Sepasang Pengantin di Candi Sukuh

CERPEN SUNARYO BROTO

FOTO itu sudah enam tahun lalu dibuatnya. Saat itu waktu libur sehabis lebaran. Suto masih karyawan sebuah perusahaan di Kalimantan Timur. Suto ingin membuat foto yang berkesan di depan ikon kota kelahirannya, Karanganyar.

Saat itu susah mengumpulkan anggota keluarganya. Kedua anaknya sudah kuliah di Yogya dan Jember. Hanya anak ragil yang masih sekolah bersama kedua orang tuanya di Bontang. Saat lebaran sengaja Suto mengajak keluarganya sekedar foto di depan Candi Sukuh.

Awalnya susah tetapi setelah diyakinkan maka jadilah foto itu, Mereka berlima berdiri berjejer sambil tersenyum lebar dengan memakai kain kotak-kotak di depan Candi Sukuh. Mereka masih mengulangi foto keluarga di beberapa tempat ikonik.

Siapa sangka, anak perempuan sulungnya, setelah lulus kuliah dan mau menikah, meminta resepsi di depan Candi Sukuh? Anak ini memang hobi jalan-jalan, mirip dengan kesenangan bapaknya. Dia sudah mendaki beberapa gunung di Jawa. Di antaranya Gunung Raung, Arjuno dan Merbabu. Dia yang memintanya dan Suto masih berpikir bagaimana caranya.

Suto sudah 2 tahun pensiun dan hidup menyepi dengan istrinya di rumah desa Berjo, di lereng Gunung Lawu. Hanya sekitar 1 km dari Candi Sukuh, candi tinggalan laskar Majapahit menjelang keruntuhannya tahun 1478.

Candi itu ditemukan pada tahun 1815 oleh Johnson, Residen Surakarta kala ditugasi oleh Thomas Stanford Raffles waktu menulis bukunya The History of Java. Van der Vlis, arkeolog Belanda, melakukan penelitian pada tahun 1842 dan dipugar pada tahun 1928.

Mereka benar-benar hidup sebagai orang desa. Rumahnya seperti vila dengan kebun yang luas yang berisi aneka tanaman. Dari kebun bunga, sayur sampai buah-buahan. Suto gembira karena dapat mengingat masa kecilnya yang bahagia.

Apa yang Suto lakukan persis apa yang dilakukan pada saat klas 3 SD sebagaimana saat itu gurunya bertanya pada para muridnya, “Apa pekerjaanmu di rumah?” Giliran Suto dengan lantang menjawab, “Makan ayam”. Seluruh kelas tertawa. Pekerjaannya enak betul. Tetapi yang dimaksud Suto memberi makan ayam, tetapi tercampur antara bahasa Indonesia dan Jawa.

Suto beternak ayam kampung, bebek, menthok. Dia membuat kolam ikan 3 petak dengan diisi ikan mujair, nila dan lele. Dia mencari ikan yang tahan hidup dengan kualitas air minim. Supaya mudah memeliharanya.

Dulu Suto memelihara ayam kampung sudah sampai belasan. Ada dua kandang ayam dan kalau pagi ayam itu dilepasnya. Kandang itu yang membuat bapaknya. Pagi sebelum berangkat ke sekolah dia buat adonan makanan ayam dari sisa nasi, sayur dicampur bekatul lalu ditaruh pada suatu wadah di atas tanah.

Ayam-ayam makan dengan sendirinya. Kalau malam, ayam akan pulang sendiri ke kandangnya. Beberapa dari ayam itu bertelur di petarangan yang sudah disiapkan Suto di belakang rumah. Satu ayam bisa bertelur sekitar 15 telur sekali periode. Setiap hari ayam akan berkotek sebagai tanda selesai bertelur.

Dalam waktu sama bisa 3-4 ayam bertelur. Telur itu sebagian ditetaskan dan sebagian untuk lauk. Kadang kalau pagi, ibu suka mengajak Suto ke pasar dan disuruh membawa 20-an telur. Suto tahu, ibu memerlukan uang untuk belanja ke pasar.

Sedang gaji bapaknya nampaknya hanya cukup standar hidup minimal. Ayam-ayam itu tak henti bertelur, bergantian. Kadang juga ayam jantan bisa dijual karena kalau kebanyakan ayam jago sering berkelahi. Itu saatnya menjual ayam.

