Ahli Jelaskan Sebab Banyaknya Kapal Karam di Indonesia

Editor: Koko Triarko

JAKARTA – Banyaknya kapal karam di Indonesia, yang saat ini menjadi salah satu objek penelitian, baik oleh sektor arkeologi maupun oseanografi, diperkirakan sebagai akibat belum adanya teknologi yang memadai untuk mencitrakan keberadaan perairan Indonesia, dan untuk memprediksi pergerakan arus, gelombang dan kondisi angin di Indonesia.

Ahli Oseanografi Pusat Riset Kelautan (Pusriskel), Widodo Setiyo Pranowo, menyatakan pengukuran batimetri harus dilakukan secara reguler untuk memberikan informasi terkait jalur pelayaran yang aman. Karena kondisi permukaan air laut mempengaruhi keberadaan kapal di perairan Indonesia.

Ahli Oseanografi Pusat Riset Kelautan (Pusriskel), Widodo Setiyo Pranowo, saat seminar online  LRSDKP,  Rabu (29/7/2020). –Foto: Ranny Supusepa

“Begitu pula pengaruh monsoon atau kondisi iklim yang dipengaruhi oleh wilayah daratan di seputar Indonesia dan arus laut Indonesia, juga harus dipertimbangkan sebagai kondisi yang mempengaruhi kondisi kapal saat mengarungi perairan Indonesia,” kata Widodo, saat seminar online, Rabu (29/7/2020).

Ditambah dengan padatnya pelayaran di Indonesia yang tercatat sudah terjadi sejak dahulu kala.

“Pertimbangan adanya peperangan pada zaman dahulu, juga dapat dijadikan salah satu penyebab, mengapa banyak ditemukan kapal karam di Indonesia,” ujarnya.

Kalau melihat pada lokasi kapal karam, ia menyatakan ada beberapa penyebab kapal karam, yaitu cuaca buruk dan kurangnya peralatan navigasi yang memadai.

“Salah satu contohnya, kita lihat kapal karam banyak yang terjadi di Segitiga Masalembo, yang merupakan daerah terjadinya arus laut dengan massa air yang sangat besar, kemudian berbelok saat adanya area dangkal. Sehingga, ini bisa menjadi salah satu penjelasan mengapa banyak kapal karam di area ini,” urainya.

Hal ini bisa terlihat, saat KRI Teluk Jakarta kandas di Teluk Masalembo pada 2020, baru lalu.

“Panjang gelombang pun mempengaruhi bagaimana kapal bisa menghadapi gelombang. Kalau gelombangnya pendek, maka kapal akan lebih stabil jika dibandingkan gelombang memiliki panjang yang lebih daripada panjang kapal,” urainya lebih lanjut.

Keberadaan siklon tropis, juga harus dipertimbangkan sebagai faktor yang mempengaruhi keberadaan kapal di laut.

“Ditambah, keberadaan peta zaman dahulu karena belum ditemukannya echo-sounder, sehingga tampilannya belum sebagus saat sekarang. Hal ini juga bisa dipertimbangkan mengapa kapal di zaman dahulu lebih mudah karam dibandingkan zaman sekarang,” pungkasnya.

Lihat juga...