Harga Jual Sayuran Organik di Sikka Masih Rendah

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

MAUMERE – Penjualan sayuran di Pasar Alok Maumere, Kabupaten Sikka, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) yang merupakan pasar tradisional terbesar di daerah ini, harganya masih sama antara sayur organik dan non organik.

Pembeli sayuran organik pun belum banyak sehingga para petani belum banyak yang tertarik mengembangkan sayuran organik secara besar-besaran karena takut mengalami kerugian.

“Saya mau bertani organik tetapi pasarnya belum bagus karena peluang gagalnya masih sangat besar,” kata Egedius Laurensius Moat Paji, petani hortikurtura asal Desa Ladogahar Kecamatan Nita Kabupaten Sikka, NTT, Selasa (14/7/2020).

Petani hortikultura di Desa Ladogahar Kecamatan Nita Kabupaten Sikka, NTT, Egedius Laurensius Moat Paji atau Erik saat ditemui di kebunnya, Selasa (14/7/2020). Foto: Ebed de Rosary

Erik sapaannya, menyebutkan, harga jual sayur organik dan non organik di Kabupaten Sikka masih sama dan belum ada perbedaan yang siginifikan.

Dia mencontohkan, kalau harga sayuran non organik Rp5 ribu sedangkan organiknya Rp8 ribu maka dirinya mau mengembangkan sayuran organik.

Sarjana pertanian Universitas Nusa Nipa (Unipa) Maumere ini pun mengaku masih melakukan budidaya tanaman hortikultura menggunakan semi organik.

“Kalau pupuk saya menggunakan bokasi atau pupuk kandang saat awal menanam, namun setelah itu menggunakan pupuk kimia untuk perangsang tanaman serta pestisida kimia pembasmi hama,” terangnya.

Erik menegaskan akan beralih ke pertanian organik apabila produk hortikultura organik sudah banyak dibeli masyarakat dengan harga yang wajar. Dirinya saat ini tidak berani mengambil risiko gagal panen akibat mengembangkan pertanian organik.

Apalagi kata dia, budidaya tanaman hortikultura yang dilakukan dalam skala besar karena menyesuaikan dengan permintaan pasar yang sangat tinggi. Pedagang pengumpul di pasar pun tidak mau membeli produk organik dengan harga yang lebih mahal.

“Kalau skala kecil mungkin bisa organik tapi kalau budidaya dalam skala besar maka akan rugi besar bila hasil produksi semuanya tidak terserap pasar. Makanya sementara kami masih semi organik saja dulu,” tuturnya.

Pengembangan tanaman hortikultura secara besar-besaran kata Erik, membuatnya harus merekrut 4 tenaga kerja dari warga sekitar rumahnya. Dia pun harus membayar per orang Rp50 ribu per hari untuk pengolahan tanah dan pembersihan lahan.

Ada dua saudaranya yang masih duduk di bangku SMA membantu bekerja di kebunnya. Dirinya melihat selama ini ada perubahan dan anak-anak muda di desanya sudah 3 sampai 4 orang mulai menanam hortikultura.

“Anak-anak muda dan orang tua sering datang melihat kebun saya. Kadang saya yang ajak anak muda melihat kebun saya agar bisa membuat mereka tertarik menjadi petani,” terangnya.

Sarjana strata satu Agrobisnis ini mengaku awal terjun bertani hortikultura menggunakan modal sendiri sebesar Rp1 juta. Pemerintah sebutnya, hanya bantu traktor untuk kelompok tani saja sementara modal bertani masih usaha sendiri.

Erik mengaku baru tanam perdana semangka bulan Mei 2020 lalu dimana dulunya sempat tanam melon namun permintaan pasar belum terlalu besar. Menurutnya, semangka permintaan pasarnya besar sebab masyarakat sudah terbiasa mengkonsumsi.

“Saya berharap bisa menjadi contoh bagi orang lain dan semakin banyak anak muda yang terjun ke dunia pertanian. Peluang usahanya sangat besar namun saat ini petani masih berumur di atas 50 tahun,” ungkapnya.

Lelaki 34 tahun ini mengaku ingin memiliki lahan pertanian sendiri dan masih mengumpulkan uang. Bagi dia, kebun merupakan sumber pendapatan dan tempat hiburan sehingga mau tidak mau harus menatanya sebagus mungkin, serapi mungkin agar ia bisa betah di kebun.

Kepada anak muda lainnya Erik berpesan agar jangan malu menjadi petani karena petani bukan pekerjaan yang tidak baik tetapi pekerjaan yang mulia. Dia katakan, harusnya banyak anak muda yang bergerak di pertanian.

“Menjadi petani membuat saya bisa menjadi tuan di tanah sendiri sehingga tidak diperintah orang lain. Saya menikmati menjadi petani sebab penghasilan yang diperoleh juga sangat menjanjikan,” tuturnya.

Anak muda di Desa Ladogahar Kecamatan Nita, Ferdinandus Moat Bajo, mengaku di desanya sudah ada 7 kelompok tani yang mulai terjun budidaya tanaman hortikultura namun memang masih menggunakan semi organik.

Ferdi sapaannya yang juga Direktur BUMDes Wair Puan Desa Ladogahar mengatakan, sedang mempersiapkan pengadaan sarana produksi pertanian seperti benih, pupuk dan lainnya yang dibutuhkan petani hortikultura di desanya.

“Sementara ini kami di BUMDes masih melakukan pengadaan sarana produksi pertanian, karena melihat potensi desa sehingga petani tidak membeli sarana produksi pertanian di Kota Maumere atau di Kota Ende,” pungkasnya.

Lihat juga...