Perawat Pasien Covid-19 di RS TC Hillers Maumere, Semula Sempat Takut

Editor: Koko Triarko

MAUMERE – Menjadi tenaga medis yang bertugas merawat pasien positif Covid-19, merupakan sebuah tantangan tersendiri dan membutuhkan keberanian, mengingat penyakit tersebut belum ada obatnya.

Selain itu, banyaknya tenaga medis yang gugur dalam menjalankan tugas pelayanan, membuat tidak sedikit tenaga medis yang bersedia mengemban tugas melayani pasien positif Covid-19.

“Ada yang namanya sudah didaftar, tetapi tidak bersedia dan mengundurkan diri. Ini sudah menjadi tugas kami sebagai tenaga medis,” kata Lusia Lero, kepala ruangan isolasi Covid-19 RS TC Hillers Maumere, Kabupaten Sikka, NTT, Rabu (3/6/2020).

Lus, sapaannya, mengaku bukan menawarkan diri dan bukan juga karena berani mengambil risiko, tetapi hanya mau menerapkan pelayanan medis kepada pasien yang sudah menjadi tugas mereka.

Kepala ruangan isolasi RS TC Hillers Maumere, Kabupaten Sikka, NTT, Lusia Lero. yang merawat pasien Covid-19 saat ditemui di ruang paviliun, Rabu (3/6/2020). -Foto: Ebed de Rosary

Dirinya mengaku, saat pertama merawat pasien Covid-19 sempat merasa cemas, bahkan takut, namun dirinya mengaku tetap kuat menjalani pekerjaan berkat dukungan suami dan anak-anak.

“Hari pertama takut juga merawat pasien Covid-19, tapi intinya hanya bekerja sesuai protokol kesehatan dalam menangani pasien dengan penyakit ini. Selebihnya kami berdoa, karena hanya Tuhan yang hanya bisa membantu kami dalam merawat pasien,” ucapnya.

Lus mengaku sejak 1 April 2020 tidak kembali ke rumah berkumpul bersama suami dan ketiga anaknya, dan memilih tinggal di tempat karantina bersama para tenaga medis yang merawat pasien Covid-19.

Sebenarnya, ia bisa pulang dan keluarga juga menerima, tetapi dirinya mengaku tidak enak dengan tetangga sekitar rumah, sebab takutnya mereka tidak menerima kehadirannya.

“Suami saya bekerja sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN) di kantor pemeritah, dan selalu mendukung pekerjaan saya. Anak saya pertama mau masuk SMA, anak ke dua mau masuk SMP dan anak ke tiga masih berumur 4 tahun,” terangnya.

Lus mengaku senang, sebab anak-anaknya juga mendukung pekerjaannya dan setiap hari dirinya selalu menyempatkan diri berkomunikasi dengan suami dan anak-anaknya melalui telepon genggam.

Dia merasa sangat senang dan bahagia, karena 6 pasien positif Covid-19 yang dirawat bisa sembuh dan kembali ke rumahnya hari ini, Rabu (3/6/2020), dan ia pun terlihat terharu saat ditanya.

“Bagi orang awam, pasti berpikir pasien akan meninggal. Tetapi dengan perawatan dan cara yang kami lakukan, mereka bisa sembuh. Setiap jam 5.30 WITA, kami bangunkan pasien untuk berolahraga, mandi dan melakukan aktivitas di ruangan mereka masing-masing,” jelasnya.

Dokter penyakit dalam RS TC Hillers Maumere, dr.Asep Purnama, saat diajak berbincang terkait penanganan pasien Covid-19 mengakui sebagai tenaga medis pihaknya memang harus mau melayani pasien sesuai sumpah profesi.

Terkait tugas melayani pasien Covid-19, dokter Asep mengaku tetap menerapkan protokol kesehatan, termasuk menggunakan Alat Pelinding Diri (APD) saat melayani pasien serta cuci tangan teratur, dan wajib memakai masker.

“Telepon genggam saya dilapisi plastik bisa steril. Tanda pengenal dan jam tangan untuk sementara waktu ditanggalkan dahulu untuk memudahkan pelayanani pasien Covid-19,” sebutnya.

Lihat juga...