Bayar di Tempat Tingkatkan Kepercayaan Calon Pembeli ‘Online’

Editor: Koko Triarko

Jamal pengusaha muda di Kota Padang saat berfoto di kebun teh belum lama ini/ Foto: M Noli Hendra 

PADANG – Pelaku usaha dari generasi muda di daerah Provinsi Sumatra Barat memiliki cara untuk tetap mendapatkan pangsa pasar yang baik di tengah pandemi Covid-19. Tidak hanya berjualan secara online, namun juga memberlakukan transaksi cash on delivery (COD) atau bayar di tempat.

Jamal, anak muda asal Kota Padang, kini tengah menjalankan usaha menjual minyak rambut dengan berbagai merk tertentu. Dulu, Jamal membuka usahanya dengan mendirikan sebuah lapak atau pedagang kaki lima di kawasan pinggiran jalan kota.

Tapi sejak wabah Covid-19 melanda, ia tidak bisa lagi membuka lapak dagangnya, dan memilih untuk di rumah saja. Bisa dikatakan hampir dua bulan barang dagangannya tersimpan di dalam tas, di mana biasanya dia membawa barang dagangannya itu.

Sejak itu, Jamal beralih menerapkan sistem penjualan dari membuka lapak menjadi online. Media sosial menjadi modalnya untuk melakukan penjualan, sehingga bisa menjangkau banyak orang di dunia maya tersebut.

“Dulu biasanya saya mulai bukak lapak waktu sore hingga malam. Nilai jualan cukup banyak. Tapi, ketika dicoba berjualan secara online, ternyata cukup rumit juga, dan ada beberapa kendala,” katanya, Selasa (14/7/2020).

Ia menjelaskan, meski sejatinya menjalani usaha secara online dinilai hanya perlu modal akun medsos, tapi sebenarnya tidaklah demikian. Butuh cara untuk memberikan kepercayaan kepada orang yang hendak membeli barang jualan.

Persoalan ini, dinilainya biasa, karena yang namanya berjualan secara online, penjual dan pembeli tidak bertatap muka, sehingga tidak bisa memastikan kejujuran dari penjual. Untuk mensiasati persoalan itu, Jamal pun menerapkan transaksi COD.

“Saya pikir sulit juga untuk memberikan keyakinan kepada orang yang belum mereka kenal. Nilai transaksi tidak besar, hanya Rp100.000 untuk per unit barangnya. Tapi ya itu, sulit meyakinkan calon pembeli,” ujarnya.

Dengan menerapkan transaksi COD, Jamal merasa memiliki percaya diri, jika ada calon pembeli. COD adalah cara yang ternyata sangat menguntungkan dirinya dan calon pembeli.

Tapi mengingat dirinya berada di wilayah Kota Padang, Jamal pun membatasi wilayah COD, yakni hanya seputaran Kota Padang. Bagi yang ingin membeli dan berdomisili di luar Kota Padang, diarahkan untuk bertransaksi secara online, bayar dulu baru barang dikirim menggunakan kurir.

“Sejauh ini setiap orang yang meminta COD masih baik-baik saja. Nah, dengan begini usaha minyak rambut pria yang saya jual itu, mengalami peningkatan,” ujar dia.

Jamal memaparkan, dengan menerapkan transaksi COD, penjualannya per hari bisa mencapai Rp200.000. Terkadang memang ada pesanan yang sepi, sehingga jika dirata-rata per bulan penghasilan sekitar Rp2 juta.

Kini dalam situasi wabah Covid-19, Jamal tetap berjuang agar dagangannya tetap jalan. Setidaknya ia dapat pengalaman baru dalam soal niaga, mulai dari membuka lapak, berjualan online, hingga menerapkan transaksi COD.

“COD ini intinya tetap menggunakan medsos juga untuk promosi. Cuma pembayarannya saja yang berbeda. COD itu bayar sesuai nilai transaksi setelah barang diterima sesuai pesanan,” tegasnya.

Sementara itu, Kepala Bidang Perlindungan Konsumen, Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Sumatera Barat, Zaimar, mengatakan, di masa pandemi ini usaha masyarakat cukup besar beralih ke online. Hal itu didominasi oleh anak-anak muda yang kebanyakan berjualan berbagai keperluan.

“Saya melihat era digital itu ada baiknya dan ada kurang baiknya. Kalau baiknya itu, pekerjaan jadi mudah. Kurang baiknya ada risiko yang perlu ditanggung,” katanya.

Melihat dari cara inisiasi yang dilakukan oleh Jamal itu, Zaimar menyebutkan sebuah langkah yang tepat. Memberikan kepercayaan dan memberikan jaminan kondisi barang, akan dapat berdampak kepada kepercayaan pembeli.

Untuk itu, ia mendorong untuk selalu memberikan transaksi yang aman bagi konsumen dari produsen. Dengan demikian, penjualan yang dilakukan dapat terus berkembang dari waktu ke waktu.

“Kalau konsumen sudah merasa dirugikan, jangan harap mau orang lain percaya. Karena era sekarang itu, sedikit kecewa disebar di medsos, akibatnya semua orang tahu. Hal ini perlu dipastikan oleh yang punya usaha, agar dipercaya banyak orang,” harapnya.

Lihat juga...