Pertumbuhan Ekonomi Jateng Turun Drastis

Editor: Koko Triarko

Kepala KPw BI Jateng, Soekowardojo, di Semarang, Senin (15/6/2020). -Foto: Arixc Ardana

SEMARANG – Penyebaran Covid-19 yang meluas di domestik maupun global, berdampak besar terhadap ekonomi Jawa Tengah pada tahun ini, yang diperkirakan tumbuh pada rentang 1,4 persen hingga 2,4 persen year on year (yoy). Perkiraan tersebut lebih rendah dibandingkan pertumbuhan 2019 yang sebesar 5,41 persen (yoy).

“Pelemahan pertumbuhan ekonomi terutama didorong penurunan pertumbuhan konsumsi rumah tangga, investasi, dan ekspor luar negeri. Dari sisi lapangan usaha, perlambatan ekonomi diperkirakan terjadi pada industri pengolahan, konstruksi dan perdagangan,” papar Kepala Kantor Perwakilan (KPw) Bank Indonesia Jateng, Soekowardojo di Semarang, Senin (15/6/2020).

Tidak hanya itu, potensi ekonomi yang tidak optimal di 2020 akibat pengaruh terbatasnya produksi global akibat Covid-19, diperkirakan membuat perekonomian Jateng terakselerasi di 2021.

“Secara keseluruhan, perekonomian Jateng pada 2020 diperkirakan akan bergerak di bawah kapasitasnya, sehingga lebih rendah dibandingkan 2019,” lanjutnya.

Untuk itu, perlu langkah-langkah strategis dalam menekan dampak Covid-19 pada pertumbuhan ekonomi. Di antaranya dengan menjaga tingkat produktivitas sektor pertanian, untuk mengamankan pasokan dan menjaga kestabilan harga kebutuhan pokok masyarakat.

“Untuk mendukung hal tersebut, distribusi hasil produk pertanian perlu dipastikan tetap lancar,” terangnya.

Selain itu, juga menjaga kegiatan produksi industri pengolahan sektor sekunder, terutama industri makanan dan minuman, tekstil, pakaian jadi, dan alas kaki. Hal ini mengingat kebutuhan yang masih tinggi dari produk hasil industri tersebut, baik di domestik maupun luar negeri.

“Industri-industri tersebut juga termasuk padat karya, banyak menyerap tenaga kerja sehingga bila produktivitasnya menurun, akan mengganggu cash flow perusahaan dan meningkatkan potensi pemutusan hubungan kerja (PHK),” jelasnya.

Pihaknya juga mendorong kegiatan produksi industri kimia dan farmasi. Industri ini berpotensi meningkat di tengah penyebaran wabah virus Covid-19.

Terpisah, Gubernur Jateng, Ganjar Pranowo, membenarkan jika wabah Covid-19 membuat pertumbuhan ekonomi di Jateng, menurun drastis. Tercatat, pada kuartal pertama 2020 hanya sebesar 2,6 persen.

“Pertumbuhan ekonomi Jateng memang turun drastis, sebab banyak target dan rencana yang telah kita susun sebelumnya tidak berjalan. Hasilnya pun tidak tercapai,” paparnya.

Pihaknya pun telah melakukan revisi total, terkait kondisi pertumbuhan ekonomi Jateng. Salah satu cara yang akan digenjot adalah sektor investasi.

“Semua yang punya potensi investasi akan kami bantu dan dorong terus. Apalagi, investasi yang bisa menyerap banyak tenaga kerja,” terangnya.

Menurutnya, percepatan investasi menjadi yang paling cepat untuk memperbaiki pertumbuhan ekonomi Jateng. Selain itu, pihaknya juga sudah mendesain APBD 2021 sebagai APBD Pertolongan.

“Beberapa program disiapkan untuk menyelamatkan sejumlah sektor, termasuk pemulihan ekonomi, UMKM, pariwisata. Semuanya. Terutama untuk sektor dengan padat karya, sehingga ini bisa mendongkrak ekonomi,” pungkasnya.

Lihat juga...