Memelihara bebek meski kotorannya bau tetapi mengasyikkan juga. Suto tak banyak memelihara bebek, hanya sekitar 20 bebek dengan 1 jantan. Sama dengan ayam, bebek ini tiap pagi diberi makan dengan adonan bekatul dan potongan daging bekicot.

Banyak sekali bekicot di kebun pisang Suto dan tinggal mengambil saja. Yang banyak bekicot di antara pohon pisang yang telah mati. Bergerombol banyak bekicot. Setelah itu bebek dilepas di kolam atau sungai kecil.

Kalau sore bila sempat, bebek ini digembalakan ke sawah atau sungai di dekat rumahnya. Bila pagi saatnya mengambil telur-telur ini. Lumayan, bisa sampai 15 telur tiap hari. Telur ini sebagian besar dijual, dan sisanya untuk lauk atau ditetaskan. Kalau menthok, dibiarkan saja di halaman rumah. Pemeliharaannya mirip ayam.

Suto begitu menikmati hari-harinya. Kesibukannya berseling dengan berkebun. Suto sudah menyiapkan kebun yang luas untuk pensiunnya. Luasnya ada 2000 meter persegi. Dia menanam apa saja yang berguna.

Dari tanaman sayuran, kenikir, bayam, kangkung, terong, tomat, cabai dan lainnya. Tanaman seperti singkong, ketela sampai tanaman buah pisang, pepaya, mangga, jambu, belimbing, jeruk, kelengkeng, durian, alpokat, dan lain-lain.

Di beberapa sudut ditanam aneka bunga. Ada bunga mawar, melati, krisan, marigold, sansivera, adenium dan lainnya. Di pinggirnya ditanam kurma. Oh iya Suto sudah mempelajari cara bertanam kurma dan sudah menyiapkan 3 tahun sebelum pensiun.

Dia berburu bibit kurma betina dengan kultur jaringan, anakan betina atau menanam dari biji. Semua ditekuninya untuk menyiapkan masa pensiunnya.

Kadang dia membayangkan masa kecilnya bersama bapaknya. Waktu kecil kebunnya juga luas. Hampir semua tanaman dan peliharaan yang dipunyai sekarang, dulu juga punya. Saat itu yang membimbing bapaknya.

Suto hanya membantu. Bahkan saat itu Suto punya tanaman kapuk randu, jeruk nipis, tebu, lengkuas, jahe, sembukan, lamtoro, nangka dan lainnya. Komplet untuk urusan dapur. Kalau sore, bapaknya mengumpulkan kayu dan membelahnya. Lalu dijemur.

Suto suka membelah pelepah daun kelapa yang sudah kering. Lalu mengumpulkan biting atau batang daun untuk dibuat sapu. Semua kayu kering bisa dipakai untuk memasak. Kapuk randu dibuat kasur sama ibunya.

Suto bersama saudaranya membantu ibu memisahkan kapas dengan bijinya dengan alat seperti ranting yang diputar dengan kedua tangan. Lalu kapasnya dimasukkan kain yang telah disiapkan ibunya. Jadilah kasur atau bantal untuk alas tidur yang nyaman.

Hanya bedanya dulu rumahnya jauh dari masjid dan tidak terdengar azan. Sekarang Suto sengaja mencari rumah dekat masjid supaya bisa salat tepat waktu dan berjamaah di masjid. Suto istirahat setelah salat Zuhur di masjid. Lalu membaca sambil tidur siang. Magrib sampai Isya, dipakai untuk mengaji.

Dia sudah bertekad tiap hari mengaji antara 0,5-1 juz. Dia sudah melakukan jauh sebelum pensiun. Malamnya dia habiskan untuk membaca buku. Koleksi buku dan e-booknya banyak sekali, tinggal dia baca satu-satu sambil menulis cerpen atau esai. Sesekali tulisannya dimuat di koran.

Hidup sederhana ala pensiunan ternyata nikmat dan cukup. Mengurangi belanja dapur. Semua dipenuhi dari kebun sendiri. Disamping sehat juga segar. Bebas pestisida. Sayur dan buah semua dipasok dari kebun.

