IDEAS : Idul Adha Jadi Puncak Panen bagi Peternak

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

Peneliti Indonesia Development and Proverty Studies (IDEAS), Ahsin Alogari saat webinar, Rabu (15/7/2020). Foto: Sri Sugiarti

JAKARTA — Peneliti Indonesia Development and Proverty Studies (IDEAS), Ahsin Alogari mengatakan, menjelang hari raya Idul Adha, harga hewan kurban mengalami kenaikan setiap tahunnya, begitu pula pada tahun 2020 ini.

“Tren harga hewan kurban jelang Iduladha meningkat dibanding bulan lain. Ketika permintaan tinggi, maka harga juga akan tinggi. Ada selisih perbedaan harga sekitar Rp500 ribu untuk kambing dan sapi Rp1 juta,” ujar Ahsin pada diskusi hasil riset #IDEASTalk ‘Ekonomi Kurban 2020’ yang digelar secara webinar, Rabu (15/7/2020).

Momen Idul Adha bagi peternak menjadi puncak panen, karena ibadah kurban menjadi waktu yang terbaik bagi mereka untuk melepas atau memasarkan hewan ternak peliharaannya.

Menurutnya, meskipun dilihat dari sisi suply hewan kurban banyak harga yang akan turun, namun hal ini tidak berlaku karena faktor pendorongnya hukum pasar.

“Karena harga jual hewan kurban di momen Idul Adha selalu tinggi. Ini hukum pasar,” tukasnya.

Dia menjelaskan, dari hasil penelitian IDEAS diketahui untuk tahun 2018-2019, harga kambing dalam rata-rata di Jawa Tengah dari harga Rp1,5 juta menjadi Rp1,65 juta. Sedangkan untuk sapi potong rata-rata dari Rp15 juta menjadi Rp16 juta.

Pada kesempatan ini, Ahsin mengatakan, peternak sebagai bagian penting dari mata rantai dari usaha pasok, baik komoditas sapi atau kambing.

Masing-masing peternak memiliki karakteristik sendiri sesuai dengan kondisi alam dan sumberdaya lainnya. Sehingga berpengaruh terhadap jenis komoditas dan system on farm (peternakan lepas kandang), dan asupan pakan.

“100 persen hijauan dan kombinasi intensif pakan buatan,” ujarnya.

Peternak di Indonesia tersebar di beberapa sentra wilayah propinsi, kabupaten dan kota. Dengan sebarannya, sentra kambing dan domba di daerah Jawa Barat yaitu Purwakarta, Majalengka, Sukabumi, Cianjur dan Garut.

Jawa Tengah, di daerah Purbalingga, Banjarnegara, Kebumen dan Purworedjo.

Sedangkan sentra ternak sapi tersebar di kawasan Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Nusa Tenggara Barat (NTB) serta Sulawesi Selatan, tepatnya di daerah Sinjai, Bone dan Wajo.

Dari sebaran sentra tersebut, jelasnya lagi, tercatat 99,98 persen dikelola basis peternakan rakyat, dimana 85,6 persen sebagai pemilik usaha skala peternak rakyat (usaha subsisten). 10,6 persen adalah pola bagi hasil.

Positioning peternak menjadi lemah, sehingga dalam mendapatkan margin keuntungan selalu rendah. Karena manfaat ekonomi ternak termasuk kurban dinikmati lebih besar oleh stakeholder rantai pasok lain.

Terkait hal ini, IDEAS meminta agar Lembaga Amil Zakat (LAZ) dan Badan Amil Zakat (BAZ) untuk mengembangkan inovasi pola kemitraan yang baik untuk meningkatkan kesejahteraan peternak dengan membangun sistem agrobisnis yang saling menguntungkan.

“LAZ atau BAZ, dalam pola kemitraan juga harus memberi edukasi kepada peternak untuk mengembangkan usaha ternak dengan baik secara fattening dan branding,” pungkasnya.

Lihat juga...