Dokter Dituntut Kreatif Edukasi di Tengah Masa Adaptasi

Dokter Kecantikan, Sonia Wibisono, saat dialog di Gedung BNPB, Jakarta, Sabtu (11/7/2020). -Foto: M Hajoran

JAKARTA – Pada masa adaptasi kebiasaan baru aman Covid-19, semua pihak wajib menerapkan protokol kesehatan. Hal demikian melahirkan perubahan perilaku dan gaya hidup masyarakat. Pun demikian dengan dokter, dituntut untuk lebih kreatif dalam mengemas cara penyampaian edukasi kepada masyarakat.

“Kalau dulu kita memberikan edukasi langsung bertemu dengan masyarakat, sekarang kita memanfaatkan ruang digital untuk menjadi sarana mengedukasi masyarakat,” kata dokter kecantikan, Sonia Wibisono, saat dialog di Gedung BNPB, Jakarta, Sabtu (11/7/2020).

Sonia yang juga dikenal sebagai public figure, mengaku dirinya tidak ke luar rumah, kecuali jika ada hal penting yang harus dikerjakan. Sehingga pemberian edukasi kepada masyarakat melalui ruang digital harus dilakukan di rumah dengan proses produksi secara mandiri dan kreatif.

Kegiatan shooting video, sebutnya, juga harus di rumah dengan mempersiapkan kamera dan lampu-lampu secara mandiri serta pengemasannya harus kreatif.

“Bisa juga langsung shoot dengan handphone, nanti dari media yang bekerja sama dengan kita yang akan mengedit videonya. Keharusan dalam menerapkan gaya hidup bersih dan sehat, mengedukasi hal tersebut melalui media sosial bersama keluarga di rumah, agar edukasi yang diberikan memang sesuai dengan yang saat ini masyarakat lakukan,” ungkapnya.

Lanjut Sonita, seperti kegiatan mencuci tangan bersama anak, hal ini juga bisa menjadi ajakan bagi orang tua untuk mulai mengajarkan gaya hidup bersih dan sehat kepada anak sejak dini.

Pada kesempatan yang sama, edukasi melalui ruang digital juga diterapkan oleh Anggota Junior Doctors Indonesia, Vito Anggarino Damay, dalam selang aktivitas pekerjaannya sebagai dokter jantung. Menurutnya, jika sudah selesai jam praktik di rumah sakit, dirinya menyediakan waktu untuk memberikan edukasi.

“Seperti Sonia, kita bisa memberikan edukasi dengan mengundang sesama dokter secara virtual melalui aplikasi ruang digital, sehingga walaupun masyarakat tidak tatap muka langsung dengan dokter, tapi kita bisa menjangkau mereka melalui cara ini,” ujarnya.

Vito juga menyebutkan, dalam memberikan edukasi pada masa adaptasi kebiasaan baru, dibutuhkan kreativitas dan bukan berarti menggurui. Namun, hal itu dilakukan demi kepentingan bersama agar bisa menjaga hidup sehat.

“Saat ini memang harus lebih kreatif. Supaya kita kesannya bukan menggurui, tapi kita bersama-sama melakukan ini (edukasi) untuk kepentingan bersama. Dengan begitu, masyarakat dapat pengertian tanpa merasa kita menggurui mereka,” ungkapnya.

Vito mengaku kerap kali ditanya oleh para pasien penderita penyakit jantung melalui media sosial. Penyakit jantung menjadi salah satu penyakit penyerta atau komorbid yang memiliki potensi yang cukup besar terjangkit Covid-19.

“Tentu banyak sekali pertanyaan dari mereka (penderita penyakit jantung), jika dijawab satu per satu, informasinya tidak ketahui oleh banyak orang. Untuk itu, lebih baik saya membuat video untuk menjawab isu-isu dan kekhawatiran mereka, sehingga informasinya dapat tersebar lebih luas dan membangun trust dalam menghadapi pandemi ini bersama-sama,” tutupnya. (Ant)

Lihat juga...