Ikan, daging dan telur juga dari kebun. Makan secukupnya karena memang pertimbangan kesehatan. Olah raganya berkebun. Sesekali jalan pagi sambil bergaul dan menikmati suasana. Kembali di antara waktu istirahatnya, anaknya diskusi untuk persiapan pengantinnya.

“Bapak tidak setuju ada foto pre wedding, kayak apa saja. Belum menikah sudah peluk-pelukan”. Putrinya diam. Setuju saja apa yang diinginkan bapaknya. Hanya satu permintaannya, resepsi menikah di depan Candi Sukuh.

Suto tidak ingin aneh-aneh pada resepsi anaknya. Dia hanya ingin tak ada sumbangan dan resepsi sederhana. Suto merasa cukup untuk tidak menerima sumbangan.

Dia punya tabungan. Yang diundang hanya keluarga, kerabat dekat dan tetangganya. Tak perlu mengundang kawan yang dari luar kota. “Nanti merepotkan mereka,” begitu alasan Suto.

“Apa calon suamimu dan keluarganya juga sudah setuju kalau resepsi di depan Candi Sukuh?” tanya Suto meyakinkan. Si anak mengiyakan.

“Kenapa kamu ingin resepsi menikah di depan Candi Sukuh?” tanya Suto pada putrinya.

“Ya pengin saja. Kan sudah ada yang resepsi di Candi Prambanan. Lha jauh, ini yang dekat di Candi Sukuh saja. Bagi saya Candi Sukuh itu eksotik. Tak ada candi seperti itu di Indonesia, mirip piramid di Mesir atau suku Maya di Meksiko. Kalau harus ke sana kan mahal biayanya. Ini sudah ada di kampung halaman. Saya ingin sesuatu yang lain. Kalau dipasang di instagram kan eksotik. Rasanya belum ada di Indonesia ha..ha..”

Suto juga senang. Anaknya berpikir anti-mainstream. Artinya tidak seperti orang kebanyakan. Kalau resepsi menikah di hotel dan tempat mewah lainnya sudah biasa. Dia ingin resepsinya di tempat yang tidak biasa. Supaya tamunya juga berkesan.

Setelah berunding dengan istri dan keluarga lainnya, rasanya tak ada yang keberatan. Secara syariah juga tak ada yang dilanggar. Kan hanya resepsi saja. Nanti dibuat semacam tarub out door untuk para tamu.

Lalu Suto mengurus keperluan menikah anaknya. Dia juga bingung dari mana awal mengurusnya. Dia hanya tahu candi Sukuh itu di bawah Dinas Purbakala atau Dinas Pariwisata. Dia bertanya dulu pada aparat kelurahan. Dia menghadap ke Pak Lurah.

Awalnya Pak Lurah juga bingung, kok ada warganya yang mau resepsi menikah di Candi Sukuh. Tetapi memang tak ada yang dilanggar. Mungkin hanya pembatasan pengunjung saja, nanti dibicarakan dengan instansi terkait. Atau asal mau membayar semacam uang sewanya. Suto juga menemui Dinas Pariwisata dan tak ada masalah.
***
PAGI itu udara segar. Matahari yang biasanya sering bersembunyi di balik awan juga tersenyum memperlihatkan diri. Meski terang hawanya tetap sejuk. Pohon pinus berdiri berjejer. Bergoyang-goyang ditiup angin.

Dahan dan daun melambai-lambai. Di belakang candi nampak pepohonan hutan yang masih hijau. Patung-patung di sekitar candi seakan menatap menjadi saksi resepsi pernikahan itu.

Secara keseluruhan bangunan candi ini memang cantik. Suto sudah mengaguminya sejak pertama kali melihatnya, klas 2 SD. Lalu beberapa kali mengunjunginya. Seolah tak bosan. Pada teras pertama terdapat gapura utama.

Pada gapura ini ada sebuah candra sangkala dalam bahasa Jawa yang berbunyi gapura buta abara wong. Artinya dalam bahasa Indonesia adalah “Gapura sang raksasa memangsa manusia”. Kata-kata ini memiliki makna 9, 5, 3, dan 1. Jika dibalik maka didapatkan tahun 1359 Saka atau tahun 1437 Masehi.

