Gaji Guru Anak Berkebutuhan Khusus di Sikka, Minim

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

MAUMERE – Sebagai sebuah sekolah yang menampung anak-anak berkebutuhan khusus, PAUD Karya Ilahi di Kelurahan Waioti Kecamatan Alok Timur, Kota Maumere, Kabupaten Sikka, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) hingga saat ini tetap kesulitan membayar gaji guru.

Untuk membayar gaji 10 orang guru honor di sekolah ini, pihak sekolah mengandalkan sumbangan dana dari orang tua dan berbagai pihak yang peduli agar sekolah anak berkebutuhan khusus ini tetap berjalan.

“Selama 11 tahun berdiri kami baru dua kali mendapat bantuan dana dari pemerintah pusat lewat dana APBN serta pemerintah kabupaten Sikka sebanyak 2 kali,” ungkap Ursula Maria, pendiri PAUD Karya Ilahi di Kelurahan Waioti, Kecamatan Alok, Kota Maumere, Kabupaten Sikka, NTT, Selasa (7/7/2020).

Pendiri Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) karya Ilahi di Kota Maumere, Kabupaten Sikka, NTT, Ursula Maria, saat ditemui di sekolahnya, Selasa (7/7/2020). Foto: Ebed de Rosary

Pihak sekolah kata Ursula, mengadakan privat bagi anak-anak berkebutuhan khusus yang orang tuanya mampu dan dipungut biaya Rp600 ribu sebulan sehingga bisa membayar gaji guru di sekolah ini.

Dirinya pun saat ditanyai mengatakan, tidak bisa memberi honor apalagi gaji kepada guru karena jumlah yang diterima juga kadang bervariasi, tergantung sumbangan dana dari orang tua murid.

“Jumlah murid di sekolah kami 30 orang berumur 2 tahun sampai 13 tahun, dan ada yang orang tuanya tidak mampu sehingga kami bebaskan membayar biaya sekolah. Jadi sistem subsidi silang dimana orang tua yang mampu membiayai yang tidak mampu,” ungkapnya.

Selama 11 tahun berkarya ucap Ursula, baru 5 tahun guru diberi insentif saja sehingga pihaknya menyampaikan kepada orang tua yang mampu untuk menyisihkan dana membiayai gaji guru.

Ia pun mengaku, sampai saat ini tidak mau membuat proposal untuk meminta bantuan dana karena terkesan dirinya menjual anak-anak berkebutuhan khusus untuk mendapatkan dana.

Bila ada pihak lain yang ingin membantu dan mencari dana maka dirinya mempersilakan saja dan tidak mau mengemis dana ke sana-ke mari. Lebih memilih mencari dana dengan cara menjual kalender sekolah dan lainnya.

“Maka ada guru yang hanya setahun dan dua tahun mengajar lalu berhenti. Bahkan saya juga kasihan dan meminta guru-guru lama mengundurkan diri kalau memang ingin bekerja di tempat lain. Tetapi mereka tetap setia mengajar di sini,” ucapnya.

Ada dua guru kata Ursula, yang bertahan selama 6 tahun dan ada yang sudah 5 tahun. Keduanya paling lama mengabdikan diri di sekolah ini. Ia bersyukur masih ada guru yang mau bertahan mengajar di sekolah ini meskipun pendapatan yang diterima sangat minim.

Sekolah ini pun sebutnya, tidak ada libur semester kecuali hari Sabtu dan Minggu serta tanggal merah baru libur. Kegiatan belajar mengajar sejak hari Senin sampai Jumat dan hari Sabtu dilakukan evaluasi.

“Saya tetap optimis sekolah ini bisa terus berjalan karena banyak tangan yang memberikan pertolongan meskipun kami tidak memintanya. Kami juga saat pandemi Corona dapat bantuan cairan pencuci tangan, masker dan vitamin dari seorang donatur di Bandung Provinsi Jawa Barat,” ungkapnya.

Maria Sika Susanti, salah seorang guru yang telah mengajar di sekolah ini selama 3 tahun pun mengaku, tetap senang dan bersemangat mengajar di sekolah ini meskipun pendapatan yang diterima sangat minim.

Santi sapaannya, mengaku, sejak masih kuliah di Universitas Nusa Nipa (Unipa) Maumere tahun 2018 sudah mengajar di sekolah ini dan setelah wisuda sarjana strata satu Psikologi pun, dia tetap mengajar.

“Saya senang dengan anak berkebutuhan khusus sebab waktu kuliah di Unipa Maumere juga mengambil jurusan Psikologi. Saya mengajar sehari satu orang dan belum berpikir untuk mencari sekolah lain atau bekerja di tempat lain,” ungkapnya.

Lihat juga...