Bucu Kebudayaan, Cara Disbudpar Batam Melestarikan Budaya

Sejumlah pegawai Disbudpar Kota Batam membuat rumah ketupat di Bucu Kebudayaan – Foto Ant

BATAM – Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Batam Kepulauan Riau, menyiapkan Bucu Kebudayaan di kantornya, sebagai tempat pegawai untuk melestarikan budaya daerah.

Dalam upaya tersebut, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Batam sengaja menggunakan bahasa Melayu Buc,  sebagai kata ganti pojok. Hal itu untuk mendukung pelestarian bahasa daerah, sesuai dengan Pokok-pokok Kebudayaan Daerah (PPKD). “Ini merupakan upaya kami dalam mengimplementasikan Pokok-pokok Kebudayaan Daerah,” kata Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Batam, Ardiwinata, Kamis (30/7/2020).

Ardi menyatakan, dengan adanya Bucu Kebudayaan di kantornya, maka pegawai dapat memanfaatkan waktu luang dan istirahatnya untuk mempraktikkan 10 pokok pikiran kebudayaan daerah. “Di sana pegawai bisa menekat (menyulam) Tudung Manto , membuat anyaman tikar, keranjang dari daun pandan dan banyak lainnya,” rincinya.

Dan sehari menjelang Iduladha, pegawai di Disbudpar membuat anyaman ketupat dari daun kelapa. “Ini juga untuk melestarikan tradisi masyarakat Melayu dalam menyambut Hari Raya Iduladha 1441 H,” jelasnya.

Dalam adat Melayu, ketupat menjadi satu hidangan wajib pada hari raya. “Di sela-sela waktu luang, kami memanfaatkan waktu membuat sarang ketupat sebagai tanda kebahagiaan di Hari Raya Iduladha,” tandasnya.

Di Bucu Kebudayaan, pihaknya akan melatih pegawai untuk menerapkan tradisi Melayu. Harapannya, budaya Melayu tetap lestari. Bucu Kebudayaan merupakan bagian ruang pamer di kantor Disbudpar, yang dirancang dengan nuansa Melayu. Dinding ruangan dihiasi kain tabir warna khas Melayu warna merah, hijau, dan kuning. Kemudian terdapat lukisan cogan, dan dipajang alat musik tradisional Melayu. “Kami ingin memajukan budaya Melayu, memajukan pariwisata di Kota Batam sehingga tradisi ini tetap lestari dan para generasi muda dapat merasakannya,” jelas Ardi. (Ant)

Lihat juga...