Utang

CERPEN PANGERANG P. MUDA

BELUM naik ke lantai beranda sudah berbarengan mengucap salam, satu belum duduk yang satunya sudah berkata, “Titip salam dari Tuan Ambang, majikan kami. Kami datang untuk membicarakan soal utangmu.”

Sejak masuk ke halaman dengan langkah tergesa-gesa, sampai melompati tanah belecak sisa hujan semalam, Ojali sudah menduga kedua orang itu datang untuk membuatnya susah.

Perasaan Ojali mulai kecut. Karena hanya mengenakan singlet yang beberapa bagiannya bolong, ia pamit ke dalam untuk bersalin baju. Alasan sebenarnya ia ingin sejenak menenangkan diri, memutar akal mencari alasan apa lagi yang mesti ia dalihkan.

Kesempatan itu ia gunakan berlama-lama. Seusai mengganti baju, ia menyisir rambut dengan isi kepala terus berputar-putar merancang alasan berkelit. Menunggu kiriman ringgit dari adik bininya yang bekerja di Malaysia?

Atau, menunggu harga kopra naik? Atau, menunggu pertumbuhan lele di kolam belakang rumahnya sampai ukurannya cocok untuk dijual?

Keluar ke ruang tamu, ia mengintip lewat celah untai dua helai kain gorden yang tidak saling merapat. Ia mengenali wajah salah seorang tamu di luar yang datang menagih tempo hari.

Berarti alasan-alasan yang ia pikirkan tadi, tidak akan mangkus membuat mereka angkat punggung. Kelitnya lewat alasan itu sudah ia dalihkan di depan penagih itu.

Tamu di beranda ia lihat tak henti celingukan, seakan kepalanya sebentar lagi akan terlepas dari batang leher lalu mencelat ke dalam rumah mencarinya. Lagak gelisah tamu penagih itu, membuat Ojali menduga mereka sedang merencanakan sesuatu.

Jangan-jangan hendak menyerobot masuk dan berbuat kasar? Kalau itu yang terjadi, ia tak bisa apa-apa; ia hanya sendirian, sudah dua minggu bininya pulang ke rumah orang tuanya dan membawa serta kedua anaknya.

Rasa syak membuat Ojali buru-buru keluar ke beranda, duduk lunglai bagai pesakitan di depan kedua tamunya.

“Hampir kami pulang, mengira kamu malah masuk tidur.” Meski menyindir, kedua tamu itu tertawa lebar.
Kian kecut perasaan Ojali dibuatnya.

Gerak reguk jakunnya sepat. Ia teringat kepergian bininya. Himpitan kesulitan ekonomi rumah tangga tak ubahnya bensin, dan umpat saling menyalahkan berubah jadi geretan; setiap bergesek, api pertengkaran murup.

Hiruk perselisihan itu kian kerap sampai bininya memilih menyingkir dulu. Ingatan itu ikut menjalarkan rasa tak nyaman ke mana-mana: perutnya mulai melilit, sepertinya asam lambung di dalam sedang bergolak menebar rasa perih, menjalar ke bawah, ia rasakan sendi-sendi kakinya ngilu dan goyah, seakan mau berlepasan.

“Sepertinya kamu kurang sehat,” dari seberang meja, ujar salah seorang tamunya membuat Ojali sedikit terperangah. Rupanya sore ini Tuan Ambang mengirim penagih utang yang lebih perhatian dari sebelum-sebelumnya.

Biasanya penagih suruhannya hanya bisa mengumpat dalam kalimat-kalimat kasar yang tak pernah habis. Ojali yakin Tuan Ambang mengubah taktik dalam menagih.

Muka sangar dengan sikap kasar dari penagih yang diutus sebelumnya, yang tidak mangkus membuat ia tergopoh-gopoh membayar, rupanya membuat Tuan Ambang memilih cara sebaliknya –meski sebenarnya Ojali bukan tidak mau membayar tapi memang belum mampu membayar. Jadi digertak dengan wajah seseram apa pun ia tetap tak bergeming.

“Majikan kami setuju dengan cara penyelesaian utang kamu,” ujar yang seorang lagi. “Makanya kami diutus untuk menyampaikan.”

