Wagub: Omzet UMKM di Sumbar Capai Rp50 Miliar per Tahun

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

Wakil Gubernur Sumatera Barat Nasrul Abit saat berada di Kota Bukittinggi melihat penerapan new normal, Selasa (23/6/2020)/Foto: M. Noli Hendra

PADANG — Sebelum pandemi COVID-19 melanda daerah Sumatera Barat, kondisi pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) terbilang menjanjikan. Jika dikalkulasikan per tahunnya itu, omzet di seluruh daerah mencapai Rp 50 miliar per tahunnya.

Wakil Gubernur Sumatera Barat, Nasrul Abit mengatakan, melihat kepada usaha besar yang terdata kini ada sebanyak 419 unit. Sementara usaha menengah ada sebanyak 7.900 unit. Dari jumlah koperasi itu, omzet rata-rata per tahun bisa mencapai sebesar Rp2,5 miliar hingga Rp50 miliar.

Lalu untuk usaha kecil sebanyak 53.431 unit dengan pendapatan per tahun sebesar Rp300 juta sampai dengan Rp2,5 miliar. Sementara untuk usaha mikro tercatat sebanyak 531.350 unit.

“Ini adalah kondisi dimana sebelum pandemi COVID-19. Dalam kondisi new normal ini, kita mendorong pelaku UMKM tetap optimis dalam menjalani usaha. Apalagi kini sejumlah objek wisata telah dibuka,” katanya, Selasa (23/6/2020).

Nasrul mengakui bahwa kondisi akibat COVID-19 benar-benar telah membuat perekonomian pelaku UMKM terpuruk. Sebab di Sumatera Barat ini cukup banyak pelaku UMKM, terutama di kawasan objek wisata.

Kini dengan telah dibukanya kembali objek wisata, dapat dipastikan perekonomian UMKM bakal membaik secara bertahap dari waktu ke waktu.

“Saya telah melihat kondisi di Kota Bukittinggi, setelah pemerintah setempat menyatakan membuka objek wisata, pelaku UMKM langsung bergerak. Lapak-lapak yang dulu lama tersimpan di dalam toko, kini kembali disusun lagi,” jelasnya.

Sementara itu, salah seorang pedagang kaki lima di Pasar Aur Bukittinggi, Eti, mengatakan, kini aktivitas pasar kembali ramai. Berbeda waktu Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dulu, banyak toko yang tutup, dan orang yang hendak ke pasar pun tidak ada.

Kondisi yang demikian, membuat sejumlah pedagang jadi berbahagia, karena perdagangan kembali bergairah. Kendati telah diperbolehkan berdagang lagi, Eti mengakui tetap waspada terhadap Covid-19 tersebut, dengan cara tetap menggunakan masker.

“Dari pagi tadi hingga sore ini, sudah terjual kurang lebih 30 kilogram keripik singkong. Kondisi ini adalah hal baik bagi saya,” sebutnya.

Ia menyebutkan, untuk sebuah kondisi berdagang dalam situasi Covid-19, mendapatkan penjualan yang telah mencapai 30 kilogram keripik singkong itu adalah kabar yang menggembirakan. Sebab, setelah sekian lama berdiam diri di rumah tanpa penghasilan apapun, dan kini dapat menikmati kesibukan berdagang lagi.

Lihat juga...