Sampah Plastik dan Karet jadi Alternatif Media Budidaya Perairan

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

LAMPUNG – Persoalan sampah plastik, karet yang sulit terurai saat tidak terpakai disiasati oleh warga Lampung Selatan (Lamsel).

Amran Hadi, pembudidaya kerang hijau atau perna viridis memanfaatkan ban motor bekas untuk media budidaya. Metode pemanfaatan ban bekas berbahan karet dilakukan untuk efisiensi biaya produksi.

Ban bekas yang telah diikat dengan tali menjadi media budidaya kerang hijau di pesisir pantai Desa Legundi Kecamatan Ketapang Lampung Selatan, Rabu (3/6/2020) – Foto: Henk Widi

Sebelumnya budidaya kerang hijau memanfaatkan teknik ponton. Memakai drum plastik dirangkai dengan ban bekas pernah dilakukan.

Namun imbas kondisi cuaca gelombang pasang, ponton drum kerap tersapu gelombang dan terbawa arus. Metode tiang pancang bambu, kayu, tali dan ban bekas jadi pilihan sejak lima tahun silam.

Memanfaatkan ban bekas diakui Amran Hadi bisa menghemat biaya operasional. Sebab satu ban bekas dibeli dari sejumlah bengkel seharga Rp1.000 untuk ban motor.

Khusus untuk ban mobil bekas ia harus membeli seharga Rp5.000 selanjutnya dibelah menjadi beberapa bagian. Produktivitas budidaya kerang hijau meningkat dengan penggunaan ban bekas.

“Ban bekas memiliki celah yang bisa dipergunakan untuk menempel kerang hijau dengan tingkat produksi mencapai 10 hingga 15 kilogram mengikuti lingkaran ban dengan masa panen lima bulan,” terang Amran Hadi saat ditemui Cendana News, Rabu (3/6/2020).

Warga Desa Legundi, Kecamatan Ketapang tersebut menyebut selama ini ban bekas hanya dibuang bahkan dibakar. Namun pemanfaatan ban berbahan karet bisa memberi nilai tambah dengan teknik pemanfaatan tepat guna.

Mula-mula teknik pemanfaatan ban ia terapkan dengan jumlah sekitar 1000 tonggak kini mencapai 7000 tonggak.

Penambahan tonggak dengan rangkaian ban bekas yang disambung menurutnya cukup menghasilkan. Sebab usai masa panen dimulai pada pertengahan bulan Mei silam rata-rata diperoleh sekitar 6 kuintal kerang hijau bercangkang.

Usai dipanen kerang hijau akan direbus dan dikupas. Proses pengupasan kerang dengan upah Rp5.000 per kilogram menjadi sumber penghasilan sejumlah ibu rumah tangga.

“Rantai perputaran uang dari bahan bekas masih bisa memberi penghasilan jika dimanfaatkan dengan baik,” terang Amran Hadi.

Memanfaatkan sekitar 5000 ban bekas saja ia mengaku mengeluarkan modal sekitar Rp5 juta. Modal yang dikeluarkan tersebut menjadi investasi jangka panjang.

Sebab ban bekas media budidaya bisa bertahan hingga beberapa tahun. Menjual kerang hijau seharga Rp15.000 per kilogram membuat ia bisa memperoleh hasil Rp1,5 juta per kuintal.

Selain ban bekas, pemanfaatan bahan yang sulit terurai jenis botol kemasan air minum dilakukan Amran Hadi. Botol air mineral kerap dipakai sebagai pelampung untuk jalur tambang media budidaya rumput laut jenis spinosum.

Subsektor perikanan budidaya menurutnya memakai bahan bekas setelah melalui proses pembelajaran belasan tahun.

“Semula pelampung berasal dari bahan pabrikan namun kerap hilang dari styrofoam dengan harga mahal,” cetusnya.

Pemakaian bahan bekas botol plastik air mineral diakuinya mulai membantu pembudidaya. Sebab bahan botol plastik mudah diperoleh dari pengepul sampah.

Pelampung dari botol plastik bekas air minum kemasan dibeli seharga Rp500 dengan kebutuhan hingga ribuan botol. Saat mengalami kerusakan proses penggantian dilakukan dengan botol bekas yang baru.

Meski memakai pelampung plastik bekas namun Amran Hadi menyebut rumput laut tetap produktif. Harga rumput laut kering mencapai Rp10.000 per kilogram jadi sumber penghasilan selama pandemi Covid-19.

Selain itu sektor budidaya bisa menjadi pemasukan bagi warga terutama ibu rumah tangga yang tidak bekerja dengan memanen rumput laut.

Burhani, salah satu pembudidaya rumput di desa yang sama mengaku plastik botol minuman sangat berguna. Sebab pelampung dari bahan bekas tersebut efektif untuk menghasilkan rumput laut dengan biaya murah.

Burhani, salah satu pembudidaya rumput laut spinosum menunggu kiriman botol plastik bekas yang akan dipakai untuk pelampung jalur penanaman rumput laut, Rabu (3/6/2020) – Foto: Henk Widi

Plastik botol air minum diperoleh dari kiriman pencari sampah yang akan menjual kepadanya.

“Pengepul sampah sudah memiliki pelanggan tetap salah satunya pembudidaya rumput laut untuk pelampung,” bebernya.

Satu jalur tambang media tanam sepanjang 40 meter menurutnya diberi sekitar 30 botol plastik. Pelampung dari bahan bekas tersebut akan mampu digunakan selama maksimal lima kali panen.

Satu masa tanam hingga panen dibutuhkan waktu sekitar satu bulan lalu akan ditanami bibit rumput laut baru. Meski memanfaatkan bahan bekas ia menyebut budidaya rumput laut cukup menjanjikan.

Sarmiati, pengepul sampah plastik di tempat pembuangan akhir (TPA) Sidoluhur mengaku mendapat permintaan botol plastik dari pembudidaya rumput laut.

Saat dibutuhkan ia bisa menyediakan sekitar 1000 botol hasil pengumpulan selama sebulan. Sampah diperoleh dari buangan kapal di pelabuhan Bakauheni yang dibawa kendaraan pengangkut sampah.

Selama pandemi Covid-19 volume sampah plastik berkurang terutama botol air minum kemasan. Sebab penumpang pengguna kapal menurun signifikan.

Namun pekerjaan mengumpulkan sampah plastik jenis botol tetap dilakukan. Botol plastik tersebut akan dipergunakan sebagai pelampung budidaya rumput laut. Sebagian dijual ke pengepul untuk didaur ulang sebab sampah yang terbuang butuh waktu lama terurai di tanah.

Lihat juga...