilan dari sektor bisnis yang lain bukan penjualan produk. Salah satunya dengan memperkecil atau efisiensi. Model seperti ini sangat membantu media untuk tetap bertahan,” ujarnya.

Lihat juga...