Inilah Inovasi IKM Lontar Flores Produksi Antiseptik

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

MAUMERE – Industri Kecil dan Menengah (IKM) Lontar Flores memproduksi antiseptik atau cairan pembersih tangan dari bahan Moke (Arak) yang diambil dari Nira pohon lontar.

Industri kecil yang beralamat di Desa Watugong, Kecamatan Alok Timur, Kabupaten Sikka, Provinsi Nusa Tenggara Timur, (NTT) ini memproduksi antiseptik bioetanol dengan kadar alkohol 75 persen sejak bulan Juni 2020.

“Bahan baku tersedia kenapa kita harus mendatangkan produk dari luar daerah,” ujar Stevanus, Ketua IKM Lontar Flores Desa Watugong, Kecamatan Alok Timur, Kabupaten Sikka, NTT, Jumat (3/7/2020).

Stev sapaannya, menyebutkan, keinginan memproduksi antiseptik ini mulai diwujudkan saat masa pandemi Covid-19 dimana harga antiseptik produksi industri besar melonjak drastis.

Selain itu, persediaan di pasar juga berkurang dan sulit diperoleh karena permintaan tinggi sehingga pihaknya mulai memberanikan diri memproduksi antiseptik dari Nira.

“Nira dimasak di tempat penyulingan lalu diuapkan. Tetesan uap tersebut ditampung di wadah dan dimasak hingga 4 kali baru mendapatkan antiseptik dengan kadar 75 persen,” ungkapnya.

Sementara ini, lanjut Stev, pihaknya hanya menggunakan izin industri kecil dan manengah serta belum mendaftar di Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) di Kota Ende atau Kota Kupang.

Meski begitu sebutnya, produknya sudah dijual di Floressa Art Shop di Kota Maumere dengan ukuran 100 mililiter seharga Rp30 ribu per botol. Dia bersyukur produknya mulai digemari pembeli termasuk pemandu wisata yang tertarik menggunakannya.

“Untuk mengurangi bau alkoholnya saya gunakan jeli lidah buaya sebagai pelembut dan penghilang bau. Sebelum wabah Corona juga saya pernah coba membuatnya hanya belum diproduksi dalam jumlah banyak,” ungkapnya.

Kesulitan dalam memproduksi antiseptik secara tradisional sebut Stev, yakni harus sabar karena penyulingannya harus berkali-kali. Selain itu ucapnya, selama proses penyulingan tidak bisa ditinggal karena takut pipa stainlessnya bocor dan menimbulkan kebakaran.

Dirinya pernah menyampaikan ke Dinas Kesehatan Kabupaten Sikka mengenai produk antiseptiknya agar bisa dibeli namun belum ditanggapi.

Ia juga mengakui masih sulit menghilangkan bau alkohol dari Moke atau Arak tetapi sudah berhasil membuatnya lebih lembut.

“Saya memiliki mimpi untuk produksi secara massal dan dijual dalam jumlah banyak. Saat ini pun saya masih memproses pengurusan izin di BPOM Ende sehingga bisa terdaftar,” tuturnya.

Sementara itu, Sonya da Gama, mengakui senang melihat ada produk antiseptik yang diproduksi industri kecil di Desa Watugong, mengingat banyak pohon Tuak atau Lontar di Kabupaten Sikka.

Sonya mengaku, tempat penjualan Floressa Art Shop juga sedang melakukan uji coba mempromosikan atau memasarkan produk ini agar diketahui masyarakat dan sudah banyak respon pembeli.

“Kami sementara memasarkan antiseptik ini agar bisa familiar dan dibeli masyarakat. Ini merupakan sebuah terobosan dari produk lokal memanfaatkan potensi yang ada di daerah ini,” ucapnya.

Lihat juga...