Celana Cingkrang

OLEH BUSTAMI RAHMAN

BAGAIMANAKAH membijaki pandangan terhadap orang yang bercelana cingkrang? Dan sebaliknya, bagaimanakah membijaki pandangan orang yang bercelana cingkrang terhadap orang yang tidak bercelana cingkrang?

Marilah kita melihat secara ‘lebih adil’ dari sudut pandang sosiologi (agama). Dalam sosiologi akrab dikenal kata ‘habit’ yaitu artinya kebiasaan. Kalau kita membiasakan sesuatu pada diri kita atau memandang sesuatu secara terus menerus hari demi hari, maka hal itu akan menjadi biasa bagi kita. Dalam ungkapan lama, kita pernah mendengar, alah bisa karena biasa (jika terbiasa lama-lama akan bisa).

Di samping habit atau kebiasaan, sosiologi juga mengajarkan tentang memandang orang lain dari sisi diri sendiri. Sehingga orang itu merupakan cermin dirinya sendiri. Dalam sikap dan perilaku orang Jawa, mirip dengan tepo saliro yakni mengukur orang lain dengan ukuran dirinya sendiri. Dalam sosiologi dikenal konsep self looking glass, yakni berkaca kepada dirinya sendiri.

Kita mungkin agak sinis memandang orang yang memakai celana cingkrang. Demikian pula orang yang bercelana cingkrang itu mungkin sinis memandang Anda yang bercelana biasa. Bagi Anda yang bercelana biasa mungkin pula memandang yang bercelana cingkrang sebagai golongan ‘ekstrem’. Bahkan curiga jangan-jangan dari kelompok ‘teroris’. Sebaliknya pula, orang yang bercelana cingkrang mungkin memandang orang yang bercelana biasa sebagai kurang ‘bertakwa’ atau tidak bersunah yang benar, atau kurang mengerti agama. Begitulah kira-kira.

Sebenarnya secara sosiologis yang terjadi ini apa dan mengapa demikian? Sosiologi memandang hal ini sebagai suatu yang biasa saja. Suatu proses sosial budaya yang wajar saja. Suatu proses aksi reaksi dalam masyarakat yang biasa terjadi di mana pun dan kapan pun. Masyarakat itu hidup dalam nilai yang dia bentuk sendiri. Jika nilai itu dibutuhkannya, maka nilai itu digunakannya. Sebaliknya jika tidak dibutuhkan pasti tidak akan digunakan. Nilai yang digunakannya itu bisa awet atau bersifat sementara saja tergantung pada kepuasan orang itu. Jika ia puas dengan nilai itu maka akan langgenglah nilai itu dibutuhkannya dan digunakannya. Sehingga kita mengenalnya sebagai membudaya dalam masyarakat.

Nah, orang yang bercelana cingkrang demikian pula. Pasti ada latar belakang kebutuhannya. Saya mengamati dan mensurvei kecil-kecilan terhadap orang yang bercelana cingkrang, memperoleh pandangan mereka sebagai berikut. Pertama, mereka menganggap itu sunah. Kedua, mereka menganggap itu praktis. Yang manakah antara sunah dan praktis yang paling dominan, masih bersifat variabel. Mungkin sekali ‘sunah’ juga dikenakan kepada simbol yang lain seperti memelihara janggut dan lain sebagainya.

Menurut pengamatan ini pula (survei dan self looking glass),  tidak mudah untuk memutuskan bercelana cingkrang itu. Pertama karena pandangan orang terhadap mereka yang dianggap ekstrem itu. Juga yang lebih berat menurut mereka adalah menanggung beban ‘sunah’, karena orang yang bercelana cingkrang mestilah dipandang juga sebagai muslim yang seharusnya bersikap dan berkelakuan baik, salat tepat waktu, suka ke masjid dan lain sebagainya. Tentu juga tidak memungkinkan bagi mereka yang mengemban sunah itu untuk pergi plesir ke tempat-tempat maksiat, berjudi dan minum minuman keras dan lain sebagainya.

Bagaimanakah pandangan sampel orang bercelana cingkrang terhadap orang muslim yang tidak bercelana cingkrang? Ternyata mereka tidak menaruh perhatian khusus dan menganggapnya itu sebagai pilihan setiap orang. Bagaimana pula pandangan orang muslim yang tidak bercelana cingkrang terhadap saudaranya yang bercelana cingkrang?

Pada awalnya mereka merasa aneh, tetapi lama kelamaan kebiasaan bercelana cingkrang menjadi pandangan biasa. Bahkan beberapa pandangan mengatakan boleh juga ditiru untuk memendekkan celana dalam makna praktis, tidak dalam makna yang religius. Dengan sedikit pendek ukuran celana akan lebih memudahkan untuk berwudhu dan sedikit aman di kala jalanan basah karena hujan.

Jadi kita melihat proses sosial budaya ini akan berlangsung wajar seperti itu. Tidak usah terlalu ‘panik’ dengan perubahan sosial budaya, karena proses itu terus berjalan dan akan menemui titik equilibriumnya sendiri sampai kita kiamat kelak.

Cingkrang atau tidak cingkrang, berjanggut atau tidak berjanggut, mereka itu saudara kita sendiri. Yang kita lihat bukan pada pakaian atau janggutnya sebagai simbol. Yang kita nilai adalah iman dan amal sholehnya, karena itulah orang yg sebaik-baik mahluk.

“Innal ladzi na ‘aamanu wa ‘amilushaalihaati ulaa ika hum khairul bariyyah.”

“Sesungguhnya, orang yang beriman dan beramal sholeh, mereka itulah sebaik-baik makhluk”. (QS Al Bayyinah: 7). ***

Prof. Dr. Bustami Rahman, M.Sc, Pakar Sosiologi

Lihat juga...