Bingung Dideportasi, PMI Kelahiran Malaysia Ditampung Relawan NTT

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

LARANTUKA – Seorang warga negara Indonesia bernama Junison Bin Yohanes berumur 24 tahun yang dideportasi dari Malaysia bersama 24 Pekerja Migran Indonesia (PMI) lainnya asal Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) dan tiba di Mbay Kabupaten Nagekeo mengaku bingung akan nasibnya.

Warga negara Indonesia ini mengaku lahir di Keningau Negara Bagian Sabah dimana ayah dan ibunya berasal dari Pulau Sumba di NTT, namun dirinya tidak mengetahui alamat asal kedua orang tuanya termasuk sanak famili di wilayah tersebut.

“Pada bulan Juli tahun 2019 saya ditangkap di Kota Kinabalu negara bagian Sabah waktu sedang menjual singkong,” kata Junison Bin Yohanes, saat ditemui Cendana News di Yayasan Permata Bunda Berbelas Kasih, Larantuka, Flores Timur, NTT, Jumat (3/7/2020).

Junison menjelaskan, setelah ditangkap aparat keamanan karena tidak memiliki identitas kependudukan, dirinya dipenjara selama 4 bulan 20 hari di Kota Kinabalu, Sabah.

Setelah itu sambungnya, dirinya bersama para PMI lainnya dipindah ke penampungan di Kinabalu selama 2 bulan dan berlanjut ke penampungan di Kota Tawau, Sabah, Malaysia selama kurun waktu 3 bulan.

“Gara-gara wabah Corona membuat kami tertahan selama 3 bulan di rumah tahanan sehingga tanggal 3 Juni bulan lalu baru kami dikirim dari Tawau ke Nunukan, Kalimantan terus ke Pare-Pare hingga tiba di Makassar,” terangnya.

Di kota Makassar Provinsi Sulawesi Selatan ungkap Junison, dirinya bersama PMI lainnya asal NTT menjalani karantina selama 22 hari. Setelah itu lanjutnya, mereka diantar menggunakan bis ke Bulukumba dan naik kapal fery menuju Mbay, Kabupaten Nagekeo, Flores, NTT.

Dirinya mengaku saat berada di penjara di Kota Kinabalu, saat ditanya petugas dirinya mengatakan lahir di Sumba, NTT sehingga oleh Konsulat Jenderal RI di Kinabalu dibuatkan paspor untuk keluar dari Malaysia.

“Waktu di penjara saya ketemu Umar Bin Abidin berumur 41 tahun asal Kedang, Kabupaten Lembata, NTT. Makanya dia mengajak saya ke Lembata dan tinggal bersamanya,” terangnya.

Pemerintah Kabupaten Lembata terang Junison, menolak dirinya ke Lembata karena paspor sementara yang diterbitkan KJRI tempat lahirnya di Pulau Sumba. Namun dia mengaku tidak mengetahui pulau tersebut berada dimana dan keluarganya siapa saja.

“ Saya tidak mau pulang ke Malaysia lagi karena pasti dipenjara. Kalau waktu itu saya mengaku lahir di Malaysia maka saya pasti dipenjara di sana. Saya mau tinggal di Larantuka saja bersama ibu Noben di yayasan ini,” tuturnya.

Junison mengaku, setelah dirinya dipenjara kedua orang tuanya juga tidak datang menjenguk karena mereka juga tidak memiliki identitas kependudukan. Mungkin sebutnya, mereka juga sudah melarikan diri dan bersembunyi di hutan.

Benedikta BC da Silva, pemilik Yayasan Bunda Maria Berbelas Kasih, mengaku, dirinya kasihan melihat nasib Junison yang tidak tentu karena ditolak Pemerintah Kabupaten Lembata.

Noben sapaannya mengaku, bila pergi ke Sumba pun Junison tidak mengetahui anggota keluarganya di wilayah tersebut. Apalagi lanjutnya, Pulau Sumba terdapat 4 kabupaten dan sangat luas.

“Kalau dibawa ke Sumba dirinya juga tidak tahu alamat keluarga orang tuanya di sana. Makanya saya meminta ke BP3TKI Kupang agar Junison tinggal bersama saya di yayasan dan dibuatkan berita acara penyerahannya,” ungkapnya.

Noben mengaku Junison merupakan anak yang rajin dan sudah dipekerjakan di sebuah tempat usaha. Nantinya kata dia, Junison akan dibuatkan surat-surat resmi sehingga bisa kembali ke keluarganya di Malaysia.

“Saya menanyakannya apakah mau pulang, tapi kelihatan dirinya takut ditangkap dan dipenjara lagi di sana. Apalagi dia pun telah kehilangan kontak dengan orang tuanya yang juga tidak memiliki identitas kependudukan,” ungkapnya.

Lihat juga...