Dapur Komunal di Cilongok Diharap Jadi Stabilitator Harga Gula

Editor: Makmun Hidayat

PURWOKERTO — Keberadaan Dapur Komunal binaan Yayasan Damandiri yang mengolah gula kristal dan gula kelapa diharapkan mampu menjadi stabilisator harga gula. Mengingat selama ini para perajin gula kristal maupun gula kelapa di Kecamatan Cilongok, Kabupaten Banyumas masih kerap dipermainkan rentenir soal harga gula.

Camat Cilongok, Roni Hidayat mengatakan, jumlah perajin gula di Kecamatan Cilongok cukup banyak, mulai dari penderes hingga yang melakukan pengolahan nira menjadi menjadi gula kristal. Namun, sejak dulu sampai sekarang, para penderes tidak pernah menikmati harga maksimal saat panen.

“Kalau pabrik komunal menampung hasil produksi gula para petani dalam jumlah banyak dan memberikan harga yang stabil, maka nasib petani akan tertolong. Dan diharapkan pabrik pengolahan gula ini bisa menstabilkan harga saat panen,” katanya, Kamis (2/7/2020).

Dari data Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Dinperindag) Kabupaten Banyumas, Kecamatan Cilongok merupakan salah satu sentra penghasil gula kelapa terbesar di Banyumas. Jumlah penderesnya mencapai 6.404 orang, dengan jumlah produksi gula kelapa mencapai 45.234 kilogram per hari.

Gula kelapa merupakan produk unggulan di Kabupaten Banyumas. Pengolahan gula kelapa ini mencapai 74 persen dari total Industri Kecil Menengah (IKM) di Kabupaten Banyumas.

“Produksi gula kelapa ini sebagian besar merupakan turun-temurun, seperti profesi penderes. Penderes masih menggunakan cara-cara tradisional dalam melakukan kerjanya,” jelas Roni.

Karenanya, selaku camat Cilongok, Roni berharap, pihak Yayasan Damandiri bisa memaksimalkan pabrik pengolahan gula kelapa yang gula kristal yang sudah dirintisnya. Terlebih jika pemasarannya bisa menembus pasar ekspor, maka akan banyak petani penderes di Cilongok yang tertolong.

Sementara itu, salah satu penderes Suwarno mengatakan, mendekati musim kemarau seperti sekarang ini yang dikhawatirkan para penderes adalah turunnya produksi nira. Karena, pada saat kemarau panjang, manggar atau bunga pohon kelapa yang biasa disadap niranya banyak yang rontok. Sehingga otomatis produksi nira di pohon juga menurun.

“Pohon kelapa memang tahan terhadap kekeringan, namun niranya yang seringkali rontok, jika musim kemarau terlalu lama,” tuturnya.

Dalam satu hari para penderes bisa naik pohon kelapa hingga 30 pohon lebih untuk mengambil nira. Menurut Suwarto, dalam situasi normal, dari 25 pohon kelapa bisa diperoleh nira sekitar 8 kilogram. Namun, jika musim kemarau, hasil nira biasanya menurun dratis, hanya pada kisaran 2-3 kilogram untuk 25 pohon.

Lihat juga...