Gobak Sodor Didik Kebersamaan dan Interaksi Sosial

Editor: Koko Triarko

SEMARANG – Mirza, tengah bersiap mengganggu lawan yang ada di depannya. Tujuannya satu, agar kawan satu tim, Yasoba, bisa melewati penjagaan. Sesekali dirinya menjulurkan tangan, untuk menarik perhatian lawan yang berjaga. Harapannya pun terkabul, saat lawan penjaga berhasil terpancing, Yasoba pun bisa melewati penjagaan dan kembali ke titik awal.

Sorak-sorai pun terdengar, diikuti perubahan skor permainan. Mengandalkan kekompakan dan kerja sama antaranggota, tim yang dikomandoi Mirza pun berhasil memenangkan permain gobak sodor.

“Tadi kita memang berbagi tugas, ada yang memancing lawan agar maju bergerak, sehingga anggota yang lain bisa melewati. Untungnya lawan terpancing, jadi kita bisa menang,” papar Mirza, di sela permainan gobak sodor di depan rumah miliknya di Semarang, Minggu (26/7/2020).

Mirza (kiri) bersama tim, saat ditemui usai permainan di Semarang, Minggu (26/7/2020). –Foto: Arixc Ardana

Dirinya pun mengaku senang bisa bermain gobak sodor. Selain menyenangkan, juga bisa mengasah kekompakan dan kepemimpinan.

“Jadi sebelum main ada strateginya, peran masing-masing anggota tim. Jadi, tidak asal main saja,” jelasnya.

Sementara, tim lawan yang dikomandani Yedija, mengakui kekalahan dalam permainan tersebut. Hal tersebut disebabkan anggota timnya sudah mulai kelelahan.

“Sudah capek, soalnya tadi lari-lari terus. Tapi tidak apa-apa, yang penting permainannya seru, sekaligus bisa olah raga,” terang siswa kelas III SMP tersebut.

Lalu apa itu gobak sodor? Pada dasarnya, permainan tersebut mengharuskan pemain bisa melewati daerah penjagaan lawan. Daerah penjagaan tersebut berupa lapangan persegi panjang, yang dibagi minimal 4 petak berbentuk bujur sangkar.

“Tadi kita buat lapangan permainannya pakai kapur tulis. Kita buat kotak-kotak, tinggal ditarik garis. Jadi, mudah membuatnya,” lanjutnya.

Selama permainan, lawan akan mencoba menghentikan pemain. Mereka yang tersentuh oleh lawan dinyatakan keluar, dan permainan berganti. Tim yang keluar tersebut, akan berganti menjadi lawan penjaga.

Sementara, pemain dinyatakan mendapat poin, jika mampu melewati penjagaan dan kembali ke titik awal.

Di satu sisi, permainan gobak sodor yang mereka mainkan tersebut, kini perlahan mulai dilupakan, khususnya oleh para generasi milenial. Di tengah kemajuan zaman, dengan keberagaman permainan berbasis teknologi digital, permainan tradisional anak seakan memang tersisihkan.

Terpisah, Dekan Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) UPGRIS, sekaligus pengamat permainan tradisional, Muniroh Munawar, memaparkan, dalam permainan gobak sodor, kelincahan dan ketangkasan sangat dibutuhkan untuk memenangkan permainan tersebut.

“Gobak sodor,dan beragam permainan tradisional anak lainnya, seperti egrang bathok, egrang bambu, dakon, gasing, dan bakiak, saat ini memang mulai terlupakan. Untuk itu, kita sebagai akademisi juga terus menjaga, agar beragam permainan tradisonal ini bisa tetap dilestarikan,” terangnya.

Peran kampus tersebut ditunjukkan dengan program Dokar Bobo atau Dolanan Karo Bocah-Bocah, yang digagas FIP UPGRIS, dengan mengajak dan memperkenalkan beragam permainan tradisional tersebut kepada anak-anak.

“Misalnya lewat program KKN, mahasiswa kita melakukan program pengenalan dokar bobo di tingkat Paud, TK, SD hingga SMP,” jelasnya.

Muniroh menjelaskan, permainan tradisional banyak memberikan aspek gerakan, sehingga bisa membuat anak lebih aktif. Selain itu, anak-anak bisa mengembangkan kemampuannya dalam berinteraksi sosial.

“Karena memang kebanyakan permainan tradisional dilakukan secara bersama-sama, sehingga rasa kebersamaan bisa terjalin,” pungkasnya.

Lihat juga...