60 Persen Museum di DIY Terdampak Covid-19

Editor: Makmun Hidayat

YOGYAKARTA — Asosiasi museum di wilayah Yogyakarta, Badan Musyawarah Musea (Barahmus) DIY menyebut sekitar 60 persen museum yang ada di wilayah Daerah lstimewa Yogyakarta mengalami kesulitan keuangan akibat pandemi Covid-19 selama beberapa bulan terakhir. 

Mayoritas museum tersebut merupakan museum swasta yang mengandalkan dana operasional dari hasil penjualan tiket masuk.

“Selama kurang lebih 3,5 bulan ini kan semua objek wisata ditutup total termasuk museum. Sehingga mereka tidak bisa mendapatkan pemasukan dari hasil penjualan tiket masuk pengunjung. Padahal semua museum sangat mengandalkan tiket masuk untuk operasional sehari-hari,” ujar Ketua Umum Barahmus DIY, Bambang Widodo belum lama ini.

Bambang mengatakan di DIY sendiri saat ini total terdapat sebanyak 38 museum. Jumlah itu terbagi dalam dua kategori yakni museum milik pemerintah, serta museum swasta yang dinaungi oleh yayasan.

Mayoritas museum di DIY selama ini menarik tiket masuk untuk pengunjung. Sementara hanya ada beberapa museum saja yang tidak menarik tiket masuk karena telah dinaungi oleh yayasan dengan sumber pendanaan yang kuat.

“Untuk museum milik pemerintah seperti Benteng Vredeburg atau Sonobudoyo mungkin tidak terlalu berpengaruh. Termasuk juga untuk museum yang yayasannya sudah kuat. Tapi untuk museum yang masih sangat mengandalkan penjualan tiket masuk kan berat. Karena tidak ada pemasukan, mereka harus mengeluarkan dana cadangan untuk biaya operasional sehari-hari, seperti melakukan perawatan dan menggaji karyawan,” ungkapnya.

Menyikapi hal tersebut, Barahmus DIY sendiri mengaku akan me-mapping atau memetakan lebih lanjut semua museum di DIY yang benar-benar terdampak Covid-19. Barahmus DIY juga mengaku akan memberikan stimulus bagi setiap museum tersebut agar bisa menyiapkan diri guna memasuki masa new normal yang ditetapkan pemerintah. Yakni dengan menerapkan protokol kesehatan bagi setiap pengunjung.

“Akan kita data lebih lanjut. Nanti akan kita beri stimulus. Seperti misalnya kita beri APD, thermo gun, dan sebagainya. Jika ada museum yang belum memiliki cukup alat-alat untuk menjalankan protokol kesehatan bisa mengajukan. Nanti akan kita upayakan agar bisa dibantu,” pungkasnya.

Lihat juga...