Indonesia Harus Maksimalkan Potensi Hidrotermal yang Berlimpah

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

Peneliti Geologi Laut Pusat Riset Kelautan (Pusriskel) BRSDMKP-KKP Rainer A Troa saat dihubungi, Minggu (12/7/2020) - Foto Ranny Supusepa

JAKARTA — Sebagai salah satu imbas dari posisi geografis, Indonesia memiliki banyak sumber hidrotermal. Tentu saja potensi ini, jika dikelola dengan manajemen berkelanjutan, bisa memiliki efek besar yang tidak hanya untuk penelitian tapi juga ekonomi.

Peneliti Geologi Laut Pusat Riset Kelautan (Pusriskel) BRSDMKP-KKP Rainer A Troa menyatakan potensi hidrotermal Indonesia terbentang luas sepanjang kawasan barat dan kawasan timur pada sebagian besar pulau-pulau vulkanik, mengikuti jalur penunjaman lempeng atau subduksi.

“Manifestasi hidrotermal muncul di kawasan gunungapi, seakan menjadi berkah kekayaan sumber daya alam non hayati untuk Indonesia, di balik kesulitan akibat bencana gempa atau letusan gunungapi yang sering melanda,” kata Rainer saat dihubungi, Minggu (12/7/2020).

Ia menyatakan lokasi hidrotermal yang ada di darat, hampir semuanya sudah dieksplorasi dan dipetakan.

“Kalau untuk yang di laut, baru beberapa tempat saja. Seperti yang di Pulau Weh, Lampung Selatan, Sulawesi Utara dan Maluku Utara, yang potensial untuk dikembangkan,” ujarnya.

Utamanya, pengembangan hidrotermal ini, menurut Rainer, adalah untuk sumber energi. Yaitu, pengembangan energi baru terbarukan, seperti yang diamanatkan negara dalam rangka mensubstitusi energi fosil untuk mengurangi emisi karbon.

“Pemanfaatan hidrotermal sebagai energi ini merupakan pemanfaatan yang tidak langsung. Artinya, pemanfaatannya harus dieksplotasi dulu dengan bantuan teknologi,” kata Rainer lebih lanjut.

Pemanfaatan lainnya, yaitu secara langsung, dimana pemanfaatan sumber data secara insitu untuk kebutuhan berbagai sektor.

“Misalnya, untuk tujuan wisata. Baik untuk pemandangan maupun untuk tujuan pemandian air panas. Untuk pengobatan alternatif juga bisa. Dan bisa juga untuk memenuhi kebutuhan sektor perikanan,” ucapnya.

Ia menjelaskan manifestasi hidrotermal perairan dangkal (shallow waters) bisa menjadi area budi daya perairan laut (KJA) dengan target mempercepat pertumbuhan beberapa jenis ikan karena kandungan nutrisi hidrotermal yang dibutuhkan ikan tesebut.

“Disamping itu, panas hidrotermal pantai bisa dialirkan untuk kebutuhan sumber panas bagi Fasilitas Pengawetan Hasil Perikanan agar hasil tangkapan nelayan bisa disimpan untuk dijual ketika musim paceklik melaut yang pada gilirannya meningkatkan nilai tambah pendapatan nelayan,” urai Rainer.

Pengawetan Ikan (Fish Drying) dengan pemanfaatan langsung panas hidrotermal, lanjutnya, sudah diterapkan di berbagai negara beriklim dingin di antaranya Eslandia (Iceland).

“Di samping hal diatas, pemanfaatan biota atau habitat yang hidup dalam lingkungan sumber daya non hayati hidrotermal memiliki potensi kandungan zat bioaktif, yang sangat diperlukan sebagai pengganti zat aditif kimiawi yang tidak ramah lingkungan untuk berbagai kepentingan industri, di antaranya industri ekstraksi mineral dan industri pemutihan kertas,” urainya lebih lanjut.

Dengan berbagai manfaat yang terdapat dalam hidrotermal, Rainer menyebutkan hal ini merupakan tantangan bagi semua lini stakeholder, peneliti dan komunitas dalam mengembangkannya agar memiliki nilai kebermanfaatan bagi seluruh masyarakat Indonesia.

“Bukan hanya dari kalangan ahli geologi laut saja. Tapi semua ahli multidisiplin untuk bersama-sama mengembangkan potensi hidrotermal perairan ini, di antaranya dengan Ahli Bioteknologi Laut dan Ahli Farmakologi Laut,” pungkasnya.

Lihat juga...