Ojali menyembunyikan ringis heran ketika tamu itu berbicara lagi, “Selama ini, majikan kami telah keliru menilai, mengira kamu orang yang tak tahu diri. Sudah diberi pinjaman, berkali-kali pula, giliran utang jatuh tempo malah menghindar membayar. Kami mengira kamu sengaja mau mengemplang utang.”

Lalu berbarengan kedua tamu itu tertawa. “Ternyata kamu punya cara lain untuk membayarnya, dan majikan kami setuju. Dia malah sangat suka cara itu.”

Teduh senyum tamu itu seperti hendak mengalahkan sejuk udara sore. “Jadi secepatnya kamu temui Tuan Ambang untuk penyelesaiannya.”

Cukup lama setelah pergi, Ojali masih terus memain-mainkan di dalam kepalanya ucapan yang tadi dibabar kedua tamu itu. Ia bingung: angsuran utangnya yang macet tidak pernah ia bicarakan dengan Tuan Ambang, tidak pernah pula ia bayar.
***
SEPEKAN lampau, juga datang dua orang penagih utang suruhan Tuan Ambang, menghardik, “Jangan pernah menyebut majikan kami rentenir!”

Di samping menagih, orang itu bermaksud pula menyumpal mulut Ojali karena sering curhat kepada banyak orang bahwa bilangan utangnya pada Tuan Ambang terus bertambah, meski ia tidak pernah menambah utang.

Bunga utangnya yang jatuh tempo dialihkan menjadi utang pokok, dan dikenai pula bunga baru sehingga menjadi bunga-berbunga.

Baca Juga

“Usaha majikan kami disebut ‘bank perseorangan’, artinya membantu meminjami orang yang mendadak butuh dana segar. Paham?” ia dicecar lagi.

“Kamu sudah sering pula dibantunya. Lalu, kenapa ke mana-mana ngomong begitu? Soal ada bunganya, ya namanya juga usaha.”

Setahun lalu, Ojali memaksa nyali mengambil pinjaman dari Tuan Ambang untuk membelikan motor anak sulungnya. Itu nominal pinjaman terbesar yang pernah ia minta. Sebelumnya, ia hanya berani mengajukan pinjaman bernilai kecil, karena peruntukannya memang hanya menutupi kebutuhan mendadak keluarganya.

Anak sulungnya yang sejak lulus SMA merantau ke kota mendesak minta dibelikan motor karena sangat susah mencari kerja bila tidak punya kendaraan sendiri. Beberapa perusahaan malah terang-terangan mencantumkan syarat penerimaan karyawan: ‘Harus punya kendaraan sendiri’.

Didahului silang pendapat dengan bininya yang mendesak memenuhi keinginan anaknya itu, akhirnya Ojali mengiya pasrah.

Anaknya kemudian memang mendapat pekerjaan, tapi upah dari pekerjaan itu hanya bisa menutupi biaya indekos dan makan sehari-hari, padahal semula mengaku akan menyicil sendiri pinjaman itu.

“Bila ke mana-mana masih menyebut majikan kami rentenir, kami akan memperkarakanmu!” salak suruhan Tuan Ambang serasa masih menampar-nampar telinga Ojali.

Selama ini, pinjaman kecil-kecil yang Ojali ambil bisa ditutupi dari penjualan kopranya, atau hasil panen lele dari kolam yang ada di belakang rumahnya. Sesekali pula ia minta bantuan dari adik bininya yang menjadi pekerja kebun sawit di Malaysia.

Sedangkan angsuran utang pembelian motor anaknya itu, benar-benar membuatnya tak berkutik. Baru tiga kali menyicil dari yang seharusnya 30 kali, angsuran itu macet. Padahal sudah jalan setahun dua bulan.

Jadi cicilan yang harus terbayar sudah 14 kali. Karena desakan bininya sampai ia bernyali mengambil utang itu, membuat ia berbalik menyalahkan bininya, akibatnya kembali menyulut pertengkaran. Dengan jemawa bininya bilang masih untung ada Tuan Ambang yang mau meminjamkan, apalagi prosesnya lebih mudah dan cepat dibanding menyicil motor lewat perusahaan pembiayaan.

Dan jika menunggak, masih bisa pula dibicarakan ulang untuk dimundurkan angsurannya, meski dengan risiko bunga utang bertambah. Kemudahan itu justru kemudian membuatnya dililit kesusahan.

