Guru: Sistem Belajar Daring Memiliki Plus Minus

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

Mukaramah Koordinator Kurikulum MIN 6 Jembrana saat ditemui, Kamis (30/7/2020).-Foto: Sultan Anshori

JEMBRANA — Penerapan sistem pembelajaran jarak jauh oleh pemerintah terus mendapat berbagai respon di tengah masyarakat. Tidak hanya datang dari wali murid, para guru pun ikut memberikan pendapatnya.

Mukaramah, Koordator Kurikulum MIN 6 Jembrana menyebutkan, menyikapi sistem pelajaran daring harus dilihat secara menyeluruh. Artinya, ada dampak positif dan negatif dari kebijakan pemerintah pusat ini bagi guru.

Dikatakan, dampak negatifnya adalah jam kerja tidak bisa ditentukan karena siswa mengerjakan menyesuaikan dengan waktu luang orang tua. Kemudian, dampak positifnya yaitu guru bisa lebih dekat dengan keluarga karena bekerja dari rumah.

“Jadi semua kebijakan dari pusat pasti ada sisi positif dan negatifnya. Tergantung bagaimana kita menyikapi dan menjalaninya,” ujarnya saat ditemui Kamis, (30/7/2020).

Tidak ada tambahan pelajaran selama proses belajar daring ini. Pihaknya tetap mengacu kepada pembelajaran yg di terapkan dalam kurikulum darurat tanpa memberatkan siswa. Meskipun begitu, setiap guru dituntut harus mampu mendesain pembelajaran yang lebih menarik melalui teknologi informatika.

Misalnya melalui sebuah aplikasi yang sudah disediakan oleh kementerian agama yaitu E-learning madrasah. Karena, pembelajaran daring dimasa pandemi merupakan satu-satunya sistem yg paling pas digunakan, karena dengan cara ini kita akan mampu meminimalisir penyebaran virus Covid19 yang hingga saat ini masih terus berlangsung.

“Kami selama empat bulan proses belajar daring ini mendesain pembelajaran yang simpel dan menarik bagi siswa, dan memberikan sistem pembelajaran luring bagi siswa yang tidak memiliki fasilitas smartphone dan laptop. Diketahui, dari 464 siswa, yang tidak memiliki fasilitas kurang lebih 20 persen,” imbuhnya.

Terkait keluhan orang tua siswa, diakui pihaknya sudah mendapatkannya. Misalnya mereka merasa kerepotan dalam membagi waktu, terutama yang memiliki anak sekolah lebih dari satu, kuota internet bagi wali siswa yang memiliki keterbatasan Ekonomi.

“Oleh karena itu, saya berharap semoga masa pandemi ini cepat berlalu sehingga kita bisa melaksanakan pembelajaran langsung, bisa melihat senyum, tawa canda, kenakalan, kelucuan siswa, itu merupakan kepuasan tersendiri bagi seorang guru,” katanya.

Sementara itu, berkaitan dengan keterbatasan fasilitas belajar mengajar daring bagi siswa yang tidak memiliki fasilitas handphone maupun laptop, Kepala Madrasah MIN 6 Jembrana, Fathurrahman menegaskan, pihaknya memberikan pembelajaran melalui sistem ‘luring’.

“Yaitu dengan cara memberikan tugas mingguan kepada siswa tersebut dengan mengantarnya sendiri atau menggunakan kurir di awal pekan dan mengambil hasil kerja/tugas mingguan siswa tersebut di akhir pekan” tandasnya.

Lihat juga...