Permintaan Tinggi jadi Faktor Penyelundupan Satwa Liar Sumatera

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

LAMPUNG – Sepanjang 2019 koordinasi antarintansi Kepolisian, Karantina, BKSDA dan LSM berhasil mengamankan sekitar 30 ribu satwa liar jenis burung.

Selanjutnya tahun 2020 sebanyak 7 ribu lebih satwa jenis burung diamankan belum termasuk reptil dan satwa liar lainnya. Penyelundupan satwa khususnya burung kicau terus dipantau oleh LSM Flight Protecting Indonesia’s Birds.

Nugraha Putra, koordinator lapangan di Bakauheni dari LSM Flight Protecting Indonesia’s Birds menyebut faktor ekonomi mendorong peningkatan penyelundupan satwa.

Tingginya permintaan (demand) membuat perburuan satwa terus disediakan (supply) oleh pengepul. Penyelundupan satwa dilakukan menggunakan modus kendaraan penumpang bus dan truk ekspedisi.

Langkah pencegahan, tindakan penyitaan, pelepasliaran telah dikoordinasikan dengan sejumlah pihak. Koordinasi dengan Kepolisian Sektor Kawasan Pelabuhan (KSKP) Bakauheni, BKSDA Lampung-Bengkulu, Balai Karantina Pertanian (BKP) Lampung diakuinya efektif menekan angka penyelundupan satwa.

“Sebagian burung merupakan satwa endemik Sumatera yang jika perburuan terus dilakukan akan berimbas pada kepunahan dan menyebabkan kelangkaan pada jenis spesies tertentu. Apalagi yang masuk kategori dilindungi, jadi butuh perhatian sejumlah pihak,” terang Nugraha Putra, saat dikonfirmasi Cendana News, Rabu (3/6/2020).

Sebagian satwa yang diselundupkan menurutnya kerap melalui sejumlah proses sebelum pengiriman. Para pencari atau pemikat burung dengan perangkap mencari satwa tersebut di alam bebas.

Setiap ekor burung dijual bervariasi mulai seharga Rp1.000 hingga Rp20.000 per ekor sesuai jenisnya. Setelah itu akan ditampung oleh pengepul dalam jumlah banyak.

Burung jalak kerbau atau acridotheres javanicus asal Sumatera Selatan akan diselundupkan ke wilayah Bekasi Jawa Barat, Rabu (3/6/2020) – Foto: Henk Widi

Sepanjang kurun 2019 hingga 2020 dominan jenis burung yang diamankan merupakan burung kicau. Jenis burung tersebut meliputi pleci, cucak ranting, perkutut, kutilang, kapas tembak, jalak kerbau dan jenis burung kicau lainnya. Jenis burung yang sudah masuk kategori langka meliputi jalak Nias, murai Medan, murai Batu dari alam bebas.

“Dominan satwa liar jenis burung hasil penangkapan di alam selanjutnya dikirim dengan modus paket via bus, truk bahkan mobil pribadi,” papar Nugraha Putra.

Tingkat kematian satwa selama pengiriman memakai kendaraan mencapai 30 persen. Sebab sebagian satwa burung yang dikirim memakai keranjang, kardus menempuh perjalanan ratusan kilometer.

Sejumlah tempat asal meliputi Jambi, Sumatera Barat, Bengkulu, Jambi dan sejumlah kota di Sumatera. Sebagian lolos hingga tempat tujuan dan sebagian berhasil diamankan.

“Sebagian satwa jenis burung yang diamankan oleh petugas langsung dilepasliarkan ke gunung Rajabasa dan sejumlah lokasi,” terang Nugraha Putra.

Perburuan skala besar dengan tujuan komersial untuk keuntungan ekonomi jadi faktor terancamnya satwa di Sumatera. Gerbang terakhir untuk menyelamatkan satwa menurut Nugraha Putra ada di pelabuhan Bakauheni.

Selain satwa jenis burung sejumlah primata jenis siamang, monyet ekor panjang, reptil dan satwa lain pernah diamankan.

Kepedulian sejumlah LSM dan organisasi pemerhati satwa diakui Nugraha Putra masih belum bisa membendung penyelundupan. Operasi gabungan kerap dilakukan agar bisa mengungkap jaringan penyelundupan satwa.

Nugraha Putra, anggota LSM Flight Protecting Indonesia’s Bird yang selalu terlibat dalam upaya mencegah perlalulintasan dan perlindungan satwa asal Sumatera tujuan Jawa, Rabu (3/6/2020) – Foto: Henk Widi

Sebab meski sebagian berhasil diamankan dengan modus yang rapi sebagian satwa bisa diselundupkan ke wilayah Jakarta dan sekitarnya.

Rusmaidi, kepala pos pengawasan lalu lintas satwa liar BKSDA Seksi wilayah III Lampung-Bengkulu menyebut penyelundupan satwa masih terjadi.

Keterbatasan personel dan modus operandi penyelundupan jadi faktor lolosnya satwa asal Sumatera tujuan Jawa. Namun dengan koordinasi lintas sektoral penyelundupan tetap bisa digagalkan.

“Satwa endemik Sumatera kerap diminta oleh kolektor namun sebagian merupakan satwa dilindungi,” tegasnya.

Rusmaidi menyebut dasar pengamanan sejumlah satwa yang akan dikirim ke Jawa melalui pelabuhan Bakauheni jelas. Sebab penyelundupan satwa melanggar UU Nomor 5 Tahun 1990 Tentang Konservasi Sumber Daya Alam.

Rusmaidi, kepala pos pengawasan lalu lintas satwa liar BKSDA seksi wilayah III Lampung-Bengkulu menyiapkan kura-kura ambon dan biawak yang akan dilepasliarkan ke habitat alami, Rabu (3/6/2020) – Foto: Henk Widi

Selain dilalulintaskan tanpa dokumen dominan satwa dikirim tanpa surat izin penangkapan, surat angkut tumbuhan dan satwa liar dalam negeri (SATDN).

Lokasi pelepasliaran satwa yang diamankan menurut Rusmaidi mempertimbangkan sejumlah faktor. Bagi satwa burung lokasi di kawasan register 3 Gunung Rajabasa pada kesatuan pengelolaan hutan dipilih karena habitat masih alami.

Selain lokasi dekat dengan sungai sumber air juga jauh dari permukiman warga. Sebagian satwa jenis reptil biawak, kura-kura dilepasliarkan pada kawasan Taman Nasional Way Kambas (TNWK).

Lihat juga...