Dampak Corona Pendapatan PDAM Sikka, Turun

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

MAUMERE – Semenjak merebaknya pandemi Corona di Kabupaten Sikka, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), yang puncaknya pertengahan Maret 2020 lalu, pendapatan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Sikka menurun drastis.

Penurunan pendapatan terjadi sejak bulan Februari hingga April 2020 dan mulai stabil di bulan Mei 2020 akibat aktivitas perekonomian mulai berjalan normal dan masyarakat mulai berani ke luar rumah.

“Penurunan pendapatan terjadi akibat masyarakat takut ke luar rumah. Belum lagi adanya imbauan pemerintah agar masyarakat beraktivitas dari rumah,” kata Direktur PDAM Kabupaten Sikka, NTT, Frans Laka, Jumat (24/7/2020).

Kantor PDAM Kabupaten Sikka, NTT yang merupakan perusahaan milik Pemerintah Kabupaten Sikka saat diabadikan, Jumat (24/7/2020). Foto: Ebed de Rosary

Frans mengatakan, pada bulan tersebut pembayaran rekening air hanya bisa dilakukan di loket pembayaran di kantor PDAM Sikka. Selama rentang waktu tersebut, perusahaan pemerintah Kabupaten Sikka mengalami defisit pendapatan hingga 52 persen.

Sebelum merebaknya wabah Corona, dalam sebulan kata Frans, pendapatan PDAM Sikka berkisar antara Rp750 juta hingga Rp800 juta. Selama 3 bulan tersebut sambungnya, perolehan pendapatan turun mencapai Rp200 juta dari total 14 ribu pelanggan yang aktif.

“Pendapatan kami mulai normal sejak bulan Mei lalu sehingga kami bisa membayar gaji karyawan dan biaya operasional. Jumlah karyawan kami 106 orang dan butuh biaya sekitar Rp900 juta per bulan untuk membayar gaji dan biaya operasional,” terangnya.

Frans menambahkan, pemerintah Kabupaten Sikka membantu biaya rekening air bagi pelanggan berpenghasilan rendah selama 3 bulan. Total pelanggan kurang mampu sebutnya sebanyak 10 ribu pelanggan dengan pembayaran sekitar Rp300 juta.

“Pelanggan kita 17 ribu lebih tapi yang aktif hanya 14 ribu lebih. Dari jumlah tersebut, yang membayar rutin per bulannya baru sekitar 67 persen saja sementara sisanya menunggak,” ujarnya.

Sementara itu, Bupati Sikka, Fransiskus Roberto Diogo, mengatakan, pemerintah menanggung biaya rekening air bagi pelanggan kurang mampu yang setiap bulannya membayar tagihan di bawah Rp50 ribu.

Pemerintah Kabupaten Sikka kata Robi, sapaannya, mempergunakan anggaran dari dana tak terduga untuk membayar rekening air ini. Hal ini terjadi karena item kegiatan ini belum termasuk dalam usulan anggaran mendahului perubahan yang sudah disetujui bersama DPRD Sikka.

“Pemerintah masih memiliki anggaran dari dana tanggap darurat sebesar Rp15 miliar. Dana ini bisa dipergunakan untuk membayar tunggakan rekening air dari masyarakat yang kurang mampu,” ungkapnya.

Lihat juga...