Forum Anak Sikka Minta Pemerintah Bantu Pengembangan Hingga Desa

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

MAUMERE — Berada di bawah payung Forum Anak Indonesia, Forum Anak Sikka (FAS) di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) meminta pemerintah memfasilitasi terbentuknya kepengurusan hingga ke tingkat desa.

Ketua Forum Anak Sikka (FAS) provinsi NTT masa bakti 2019-2021 Johanis Almendo Darmapan saat ditemui, Kamis (16/7/2020). Foto : Ebed de Rosary

“Setelah memfasilitasi terbentuknya kepengurusan Forum Anak Sikka di tingkat kabupaten yang ditetapkan melalui Keputusan Bupati Sikka, Plan pun membentuk FAS di 8 kecamatan,” terang Johanis Almendo Darmapan, ketua Forum Anak Sikka (FAS), Kamis (16/7/2020).

Forum Anak Sikka (FAS) di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) terbentuk sejak tahun 2004 lewat pendampingan LSM Plan Internasional yang saat itu masih bergerak di Sikka.

Anggota FAS terdiri dari para pelajar SMA yang ada di Kota Maumere dan kecamatan lainnya di Kabupaten Sikka dimana saat itu seluruh kegiatannya difasilitasi oleh Plan Kabupaten Sikka.

Saat Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama DPRD Sikka Almendo meminta DPRD agar bisa mendorong pemerintah kabupaten Sikka untuk terlibat dalam mengembangkan FAS hingga ke tingkat desa.

Ketua FAS masa bakti 2019-2021 ini mengatakan, dari 160 desa dan kelurahan di 21 kecamatan yang ada di Kabupaten Sikka, hingga saat ini baru terbentuk di 11 kecamatan serta 73 desa.

“Kami mengharapkan agar DPRD Sikka bisa membantu mendorong pemerintah untuk terlibat aktif dalam membentuk FAS di kecamatan dan desa yang belum ada wadah ini,” pintanya.

Sementara itu, mantan ketua FAS masa bakti 2017-2019, Paula Theresa Putri Jeremi Silewe mengharapkan agar kabupaten Sikka bisa menjadi kabupaten layak anak sehingga terpenuhnya seluruh hak anak.

Paula menyebutkan, saat ini masih terdapat sekitar 14,7 persen atau sebanyak 15.693 anak di Kabupaten Sikka yang belum memiliki Akte Kelahiran. Selain itu dirinya menyoroti masih tingginya angka stunting di daerah ini.

“Gizi buruk dan gizi kurang juga masih tinggi di daerah ini serta angka Demam Berdarah dengue (DBD) yang mana korban paling banyak adalah anak-anak. Kegiatan pembelajaran selama pandemi Corona belum efektif serta kekerasan terhadap anak di Sikka yang masih cukup tinggi,” ungkapnya.

Sedangkan Duta Anak Sikka Grace Imanuelasari Derio mengharapkan DPRD Sikka menindaklanjuti beberapa rekomendasi dari Forum Anak Sikka yakni, percepatan Sikka menjadi Kabupaten Layak Anak (KLA).

Juga kata Grace, perlu adanya dukungan kebijakan terkait KLA dari tingkat kabupaten sampai desa melalui Perda KLA dan Perdes. Selain itu perlu pembentukan Forum Anak Desa (Forades) di setiap desa,.

“Perlu percepatan kepemilikan akta lahir anak dan KIA, stop pernikahan dini, perlengkapi sarana dan prasarana di tingkat desa serta pengawasan terhadap sekolah ramah anak, “ harapnya.

Grace juga meminta agar dilakukan optimalisasi kawasan tanpa rokok, stop kekerasan terhadap anak serta pemenuhan hak pendidikan anak di masa pandemi Covid-19.

Lihat juga...