Ancar-ancar sumber pembayar angsuran utang ternyata meleset pula: hasil panen kopra tidak seberapa dan harganya terus turun; ukuran lele peliharaan di kolam belakang rumah sepertinya tidak mau bertambah besar; dan adik bininya di Malaysia, yang biasa ia mintai bantuan, malah ikut mengeluh, “Saya tidak bisa bantu, Kak, tiga ponakanmu di sini juga sudah besar, sudah pada butuh biaya banyak.”

Sehari-hari, Ojali juga mesti terus membiayai kebutuhan keluarga dengan dua anak yang masih bersekolah. Renteng masalah itu di samping membuat omelan bininya bertambah nyaring, membuatnya pula kian mati akal.

Akhirnya Ojali pasrah saja, membiarkan cicilan utang motor itu terus berjalan, dari bulan ke bulan, membuat bunga utangnya terus pula berbunga; sampai dengan kedatangan dua orang suruhan Tuan Ambang yang membuatnya terheran-heran: dengan cara apa ia telah membayar, sampai Tuan Ambang bilang setuju dengan cara penyelesaian utangnya?
***
DUA setengah hari Ojali menimbang sebelum bernyali ke rumah Tuan Ambang. Sempat mampir di pikirannya ia sengaja dipancing ke sana, dan orang-orang Tuan Ambang sudah siap mengepruknya.

Namun, melihat tak satu pun orang Tuan Ambang muncul, membuat Ojali memperbesar nyali. Sahibul bait tertawa-tawa senang melihatnya datang. Setelah ia duduk, Tuan Ambang sejenak ke ruang dalam, dan keluar membawa seikat uang lembaran seratus ribu.

Uang itu diletakkan di depan Ojali, diiringi maklumat, “Saya berusaha adil, saya tidak ingin ada yang merasa dirugikan. Jadi kelebihan harganya, setelah dipotong total utang kamu, saya bagi dua. Separuh sudah diambil istrimu, dan ini separuhnya untuk kamu. Seperti itu keinginan istrimu. Percayalah, besaran harganya memang cuma segitu di pasaran.”

Mulut Ojali menganga, tidak paham, yang disambut ngakak Tuan Ambang. “Dengar-dengar, kamu ada masalah dengan istrimu, ya? Biasalah dalam rumah tangga, perempuan kalau kebutuhan belanjanya tidak tercukupi tentulah marah-marah. Makanya dengan cara pembayaran model begini, saya rasa sudah cocok, kok. Istrimu dapat bagian, kamu dapat bagian, utangmu lunas semua. Betapa adilnya.”

Karena mulut Ojali tidak juga terkatup, tuan rumah segera memperjelas, “Tempo hari, istrimu datang menawarkan jalan penyelesaian utangmu dengan cara saya mengambil alih kebun kelapamu, yang tidak seberapa luas itu, dan nilainya diperhitungkan untuk menutupi total utangmu. Bila masih ada sisanya, akan diserahkan ke kalian sebagai uang tunai. Begitu kesepakatannya.”

Menyerahkan kebun kelapa warisan bapak mertuanya itu sebagai pembayar utang kepada Tuan Ambang sama saja memusnahkan sumber penghasilan keluarganya. Ojali melengung, merasai tubuhnya mendadak meriang.

Rahangnya mengertap meredam geram. Tanpa kedip, ia menatap murka pada Tuan Ambang yang di matanya sudah berubah jadi makhluk mengerikan, dan ia ingin sekali melihat seperti apa paras si ‘makhluk mengerikan’ ini bila dicekik sampai megap-megap kehabisan napas.

Segera mengancang-ancang, Ojali siap menerjang. ***

Pangerang P. Muda, menulis cerpen di beberapa media cetak dan daring. Telah menerbitkan tiga buku kumpulan cerpen, yang terbaru Tanah Orang-orang Hilang (Penerbit Basabasi, 2019). Sehari-harinya berdomisili di Parepare, Sulawesi Selatan.

Redaksi menerima cerpen. Tema bebas tidak SARA. Cerpen yang dikirim orisinal, hanya dikirim ke Cendana News, belum pernah tayang di media lain baik cetak, online atau buku. Kirim karya ke editorcendana@gmail.com. Karya yang akan ditayangkan dikonfirmasi terlebih dahulu. Jika lebih dari sebulan sejak pengiriman tak ada kabar, dipersilakan dikirim ke media lain. Disediakan honorarium bagi karya yang ditayangkan.

Lihat juga...