Gapura pada teras kedua sudah rusak. Di kanan dan kiri gapura ada patung penjaga pintu atau dwarapala, namun dalam keadaan rusak dan sudah tidak jelas bentuknya. Gapura sudah tidak beratap dan pada teras ini tidak dijumpai banyak patung.

Namun pada gapura ini terdapat sebuah candrasangkala pula dalam bahasa Jawa yang berbunyi gajah wiku anahut buntut. Artinya dalam bahasa Indonesia adalah “Gajah pendeta menggigit ekor”. Kata-kata ini memiliki makna 8, 7, 3, dan 1. Jika dibalik maka didapatkan tahun 1378 Saka atau tahun 1456 Masehi. Ada selisih hampir dua puluh tahun dengan gapura di teras pertama.

Pada teras ketiga ini terdapat pelataran besar dengan candi utama dan beberapa potong relief di sebelah kiri serta patung-patung di sebelah kanan. Candi utama berbentuk piramida dan ada lorong tangga menuju atas di tengahnya.

Tepat di atas candi utama di bagian tengah terdapat sebuah bujur sangkar yang sekarang untuk tempat menaruh sesajian. Ada bekas-bekas kemenyan, dupa dan hio yang dibakar dan masih dipergunakan sampai sekarang.

Terpisah dari candi, ada beberapa relief. Dari beberapa sumber, relief pertama, bercerita tentang Nakula dan Sadewa, saudara Pandawa Lima. Sadewa berjongkok diikuti oleh pengiringnya dan di hadapannya Dewi Durga, juga disertai pengiringnya.

Pada relief kedua, Dewi Durga berubah menjadi seorang raksasa wanita dengan wajah mengerikan. Disertai pengawalnya, Kalantaka dan Kalañjaya. Dewi Durga mengancam akan membunuh Sadewa.

Sadewa terikat pada sebuah pohon dan diancam dibunuh dengan pedang karena tidak mau membebaskan Durga. Di belakangnya terlihat Semar. Pada relief ketiga digambarkan, Sadewa bersama Semar berhadapan dengan pertapa buta bernama Tambrapetra dan putrinya Ni Padapa di pertapaan Prangalas. Sadewa akan menyembuhkannya dari kebutaannya.

Pada relief keempat, ada adegan di sebuah taman indah. Sadewa bercengkerama dengan Tambrapetra dan putrinya Ni Padapa serta seorang punakawan di pertapaan Prangalas. Tambrapetra berterima kasih dan memberikan putrinya kepada Sadewa untuk dinikahinya.

Relief kelima menggambarkan adegan Bima bertanding dengan kedua raksasa Kalantaka dan Kalanjaya. Bima mengangkat kedua raksasa tersebut untuk dibunuh dengan kuku pancanakanya.

Pada bagian kanan terdapat dua buah patung Garuda yang merupakan bagian dari cerita pencarian tirta amerta (air kehidupan). Pada bagian ekor sang Garuda terdapat sebuah prasasti berhuruf antara Pallawa dan Kawi.

Suto yang pengagum huruf-huruf kuno, suka memandang tulisan itu. Suto membatin, “Luar biasa. Hampir 500 tahun lalu, leluhurnya sudah mempunyai tradisi menulis.”

Terdapat juga tiga patung kura-kura yang melambangkan bumi dan penjelmaan Dewa Wisnu. Bentuk kura-kura ini menyerupai meja dan ada kemungkinan memang didesain sebagai tempat menaruh sesajian.

Ada juga beberapa patung hewan berbentuk celeng (babi hutan) dan gajah berpelana. Pada zaman dahulu para ksatria dan kaum bangsawan berwahana gajah.

Di depan Candi Sukuh sudah berdiri tarup dengan banyak kursi resepsi. Aneka makanan menu desa sudah dihidangkan. Ada bothok, sembukan, bongko, pelas, gudangan, sambel tumpang, oblok-oblok, soto, gudeg, sate lontong, dan lainnya.

Tentunya ada selat Solo kesukaan istrinya. Suto dan istri berpakaian Jawa lengkap. Begitu juga dengan anggota keluarga lain dan siap menyambut tamu. Mereka menampilkan senyum terbaiknya.

