Tren Berkebun Meningkat, Anthurium Kembali Terangkat

Editor: Makmun Hidayat

SEMARANG — Tanaman anthurium sempat booming di tahun 2007-an. Tingginya permintaan, membuat harganya pun sampai gila-gilaan. 13 tahun lalu, harga anthurium dihitung berdasarkan jumlah daun. Kisarannya, antara Rp300 ribu – Rp500 ribu per daun, bahkan ada yang sampai harga puluhan juta.

Kesan mewah dan eksklusif membuat anthurium diburu banyak orang meski harganya mahal. Tak hanya diincar oleh mereka yang hobi, tetapi juga dibeli untuk dijual kembali. Kebanyakan dibeli sejak masih bibit, kemudian dirawat dan dibesarkan. Anthurium pun menjadi bisnis yang menggiurkan.

Namun, saat di puncak kejayaan dengan harga yang luar biasa, tiba-tiba harga anthurium turun drastis. Dari semula harga puluhan juta, langsung drop hingga tidak laku dijual. Banyak pedagang hingga spekulan, yang bangkrut waktu itu.

Penurunan harga tersebut diduga karena jumlah pedagang anthurium terus bertambah, stok semakin banyak, sementara masyarakat sudah mulai jenuh, sehingga harga turun dengan cepat.

Kini, cerita sama kembali terulang, meski tidak se-bombastis di awal kemunculannya. Seiring tren berkebun yang terus meningkat, di tengah pandemi Covid-19. Permintaan anthurium, diantaranya jenis jemani dan gelombang cinta mulai naik.

“Permintaan untuk anthurium jemani dan gelombang cinta, sudah mulai ada. Harganya juga naik, khususnya jemani. Saya jual Rp85 ribu per pot, dengan lima hingga tujuh helai daun ukuran sedang,” papar Budi Sampurno, pedagang tanaman hias di kawasan Pedalangan Semarang, Senin (29/6/2020).

Budi Sampurno, pedagang tanaman hias di kawasan Pedalangan Semarang, menunjukkan Anthurium Jemani yang dijualnya, saat ditemui, Senin (29/6/2020). -Foto Arixc Ardana

Diakuinya, meski tidak sedrastis dulu, namun dirinya mengaku jika harga anthurium merambat naik. “Dulu, jangankan beli, orang dikasih saja tidak mau. Namun sekarang, seiring tren berkebun meningkat, anthurium kembali dicari,” jelasnya.

Daya tarik anthurium adalah bentuk daunnya yang indah, unik, dan bervariasi. Daun anthurium khususnya jemani, berwarna hijau dengan urat dan tulang daun besar mirip daun tembakau. Konon, dulu anthurium banyak menjadi hiasan taman dan istana kerajaan-kerajaan di Jawa, sehingga dikenal sebagai tanaman para raja.

“Kalau gelombang cinta, karakter daunnya berbeda dengan jemani. Sesuai dengan namanya, daunnya bergelombang memanjang. Dulu saat tren, harga gelombang cinta dan jemani, bisa sampai puluhan juta kalau sudah berukuran besar,” terangnya lagi.

Sugiyo memaparkan, perawatan tanaman anthurium sangat mudah. Cukup rutin disiram dan diberi pupuk. Bisa menggunakan pupuk kandang, kompos atau pupuk produksi pabrik. “Kebutuhan air anthurium cukup tinggi, kalau kurang air, daunnya bisa mengering. Ditandai perubahan warna kekuningan di pinggiran daun, kalau sudah begitu sebaiknya di taruh di tempat teduh terlebih dulu, hingga membaik kembali,” jelas pria yang sudah puluhan tahun berjualan tanaman hias tersebut.

Diakuinya selain jenis jemani dan gelombang cinta, ada juga anthurium jenis persilangan hingga rekayasa gen, seperti jemani varigata, cobra atau jenis lainnya. “Namun kalau jenis baru ini, jumlahnya masih sedikit dan harganya tidak bisa diprediksi. Khusus penghobi kelas berat,” tambahnya.

Sementara, salah seorang penghobi tanaman hias, Widiyanti, mengaku memelihara tanaman anthurium karena tertarik dengan karakter daunnya, yang tegas dan rimbun.

“Sebenarnya sudah memelihara cukup lama, sekitar dua tahunan. Waktu dulu harganya masih standar. sekarang kelihatannya mulai tren lagi, saya dengar dari teman-teman sesama penghobi, harga anthurium  mulai naik lagi,” terangnya.

Meski harga naik, namun dirinya mengaku tidak tertarik untuk menjual anthurium miliknya. “Belum ada niat untuk menjualnya, meski harganya naik. Untuk dirawat sendiri saja, buat menghias sudut rumah, tapi tidak tahu juga, kalau harganya semakin tinggi. Nanti dipikirkan lagi,” pungkasnya, sembari tertawa.

Lihat juga...