Dibayangi Kasus Corona, IHSG Berpotensi Terkoreksi Sepekan ke Depan

JAKARTA — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada sepekan depan berpotensi terkoreksi dibayangi kekhawatiran terus meningkatnya kasus baru COVID-19.

“IHSG kami perkirakan berpeluang konsolidasi melemah dengan support di level 4.885 sampai 4.712 dan resistance di level 5.000 sampai 5.139,” kata Direktur Anugerah Mega Investama Hans Kwee di Jakarta, Minggu.

Menurut Hans, IHSG pekan depan diperkirakan akan dipengaruhi sejumlah sentimen yaitu indeks Dow Jones, S&P 500, dan Nasdaq yang menutup kuartal kedua 2020 dengan kenaikan dan termasuk rekor kenaikan tertinggi. Hal itu terjadi ditengah pandemi COVID-19 yang masih terus naik.

Sentimen lainnya, terdapat perbaikan data tenaga kerja di Amerika Serikat seiring pelonggaran lockdown yang dilakukan.

“Namun pelaku pasar mulai khawatir kenaikan kasus virus Corona baru di AS dapat menghapus kenaikan lapangan kerja pada musim panas ini,” ujar Hans.

Hans menuturkan, lonjakan kasus COVID-19 membayangi pembukaan ekonomi. Pelaku pasar perlu memperhatikan pernyataan Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Tedros Adhanom Ghebreyesus, bahwa yang terburuk belum datang dalam kasus pandemi COVID-19.

Beberapa Negara bagian AS melakukan penundaan pembukaan ekonomi akibat kenaikan kasus COVID-19 yang meningkat dan menimbulkan kekhawatiran gangguan ekonomi.

Sementara itu, perkembangan vaksin COVID-19 akan menjadi sentimen positif bagi pasar.

Pelaku pasar juga akan memperhatikan potensi perang dagang AS dan China menyusul lebih dari 75 anggota Kongres AS yang mengirim surat mendesak Presiden Donald Trump untuk mengambil keputusan resmi terhadap China akibat kekejaman yang terjadi atas kaum Muslim Uighur.

“Langkah Trump dan respon pemerintah China akan mempengaruhi pergerakan pasar,” kata Hans.

Di sisi lain, aktivitas bisnis China membaik terutama akibat permintaan dalam negeri yang membaik di tengah permintaan luar negeri yang lemah. Hal tersebut juga menjadi sentimen positif pasar.

Dari domestik, pasar Indonesia diwarnai sentimen positif data ekonomi, tetapi perpanjangan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) transisi, sebenarnya menjadi indikasi bahwa Indonesia belum mampu memenuhi aturan WHO untuk pelonggaran PSBB seperti di Negara lain. Masalah kesehatan dinilai menjadi kendala utama ekonomi Indonesia. [Ant]

Lihat juga...