Para tamu berdatangan. Semua duduk setara. Tak ada tatanan tamu VIP seperti biasa dia hadir kalau resepsi. Bagi Suto semua tamu spesial baginya. Mereka sudah menyempatkan datang dan mendoakan mempelai. Baginya ini sudah cukup.

Memang tak terlalu banyak karena keterbatasan tempat. Musik gamelan Jawa mengalun dengan lembut. Pembawa acara menata pelaksanaannya. Suto dengan ramah menyambut para tamunya. Berbaur dan bercakap akrab.

Mereka menikmati suasana. Menikmati hidangannya. Sebagian besar mereka berdecak kagum pada resepsi di depan candi. Mereka baru sekali ini mendatangi resepsi di depan candi. Biasanya ke candi itu rekreasi tetapi ini menghadiri resepsi.

Mereka senang sekali. Waktu menerima undangan dengan gambar sketsa Candi Sukuh, mereka sudah heran. Unik undangannya. Mereka antusias ingin datang. Ingin menghadiri sesuatu yang lain dari biasanya.

Seusai resepsi para tamu mampir melihat candi dan sibuk berfoto di antara batu candi. Mereka mendekat patung kura-kura yang melambangkan penjaga bumi. Ada 3 patung kura-kura besar. Atau patung manusia garuda yang sudah tidak utuh.

Mereka senang. Mereka mendekat relief yang menggambarkan proses kelahiran manusia, dari bayi sampai mati. Sebagian juga menuju pintu gerbang depan untuk melihat relief langka di lantai batu, lingga yoni dalam bentuk mendekati aslinya. Karena relief ini Candi Sukuh kadang dijuluki candi porno.

Kebanyakan memilih berpose di depan tangga candi berbentuk piramid terbelah itu. Sepertinya keren. Memang indah candi ini. Tak ada duanya. Terlebih kalau malam diberi sinar laser seperti tiga piramid di Giza, Kairo.

Wow bakal menjadi pemandangan spektakuler.

“Boleh juga selera anakku,” batin Suto.

Sepasang pengantin itu tersenyum ceria di depan Candi Sukuh. Mereka berfoto bersama dengan latar belakang Candi Sukuh. Dan itu baru pertama kali dilakukan.

Suto menggamit tangan istrinya dan tersenyum melihat kegembiraan putrinya. Ternyata tak harus mewah untuk sebuah resepsi yang berkesan. Tak disangka ada media cetak dan TV yang meliputnya. Mereka mewawancarai Suto, pengantin dan beberapa tamunya.

Suto memandang dengan wajah ceria. Rasanya tak ada lelah meski telah begadangan mempersiapkannya. Dalam hatinya berkata, setidaknya anak putrinya senang dapat memposting fotonya di instagram miliknya. Juga para tamu memposting di media sosial. Juga liputan media. Siapa tahu itu juga bisa memajukan pariwisata di daerahnya.

Suto tersenyum puas. Memeluk sepasang pengantin itu dengan terharu. Dia berbisik, “Seperti juga resepsi ini. Semoga jalanmu nanti lancar. Carilah jalan hidup yang tidak seperti kebanyakan orang. Nanti kamu akan dikenang. Hati-hati dan selalu bersyukur, hidup rumah tanggamu baru berawal.”

Kedua pengantin itu tersenyum.

“Jalan lupa mendaftar haji karena daftar tunggumu mencapai 25 tahun. Kalau tidak mendaftar sekarang keburu tua nantinya he..he,” pesan Suto. ***

Sunaryo Broto, penyuka sastra yang bekerja di Pupuk Kaltim Bontang. Ia pernah mendapatkan penghargaan nomine Tokoh Kebahasaan 2019 Kategori Pegiat Literasi Kaltim-Kaltara dari Balai Bahasa Kalimantan Timur.

Redaksi menerima cerpen. Tema bebas tidak SARA. Cerpen yang dikirim orisinal, hanya dikirim ke Cendana News, belum pernah tayang di media lain baik cetak, online atau buku. Kirim karya ke editorcendana@gmail.com. Karya yang akan ditayangkan dikonfirmasi terlebih dahulu. Jika lebih dari sebulan sejak pengiriman tak ada kabar, dipersilakan dikirim ke media lain. Disediakan honorarium bagi karya yang ditayangkan.

Lihat juga...