Sejak Maret, Konsentrasi CO di Yogyakarta Cenderung Turun

Ilustrasi suasana lalunlintas di salah satu sudut Kota Yogyakarta saat pandemi COVID-19 – Dok CDN

YOGYAKARTA – Kualitas udara di Kota Yogyakarta, sejak Maret 2020 hingga saat ini, cenderung membaik. Salah satunya karena konsentrasi karbon monoksida (CO), sebagai satu dari lima parameter kualitas udara ambien, kondisinya terus menurun.

“Sejak terjadi pandemi COVID-19, masyarakat banyak membatasi aktivitas di luar rumah. Akibatnya, kepadatan lalu lintas pun berkurang, yang kemudian juga menurunkan tingkat emisi karbon sehingga konsentrasi karbon monoksida pun menurun,” kata Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Yogyakarta, Suyana, Sabtu (6/6/2020).

Menurutnya, masa pandemi COVID-19 merupakan momentum untuk meningkatkan kualitas lingkungan hidup. Dimulai dari lingkungan terdekat di sekitar tempat tinggal, misalnya dengan melakukan penghijauan untuk menjaga kualitas udara. Berdasarkan data, konsentrasi karbon monoksida (CO) pada Maret mencapai 4.169 mikrogram per meter kubik. Dan turun menjadi 3.820 mikrogram per meter kubuk pada April. Kemudian kembali turun menjadi 2.426 mikro gram per meter kubik di Mei.

Konsentrasi CO pada Mei tersebut berkurang hingga 42 persen dibanding Maret. Data tersebut diperoleh dari stasiun Air Quality Monitoring System (AQMS) milik Dinas Lingkungan Hidup Kota Yogyakarta.

Peralatan untuk memantau kondisi kualitas udara tersebut ditempatkan di kantor lama DLH yang berada di Kecamatan Gondokusuman. “Lokasi tersebut cukup strategis karena, mampu mewakili permukiman, dekat dengan jalan utama yang cukup padat dengan aktivitas ekonomi yaitu Jalan Urip Sumoharjo, dan dekat dengan bengkel besar milik PT KAI,“ katanya.

Radius pemantauan AQMS bisa mencapai area berjarak dua kilometer dari alat. Dan dengan penurunan konsentrasi karbon monoksida selama tiga bulan terakhir, diharapkan dapat dipertahankan. Termasuk jika seluruh aktivitas masyarakat berangsur-angsur kembali normal. “Jika aktivitas masyarakat meningkat, maka konsentrasi CO pun akan meningkat. Yang sulit adalah menjaga konsentrasi pencemar udara tetap rendah di tengah meningkatnya aktivitas masyarakat,” tandasnya.

Selain penurunan konsentrasi karbon monoksida, selama pandemi COVID-19 juga terjadi penurunan volume sampah sekitar 20 persen. (Ant)

Lihat juga...