Poktan Sinar Bahagia Nita Jadi Tempat Berbagi Ilmu Holtikultura di Sikka

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

MAUMERE — Kelompok tani yang ada di Kabupaten Sikka Provinsi Nusa tenggara Timur (NTT) cukup banyak dan sejak dahulu sudah terbentuk, namun belum ada yang khusus menampung petani holtikultura.

Anggota kelompok tani Sinar Bahagia Desa Nitakloang Kecamatan Nita Kabupaten Sikka, NTT, Verentinus Wenger saat ditemui di kebun kelompok,Senin (1/6/2020).Foto : Ebed de Rosary

Banyak kelompok tani yang memang dibentuk namun anggotanya banyak yang hanya petani sambilan bukan petani murni sehingga terkadang hanya bebarapa anggota kelompok saja yang aktif.

“Sejak awal saya disuruh membentuk kelompok tani tapi saya tidak mau karena banyak kelompok tani yang sudah terbentuk anggotanya ada yang tukang ojek dan guru,” kata Eustakius Bogar, ketua kelompok tani Sinar Bahagia Desa Nitakloang Kecamatan Nita Kabupaten Sikka, NTT, Senin (91/6/2020).

Eus sapaannya menyebutkan, para anggota kelompok tani tersebut bukan petani murni dan anggotanya heterogen sehingga dirinya tidak mau membentuk kelompok tani kalau hanya sekedar mendapatkan bantuan dari pemerintah.

Sang adik menyuruh membentuk kelompok dan ia katakan kalau mau bentuk kelompok tani, anggotanya harus petani holtikultura semua, sehingga adiknya pun, bergerak sendiri mencari anggota, bahkan menyiapkan nama kelompok.

“Adik saya yang bergerak mencari anggota dan memberi nama kelompok taninya Sinar Bahagia. Mereka datang ke saya dan mengatakan kelompok tani sudah terbentuk dan saya sebagai ketuanya,” ungkapnya.

Anggota kelompok tani Sinar Bahagia Verentinus Wenger yang juga adik dari Eus mengaku dirinya mencari sendiri 20 orang petani holtikultura di desanya yang mau diajak bergabung hingga memberi nama kelompok.

Akhirnya kata Veres sapaannya, kelompok tani beranggotakan petani holtikultura di Nita pun terbentuk tanggal 14 Agustus 2019 dan petaninya sebelumnya sudah menanam holtikultura sendiri tetapi belum berada dalam wadah kelompok.

“Tujuan awal berkelompok, kami ingin membagi ilmu yang kami dapatkan dari BPP Nita ke petani lain. Sulit awalnya membentuk kelompok sebab meskipun sudah ada petani holtikultura namun belum ada orang yang sehati dan sepikiran bekerja di pertanian holtikultura,” tegasnya.

Veres mengaku berinisiatif membentuk kelompok tani agar bisa mendapatkan bantuan dari pemerintah dan berbagi ilmu. Malam-malam dirinya bergerilia mencari anggota.

Kepala Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kecamatan Nita Manserius Mnega,SSt menyebutkan, kelompok tani penting agar Petugas Penyuluh Lapangan (PPL) bisa lebih mudah memberikan pelatihan.

Manse sapaannya mengakui, tidak mungkin pihaknya memberikan pelatihan satu per satu kepada petani sehingga dirinya bersyukur sudah ada kelompok tani yang khusus menanam holtikultura di wilayah kerjanya.

“Kalau ada kelompok tani akan memudahkan kami untuk memberikan pelatihan. Petani juga bisa saling belajar satu dengan lainnya dan saling memberi motivasi untuk meraih kesuksesan,” ujarnya.

Lihat juga...